Candi Jiwa (foto: insta @wonderful__indonesiaku)

Candi Jiwa dan Bladongan, Di Situs Ini Ditemukan Banyak Jimat

Senin, 03 Agustus 2020 - 07:38:53 WIB Di Baca : 2780 Kali


Riauaktual.com - Ada sebuah candi yang terbuat dari tumpukan batu bata berdiri kokoh di tengah-tengah hamparan sawah yang menghijau. Itulah Candi Jiwa yang terletak di Batujaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, berjarak kira-kira 70 kilometer dari Ibu Kota.

Situs percandian Batujaya berjarak kurang dari 1 kilometer di sebelah timur aliran Sungai Citarum. Luas kompleksnya mencapai 5 kilometer persegi atau 500 hektar yang mencakup wilayah Desa Segaran Kecamatan Batujaya dan Desa Telagajaya Kecamatan Pakisjaya, sekitar 47 kilometer arah barat laut dari pusat kota Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Di areal ini, tak hanya Candi Jiwa, tetapi juga ada Candi Blandongan, masih ada pula situs Candi Damar yang masih berupa batu-batu merah berserakan. Juga masih ada peninggalan purbakala yang tertimbun tanah berbentuk bukit kecil, lengkap dengan pepohonan yang tumbuh lebat di atasnya. Unur juga di keramatkan oleh masyarakat sekitar. Masih banyak unur-unur berukuran cukup besar yang belum digali dan diteliti.

Candi Jiwa merupakan peninggalan kerajaan Tarumanegara, sedangkan bila Candi Blandongan peninggalan Sriwijaya dan Tarumanegara. Jika itu benar bisa dibilang situs batu Jaya adalah situs tertua di pulau Jawa lebih tua dibanding candi-candi lain seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Komplek situs Candi Batujaya pertama kali ditemukan pada 1984 dan mulai ekskavasi pada 1985. Sempat berhenti lama, ekskavasi kemudian dilanjutkan pada 1996 hingga 2001 oleh tim arkeologi fakultas sastra Universitas Indonesia. Awalnya penduduk setempat melaporkan bahwa ada benda-benda purbakala yang ditemukan di area pesawahan tertimbun tanah.

Pengkeramatan ini terkait dengan cerita rakyat yang beredar di sana. Ketika itu, di daerah ini sering mengalami musibah banjir banyak penduduk yang memanfaatkan candi yang ketika masih berupa gundukan tanah, untuk menyelamatkan ternak. Namun, selang beberapa hari binatang tersebut bukannya aman, tapi mati tanpa sebab yang jelas. Dari situ masyarakat sekitar menganggap tempat itu memiliki “Jiwa”. Karena itulah, candi itu dinamakan Candi Jiwa.

Candi Jiwa yang sudah diekskavasi sepenuhnya, dibangun di atas lapik bujur sangkar. Bagian atas lapik ini bergelombang membentuk helai bunga teratai. Dibagian tengah dari Candi Jiwa terdapat bekas bangunan yang berbentuk lingkaran yang diduga disitu terdapat patung Budha yang pernah berdiri.

Sedangkan Candi Blandongan, secara khusus mulai diteliti sejak tahun 1993. Ekskavasi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional berhasil menampakkan kaki bangunan di sisi barat laut. Pada tahun 1995, penelitian dilanjutkan dan berhasil menampakkan struktur bangunan sepanjang 21,6 m serta 9 anak tangga. Tahun 1996, sisi timur laut dan tenggara Candi Blandongan berhasil ditampakkan.

Yang menarik di dalam Candi Blandongan ini ada penemuan benda bersejarah di antaranya Amulet, yaitu jimat yang ditanam seseorang saat seseorang mengunjungi suatu tempat. Amulet juga merupakan tanda-tanda ziarah pada saat seseorang mengunjungi tempat-tempat suci, dan dipakai sebagai pelepas nazar atau penolak bala.

Amulet Candi Blandongan ditemukan pada saat dilakukan ekskavasi pada tangga bangunan bagian bawah. Kemudian pada tahun 1997, tahun 2002, dan tahun 2003 juga ditemukan beberapa fragmen amulet. Amulet ini memuat tulisan 5 SM, memuat cerita sarasvati, yaitu ketika Budha mendapat ilham mengenai masalah keduniaan.

Temuan amulet di Candi Blandongan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu amulet yang menggambarkan 6 arca tanpa tulisan di bagian bawah, serta amulet yang menggambarkan 6 arca dengan tulisan di bagian bawahnya. Kedua jenis amulet tersebut pada dasarnya memiliki bentuk, ukuran, dan hiasan yang sama, yang membedakan hanyalah ada dan tidaknya tulisan di bagian bawah amulet.

Selain ditemukan amulet, ditemukan juga Gerabah Buni, yang terdiri antara lain dari berbagai jenis-jenis: periuk, cawan, pedupaan dan kendi. Berdasarkan penelitian dari temuan artefak dan gerabah, diketahui bahwa kronologi paling tua berasal dari abad ke-2 dan yang paling muda berasal dari abad ke-12 Masehi. Sementara bangunan-bangunan di situs itu memperlihatkan rentang waktu abad ke-5 hingga ke-6 Masehi yang berarti dibangun di bawah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara.





Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @riauaktual dan LIKE Halaman Facebook: RiauAktual.com