RIAU (RA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Riau menyebut kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut masih terkendali. Selama tiga pekan terakhir, tidak terdeteksi titik panas atau hotspot di Riau.
Kepala Pelaksana BPBDPK Riau, Edy Efrizal, menyampaikan hal itu saat menanggapi persoalan kabut asap yang menjadi sorotan dalam aksi demonstrasi mahasiswa BEM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau (FKIP Unri) di depan Kantor Gubernur Riau.
Menurut Edy, asap yang sempat terlihat di sejumlah wilayah, termasuk Pekanbaru, diduga berasal dari provinsi tetangga. Sementara itu, titik api kecil yang sempat muncul di Riau telah ditangani agar tidak meluas.
"Selama tiga pekan terakhir, Riau dalam kondisi zero hotspot. Kalau ada asap yang terlihat di wilayah Riau, itu diduga merupakan asap kiriman dari provinsi tetangga. Memang sempat ada titik api kecil, tetapi langsung kita padamkan sehingga tidak sampai menjadi penyumbang asap," ujar Edy, Jumat (23/10/2026).
Ia menjelaskan, upaya mitigasi karhutla telah dilakukan sejak awal tahun, terutama di kawasan lahan gambut yang rentan terbakar saat cuaca kering. Riau juga termasuk salah satu dari enam provinsi prioritas dalam pengendalian karhutla.
Meski titik panas terkendali, Edy mengatakan keluhan warga terkait asap dan bau menyengat di Pekanbaru tetap perlu ditelusuri. BPBDPK belum dapat memastikan sumber bau tersebut dan meminta pemeriksaan lebih lanjut oleh Dinas Lingkungan Hidup.
"Untuk bau yang sempat dikeluhkan masyarakat, kita belum bisa memastikan sumbernya. Hal ini perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada Dinas Lingkungan Hidup agar penyebabnya dapat diketahui secara jelas," katanya.
Edy menegaskan, pemerintah tetap melakukan upaya pengendalian untuk mencegah kebakaran meluas dan mengurangi dampaknya terhadap masyarakat.