Mata Uang Digital Kamboja Capai Hampir Separuh Populasi

Mata Uang Digital Kamboja Capai Hampir Separuh Populasi
Mata uang dolar Amerika. (Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Riauaktual.com - Mata uang digital yang dijalankan bank sentral Kamboja (Bakong) telah digunakan oleh hampir separuh populasi di negara tersebut. Bank sentral berharap ini akan berkontribusi pada pembangunan negara dengan menciptakan sistem keuangan inklusif, di mana orang dapat melakukan transaksi keuangan dasar dengan ponsel pintar.

Di negara berpenduduk sekitar 16,72 juta jiwa tersebut, sekitar 7,9 juta orang menggunakan mata uang digital resmi atau hampir setengah dari seluruh populasi. Jumlah ini di antara mereka yang dijangkau secara tidak langsung melalui aplikasi dari bank-bank mitra. Ada total 6,8 juta transaksi senilai sekitar US$ 2,9 miliar pada November 2021.

Aplikasi Bakong di ponsel pintar dapat digunakan di toko-toko dan untuk mentransfer uang. Orang tidak memerlukan rekening bank untuk mendaftar Bakong, selama mereka memiliki nomor ponsel Kamboja. Pengguna dapat mengirim dana dengan memindai kode QR atau menentukan nomor telepon penerima. Transaksi dapat dilakukan dalam riel Kamboja atau dolar AS.

Menurut bank sentral, aplikasi Bakong memiliki sekitar 270.000 pengguna pada November 2021.

Bank sentral mengatakan telah bermitra dengan bank lokal untuk mengoperasikan dan memperluas penerimaan Bakong.

"Bakong memungkinkan interoperabilitas antara pemain yang berbeda dalam sistem keuangan, membuat pembayaran digital lebih mudah dan lebih efisien," kata Direktur Jenderal Bank Nasional Kamboja Chea Serey pada Rabu (5/1/2022), dilansir dari Nikkei Asia.

Interoperabilitas dalam sistem keuangan ini tidak hanya menciptakan nilai tambah bagi pengguna akhir dalam hal layanan, tetapi juga membantu menjembatani kesenjangan antara bank dan unbanked di pedesaan dan perkotaan, sehingga menciptakan kohesi sosial. "Ini terutama terlihat di antara para pekerja migran dan pelajar yang meninggalkan desa asal mereka untuk bekerja atau belajar di perkotaan dan membutuhkan koneksi finansial dengan keluarga mereka," jelasnya.

Sistem pembayaran nasional berbasis blockchain dari Bank Nasional Kamboja secara resmi diluncurkan pada Oktober 2020 dan diakui sebagai salah satu mata uang digital bank sentral (CBDC) pertama di dunia.

Kamboja diklasifikasikan sebagai negara kurang berkembang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hanya sekitar 22% orang dewasa yang memiliki rekening bank atau pembayaran seluler pada 2017, jauh di bawah angka regional 70% di Asia Timur dan Pasifik, menurut data Bank Dunia.

Itulah salah satu alasan utama bank sentral mengembangkan mata uang digital baru, meluncurkan sistem yang akan memberi semua orang akses ke layanan keuangan yang terjangkau. Bank sentral bekerja dengan perusahaan teknologi rintisan (startup) blockchain Jepang Soramitsu untuk mengembangkan Bakong, yang dinamai dari sebuah kuil kuno di Kamboja.

Selain mempromosikan penggunaan Bakong di dalam negeri, Bank Nasional Kamboja juga bekerja sama dengan lembaga keuangan luar negeri. Pada Agustus 2021, bank sentral dengan bank komersial Malaysia Malayan Banking mendirikan pengiriman uang lintas batas menggunakan Bakong. Strategi ini telah memberi pekerja migran Kamboja di Malaysia cara untuk mengirim uang dengan cepat kepada keluarga.

 

 

Sumber: Investor Daily

Berita Lainnya

View All