Pencarian

Podcast Kelupas

Jerman Mulai Dibuat Lumpuh oleh Corona COVID-19

Sabtu, 14 Maret 2020 • 08:22:39 WIB
Jerman Mulai Dibuat Lumpuh oleh Corona COVID-19
Pengecekan virus corona melalui sistem drive thru di Jerman

Riuaktual.com - Penyebaran virus corona COVID-19 yang semakin tinggi dari hari ke hari di wilayah Eropa, mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari di Jerman dan sekitarnya.

Italia telah mengkarantina seluruh wilayahnya yang dihuni oleh 60 juta penduduk, membatasi mobilisasi orang-orang dan menutup ruang-ruang publik setidaknya hingga 3 April. Acara-acara besar telah dibatalkan, sekolah-sekolah ditutup, dan hanya orang-orang yang memiliki urusan kesehatan dan kepentingan pekerjaan saja yang boleh berpergian.

Beberapa negara Eropa mulai mengikuti kebijakan Italia menutup sebagian besar sekolah, seperti Norwegia, Lithuania, Irlandia, dan Austria.

Jerman yang memiliki jumlah kasus COVID-19 terbanyak setelah Italia, Prancis, dan Spanyol, belum mengambil langkah serupa. Namun, survei global yang dilakukan oleh lembaga riset Ipsos pada akhir Februari menunjukkan bahwa 62% orang Jerman mendukung tindakan karantina bila dianggap perlu.

Belum adanya tindakan karantina karena pemerintah khawatir akan mengganggu aktivitas masyarakat secara signifikan, hingga berimbas pada kekacauan ekonomi dan menyebabkan kepanikan.

Respons lambat

Saat kasus yang dikonfirmasi positif COVID-19 di Spanyol telah mencapai angka 200 pada 3 Maret silam, Kementerian Kesehatan Jerman pun menekankan bahwa ‘"tidak banyak penularan di tingkat nasional." Namun, pada 12 Maret, kasus yang dikonfirmasi naik menjadi hampir 3.000.

Respons pemerintah Jerman yang lambat ini mengingatkan kita pada bagaimana otoritas di Jerman, Inggris, dan Prancis menangani pandemi flu 1918. Pemerintah membatasi informasi karena takut hal itu akan menurunkan semangat para pasukan yang berperang dalam Perang Dunia I.

Seorang profesor riset di Oslo Metropolitan University di Norwegia, Svenn-Erik Mamelund mengatakan kala itu ketika Spanyol untuk pertama kalinya mengumumkan kasus terkait flu, orang-orang menjulukinya sebagai "flu Spanyol."

‘’Awalnya mereka ragu-ragu karena tahu hal itu akan berdampak negatif pada ekonomi, terutama industri pariwisata yang sedang berkembang,’’ ujar Mamelund, yang telah mempelajari dampak sosial epidemi.

Peningkatan depresi dan gangguan mental

Mamelund menunjukkan satu efek samping tak teduga dari epidemi yakni peningkatan depresi dan gangguan mental. Ia mengacu pada studi tentang pandemi flu 1918 yang sangat mengganggu kehidupan sehari-hari manusia, yang terjadi selama berbulan-bulan dan akhirnya menewaskan 50 juta orang di seluruh dunia.

Mamelund mengatakan ‘’penurunan komunikasi masyarakat karena isolasi dan karantina, penutupan pertemuan massal, sekolah dan gereja-gereja, serta rasa sakit dan kesedihan akibat kehilangan orang-orang yang dicintai karena penyakit ini mengarah pada angka jumlah bunuh diri yang lebih tinggi.’’

Meskipun di era modern komunikasi tetap berjalan baik ketika ada karantina, Mamelund mengatakan ada ketidaksetaraan sosial yang besar dalam jumlah infeksi dan angka kematian. Ia menyebutkan bahwa masyarakat miskin tidak memiliki kesempatan untuk bekerja dari rumah seperti orang-orang kaya. Mereka kekurangan akses perawatan kesehatan berkualitas dan tingkat kesehatan mereka lebih buruk secara umum.

‘’Seseorang dengan penyakit jantung di negara dengan tingkat kesejahteraan tinggi (seperti Norwegia) akan memiliki (peluang) selamat lebih tinggi dari virus corona, dibandingkan dengan orang yang memiliki penyakit jantung yang tinggal di negara miskin,’’ jelasnya.

Lebih banyak orang bekerja dari rumah

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks