Pencarian

Podcast Kelupas

45 Tahun GAPKI untuk Negeri: Menguak Sejarah Sawit RI Yang Dulu Tertinggal Malaysia

Rabu, 13 Mei 2026 • 18:05:13 WIB
45 Tahun GAPKI untuk Negeri: Menguak Sejarah Sawit RI Yang Dulu Tertinggal Malaysia
Peluncuran buku '45 Tahun GAPKI untuk Negeri'.

JAKARTA (RA) - Di balik posisi teguhnya Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia hari ini, ada jejak sejarah panjang dan berliku yang belum banyak diketahui publik. Semuanya kini terekam jelas dalam buku bertajuk “45 Tahun GAPKI untuk Negeri”.

Buku ini diluncurkan dalam puncak perayaan HUT ke-45 Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) di Jakarta, Selasa (29/4/2026) lalu. Dewan Pembina GAPKI, Joko Supriyono, secara eksklusif membedah isi buku yang merangkum epik perjalanan industri sawit sejak 1981 hingga era modern saat ini. 

Acara itu turut disaksikan oleh Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, serta deretan pemangku kepentingan industri sawit nasional.

Drama di Balik Layar Penyusunan Buku

Joko Supriyono blak-blakan menyebut bahwa menyusun rekam jejak lebih dari empat dekade ini bukanlah misi yang mudah. Tantangan terbesarnya adalah keterbatasan dokumen arsip sejarah.

"Merangkai sejarah dari tahun 1981 hingga sekarang bukan hal mudah, karena banyak sumber dan dokumen yang sudah tidak lengkap," ungkap Joko.

Untuk memastikan validitas dan keaslian sejarah, tim penyusun harus turun gunung melakukan penelusuran mendalam. Mereka mewawancarai langsung para saksi hidup, yakni para pendiri dan pengurus GAPKI periode pertama, seperti Pak Suwito dan Pak Udayan, demi menjaga agar narasi yang disajikan tetap autentik dan tidak melenceng dari fakta.

Era 80-an: Mengejar Ketertinggalan dari Malaysia

Salah satu fakta menarik yang diungkap dalam buku ini adalah peran krusial tokoh ekonomi legendaris nasional, Prof Sumitro Djojohadikusumo. Di fase awal pembentukan GAPKI, pemikiran beliau sangat memengaruhi dinamika industri minyak goreng dan arah kebijakan ekspor nasional kala itu.

Buku ini juga merekam sebuah ambisi besar di awal tahun 1980-an. Pada masa itu, industri sawit modern Indonesia masih berstatus 'anak bawang' dan tertinggal jauh dari negara tetangga, Malaysia.

"Pada awal 1980-an, produksi kita masih jauh di bawah Malaysia. Namun saat itu, sudah ada tekad kuat dari para pelaku industri untuk mengejar dan bahkan melampaui mereka," cerita Joko.

3 Fase Krusial Transformasi Kelapa Sawit RI

Untuk memudahkan pembaca memahami evolusi industri ini, buku “45 Tahun GAPKI untuk Negeri” membagi perjalanan kelapa sawit Indonesia ke dalam tiga babak utama.

Pertama, Fase Pembangunan Awal (1981–1999): Masa di mana fondasi industri mulai dibangun dari nol, diiringi dengan berbagai penyesuaian kebijakan dan pembukaan lahan.

Kedua, Fase Ekspansi (2000–2015): Era keemasan di mana industri sawit nasional tumbuh pesat, memperluas jangkauan pasar, dan mulai mendominasi peta komoditas global.

Ketiga, Fase Keberlanjutan / Sustainability (2016–2025): Periode paling menantang yang memaksa industri untuk beradaptasi dengan standar lingkungan global dan praktik bisnis yang ramah lingkungan.

Tantangan Berat di Depan Mata

Menurut Joko, fase keberlanjutan saat ini adalah ujian terberat bagi industri sawit. Predikat sebagai eksportir minyak sawit terbesar di dunia rupanya datang dengan konsekuensi yang tak main-main.

"Saat ini kita menghadapi tantangan besar. Dari dalam negeri, kita harus beradaptasi dengan regulasi yang kerap berubah-ubah. Sementara dari luar negeri, kita dihantam oleh isu proteksionisme dan tuntutan sustainability (keberlanjutan) yang semakin ketat," paparnya.

Oleh karena itu, kewaspadaan dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci mutlak agar daya saing sawit Indonesia tidak luntur. 

Lewat kehadiran buku “45 Tahun GAPKI untuk Negeri”, Joko menaruh harapan besar agar karya ini tidak sekadar menjadi pajangan, melainkan menjadi referensi berharga. 

Sebuah kompas bagi pemerintah, pelaku industri, hingga generasi penerus (Gen Z dan Milenial) untuk meracik strategi dan menentukan arah masa depan industri sawit nasional yang lebih gemilang.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, dengan tegas menyebutkan bahwa kelapa sawit nasional bukan sekadar komoditas biasa, melainkan pilar utama yang menopang perekonomian tanah air. 

Bagi GAPKI, usia ke-45 ini bukanlah sekadar penanda waktu atau ajang perayaan semata. Eddy menyebutnya sebagai momentum refleksi dari sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan dinamika, ujian, dan pembelajaran.

"Momentum 45 tahun ini memperkuat peran GAPKI sebagai mitra strategis pemerintah," ujar Eddy.

Ketangguhan kelapa sawit memang tak perlu diragukan lagi. Di saat banyak sektor tumbang terkena badai krisis global, industri sawit justru tampil sebagai 'pahlawan' tanpa tanda jasa.

"Industri sawit terbukti menjadi penyelamat ekonomi Indonesia di berbagai krisis, dan hingga kini tetap mampu bertahan serta memberikan kontribusi devisa yang besar," tegasnya.

3 Bukti Nyata Kontribusi Sawit untuk Negeri

Selama lebih dari 40 tahun, kehadiran kelapa sawit telah memberikan multiplier effect (efek ganda) yang luar biasa bagi kemajuan negara. Berikut adalah wujud nyata kontribusi sawit bagi perekonomian nasional. 

Pertama, menciptakan Jutaan Lapangan Kerja: Sektor hulu hingga hilir kelapa sawit telah menjadi sumber penghidupan utama yang menyerap jutaan tenaga kerja di seluruh pelosok Indonesia.

Kedua, Motor Penggerak Pembangunan Daerah: Kehadiran industri dan perkebunan sawit terbukti ampuh membuka keterisolasian wilayah dan mendorong percepatan pembangunan, khususnya di daerah-daerah pedalaman.

Ketiga, Penyumbang Devisa Raksasa: Di tengah ketidakpastian ekonomi global, ekspor sawit terus menjadi andalan yang memasok devisa besar demi menjaga stabilitas keuangan negara.

Kunci Masa Depan: Sinergi dan Kolaborasi!

Tantangan di pasar global ke depan dipastikan tidak akan semakin mudah. Untuk itu, Eddy Martono menggarisbawahi satu kunci keberhasilan yang tak bisa ditawar: Sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha.

GAPKI memberikan apresiasi penuh atas berbagai kebijakan pro-industri yang telah dikeluarkan pemerintah. Kolaborasi yang solid inilah yang menjadi resep utama untuk menjaga daya saing kelapa sawit Indonesia di tingkat global.

Eddy juga menambahkan bahwa PR (Pekerjaan Rumah) ke depan menuntut kerja sama yang jauh lebih kuat. Peningkatan produktivitas, komitmen pada praktik berkelanjutan (sustainability), dan adanya kepastian hukum adalah hal mutlak untuk menjaga iklim investasi di sektor sawit tetap sehat dan menarik.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks