Polisi Janji Gelar Perkara, Penganiayaan Berat Satu Keluarga di Rohil

Senin,11 Februari 2019 - 19:11:09 WIB Di Baca : 198 Kali

Riauaktual.com - Pihak Kepolisian Daerah (Polda) Riau, melalui Subdit III, Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau, berjanji akan menindaklanjuti kasus penganiayaan yang dilaporkan Rajiman (55) dan Maryatun (45). 

Peristiwa penganiayaan itu terjadi 2013 silam di Dusun Sera, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Rokan Hilir, Riau. 

Janji ini disampaikan Kepala Sub Direktorat III Ditreskrimum Polda Riau AKBP Mohammad Kholiq. Ia mengatakan pihaknya akan melakukan gelar perkara terkait kasus tersebut. 

Loading...

Dalam hal ini, pihaknya perlu melakukan gelar perkara itu untuk mengidentifikasi keterlambatan penyidikan.
     
''Kasus akan kita tindak lanjuti dengan gelar perkara. Apakah ada hambatan atau tidak. Hambatan dari kita atau penyidikan, sehingga kita bisa sampaikan SP2P nya kepada korban,'' kata Kholiq yang baru dua bulan menjabat sebagai Kasubdit III tersebut. 

Janji penyidik ini, disinyalir setelah 1000 Advokat mendesak pihak Kepolisian agar segera menuntaskan kasus penganiayaan keluarga di Rohil. 

Desakan ini, dilakukan sebanyak 80 advokat yang tergabung dalam "Gerakan 1.000 Advokat Bicara Untuk Kemanusiaan" mendesak Kepolisian Daerah Riau menuntaskan perkara penganiayaan sebuah keluarga terdiri dari suami isteri dan seorang anak di Kabupaten Rokan Hilir. 
     
''Sudah tiga Kapolda (Riau) berganti tapi kasus ini stagnan. Tidak ada perkembangan. Padahal, tidak ada perkara penganiayaan di Riau yang seberat ini. Tapi penanganan paling minim, paling sepele,'' kata Suroto, salah satu advokat di Pekanbaru, Senin (11/2/2019) di Mesjid Al-Falah, Jalan Sumatera, Pekanbaru Kota. 
     
Menurut Suroto, korban penganiayaan adalah pasangan suami isteri Rajiman (55) dan Maryatun (45). Tindakan penganiayaan itu terjadi 2013 silam di Dusun Sera, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Rokan Hilir, Riau. Tak hanya Rajiman dan istrinya, Arazaqul (11), anaknya juga mendapat perlakuan serupa. 
     
Suroto mengungkapkan, hingga kini, Arazaqul hingga kini harus menggunakan alat khusus yang terpasang pada bagian perut karena mengalami penyumbatan pencernaan. 

Bahkan, alat itu masih terpasang hingga kini. Sementara Rajiman mengalami luka tusuk senjata tajam yang kata Suroto sedikitnya 25 tusukan di sekujur tubuhnya. Beruntung Rajiman masih bisa diselamatkan meski sekarang tak lagi normal. 

Suroto menyebutkan, aksi keji itu dilakukan sejumlah pria berbadan kekar dan diduga suruhan seorang pria berinisial AB, yang tak lain merupakan anggota DPRD aktif di salah satu daerah di Sumatera Utara dan menjadi Ketua DPC salah satu partai. 
     
''Sebelum penganiayaan dilakukan, terduga pelaku sering mengintimidasi korban,'' ujarnya. 
     
Setelah penyerangan membabi buta itu, Sumardi yang merupakan anak Maryatun lainnya, membuat laporan ke Polsek Panipahan. Saat pihak kepolisan bersama masyarakat berupaya mengejar pelaku ke barak yang biasa ditinggali. Akan tetapi pelaku keburu kabur.
     
Polisi juga sempat melihat kondisi para korban yang kala itu dirawat di Rumah Sakit Indah Bagan Batu. ''Akan tetapi setelah itu, selama bertahun-tahun perkaranya tidak pernah ditangani dan terhadap para korban yang sudah sembuh pun tidak pernah diperiksa,'' ujar Suroto yang sejak awal membantu keluarga korban itu. 
     
Baru pada 2017, lanjutnya, Polisi memeriksa korban, saksi dan bukti visum kejadian yang terjadi enam tahun sebelumnya. Polisi akhirnya menetapkan tiga tersangka, yang seluruhnya pelaku pemukulan. 

'''Tapi DPO hanya setakat DPO. Tidak pernah berhasil ditangkap. Begitu juga terkait AB yang sampai sekarang tak pernah dipanggil Polisi,'' ujarnya. 
     
Dari informasi yang diperoleh Suroto, di tahun 2017 sudah dua kali dilakukan pemanggilan terhadap AB. Lalu, di tahun 2018 yang bersangkutan juga sudah dua kali dipanggil. AB juga telah beberapa kali dilakukan upaya jemput paksa. Namun polisi tak berhasil membawanya, dengan alasan AB tidak diketahui keberadaanya.
     
''Menurut kita ini sangat aneh. Logikanya untuk mencari dan menangkap penjahat di tengah hutan saja polisi mampu. Masa untuk mencari AB yang jelas alamat kantor dan rumahnya, polisi tidak bisa,'' imbuh Suroto
     
Untuk itu, dia berharap dengan adanya "Gerakan 1.000 Advokat Bicara Untuk Kemanusiaan" ini dapat menjadi babak baru upaya meraih keadilan yang diterima keluarga Rajiman. 
     
''Harapan kita, perkara ini sudah enam tahun. Dua alat bukti sudah ada. Visum sudah ada di Polres Rohil. Sudah tersangka dan DPO. Semoga dalam waktu dekat ditangkap,'' harapnya. (HA)


Share Tweet Google + Cetak

Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @riauaktual dan LIKE Halaman Facebook: RiauAktual.com



Loading...