Pencarian

Podcast Kelupas

Ekonomi Sulit, Mengapa Kopi dan Matcha Tetap Dicari?

Kamis, 20 Agustus 2026 • 06:12:00 WIB
Ekonomi Sulit, Mengapa Kopi dan Matcha Tetap Dicari?
Kopi dan matcha.

RIAUAKTUAL (RA) - Ketika harus mengurangi pengeluaran, konsumen mungkin berpikir ulang sebelum membeli barang mahal. Namun, bukan berarti semua keinginan untuk menikmati sesuatu yang menyenangkan ikut hilang.

Kopi, cokelat, matcha, hingga makanan premium untuk hewan peliharaan bisa tetap menjadi pilihan ketika konsumen mulai lebih selektif mengatur pengeluaran. Produk-produk tersebut menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar fungsi, mulai dari rasa nyaman, pengalaman, hingga kesempatan untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri.

Dosen Fakultas Bisnis Universitas Multimedia Nusantara, Trihadi Pudiawan Erhan, S.E., M.S.E., Ph.D, mengatakan, kondisi ekonomi yang terbatas tidak serta-merta menghilangkan keinginan konsumen untuk menikmati produk yang dianggap istimewa. "Kemewahan tidak harus hadir dalam keseluruhan gaya hidup, tetapi dapat dinikmati melalui kategori tertentu yang dianggap bermakna bagi dirinya," kata Trihadi, dikutip dari Kompascom.

Menurut dia, konsumen dapat tetap menikmati produk tertentu yang dianggap bernilai, meski pada saat yang sama harus lebih selektif dalam membelanjakan uang.

Trihadi menjelaskan, konsumen kelas menengah dan aspiring middle class memiliki ruang pengeluaran yang relatif terbatas sehingga harus berhati-hati dalam menentukan prioritas belanja.

Namun, keterbatasan penghasilan tidak menghilangkan keinginan untuk menikmati pengalaman premium, mengikuti tren, atau memberikan penghargaan kepada diri sendiri. Kondisi tersebut membuat konsumen cenderung memilih kategori tertentu yang dianggap paling bermakna bagi mereka.

"Dia mungkin tidak akan membeli tas seharga jutaan atau puluhan juta rupiah, tetapi bersedia membayar lebih untuk parfum, jam tangan, atau kolektibel yang terasa istimewa dan relevan dengan identitasnya," ujar Trihadi.

Hal serupa dapat terjadi pada produk konsumsi sehari-hari. Konsumen mungkin mengurangi pengeluaran di sejumlah pos, tetapi tetap mempertahankan pembelian yang memberikan rasa senang atau pengalaman tertentu. Dalam konteks inilah, konsumsi tidak selalu sekadar tentang memenuhi kebutuhan dasar.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks