Ilustrasi virus Covid-19.

Penjelasan Dokter Paru Soal Long Covid-19, Bukan Karena Virusnya Masih Ada

Jumat, 04 Desember 2020 - 07:22:27 WIB Di Baca : 835 Kali


Riauaktual.com - Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Agus Dwi Susanto membantah kabar yang menyebutkan Long Covid-19 terjadi karena virus Covid-19 masih menetap atau tersisa dalam tubuh.

Sebelumnya, Agus menjelaskan, Long Covid adalah suatu kondisi di mana gejala-gejala muncul pada pasien yang sudah dinyatakan sembuh Covid-19 berdasarkan hasil swabnya yang sudah negatif.

“Gejala itu muncul bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan dan menetap,” katanya dalam talkshow bertema Mewaspadai Efek Jangka Panjang Covid-19, Kamis (3/12) kemarin sebagaimana dikutip dari Pojoksatu.id.

Lebih lanjut, Agus memaparkan, gejala yang muncul sendiri bervariasi. Namun, yang paling banyak yakni gejala kelelahan kronik.

“Gejalanya bervariasi, dari yang paling banyak adalah gejala kelelahan kronik, kemudian gejala sesak napas, napas berat, termasuk juga berdebar-debar yang terkait dengan jantung, nyeri-nyeri sendi, nyeri otot, termasuk juga ada gangguan psikologis, depresi pasca Covid, itu beberapa kriteria yang masuk,” paparnya.

Agus pun memastikan, gejala-gejala yang pada pasien yang sudah dinyatakan sembuh Covid-19 bukan karena virusnya yang masih tersisa atau bahkan menetap. Tapi terkait dampak kelainan anatomi pasca infeksi dari Covid.

“Sebenarnya kalau kita bicara Long Covid ini bukan karena virus yang tersisa, tetapi memang kita sebutnya sequelae, bahasa medis, artinya gejala sisa yang muncul pasca dinyatakan sembuh dan ini bisa terjadi akibat proses ketika sakit menimbulkan kelainan yang menetap secara anatomi yang akhirnya mempengaruhi secara fungsional,” jelasnya.

“Contohnya, kalau saya sebagai dokter paru adalah sering kita temukan pada pasien-pasien Long Covid ini adalah parunya itu ada fibrosis atau kekakuan pada jaringan parut yang sifatnya menetap, bisa dalam dua-tiga bulan. Fibrosis ini yang akhirnya menyebabkan oksigen nggak bisa masuk, keluhan pasiennya napasnya berat. Beberapa pasien kita temukan, laporan antara 20-30 persen penurunan fungsi paru. Akibatnya ini berdampak pada keluhan pernapasan,” tandasnya.





Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @riauaktual dan LIKE Halaman Facebook: RiauAktual.com