Pencarian

Podcast Kelupas

PKS Sei Tapung Optimalkan Limbah Sawit Jadi Pupuk Organik dan Energi Terbarukan

Kamis, 04 Juni 2026 • 14:00:00 WIB
PKS Sei Tapung Optimalkan Limbah Sawit Jadi Pupuk Organik dan Energi Terbarukan
PKS Sei Tapung Optimalkan Limbah Sawit.

PEKANBARU (RA) - Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Tapung PTPN IV Regional III terus memperkuat komitmennya dalam menerapkan prinsip ekonomi sirkular dan industri sawit berkelanjutan melalui optimalisasi pemanfaatan limbah hasil pengolahan kelapa sawit.

Tidak hanya memanfaatkan tandan kosong kelapa sawit (tankos) sebagai pupuk organik untuk mendukung produktivitas perkebunan, PKS Sei Tapung juga mengolah limbah cair menjadi sumber energi baru terbarukan melalui fasilitas Pembangkit Tenaga Biogas (PTBg).

Pj Manajer PKS Sei Tapung, Devario Ibnurusd S., mengatakan pemanfaatan tankos merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk mengoptimalkan nilai tambah produk samping sekaligus mendukung praktik budidaya sawit yang ramah lingkungan.

Menurutnya, tankos memiliki kandungan bahan organik yang mampu meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki struktur lahan, serta menjaga ketersediaan unsur hara secara alami.

“Pemanfaatan tankos sebagai pupuk organik merupakan salah satu bentuk dukungan perusahaan terhadap praktik budidaya sawit yang lebih lestari dan ramah lingkungan. Selain membantu petani, langkah ini juga menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan seluruh produk samping agar memberikan manfaat yang lebih luas,” ujar Devario, Kamis (4/6).

Selama ini, lanjutnya, PKS Sei Tapung secara rutin menyalurkan tankos kepada petani dan kelompok tani di sekitar wilayah operasional perusahaan tanpa dipungut biaya.

Program tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab sosial lingkungan perusahaan sekaligus membantu petani mengurangi biaya pemupukan di tengah meningkatnya harga pupuk.

“Tidak ada praktik jual beli tankos kepada masyarakat. Penyaluran dilakukan secara cuma-cuma sebagai bentuk dukungan perusahaan terhadap petani dan pemanfaatan bahan organik secara berkelanjutan,” jelasnya.

Meski demikian, Devario mengungkapkan bahwa dalam lebih dari satu bulan terakhir penyaluran tankos kepada masyarakat dihentikan sementara karena kebutuhan bahan organik diprioritaskan untuk mendukung kebun inti perusahaan.

“Sudah lebih dari satu bulan tidak ada penyaluran tankos ke masyarakat karena sesuai arahan manajemen, tankos dan by product lainnya seperti abu janjang saat ini difokuskan untuk kebutuhan kebun inti,” katanya.

Menurut Devario, kebijakan tersebut diambil guna mengoptimalkan produktivitas serta perbaikan kualitas lahan perkebunan perusahaan.

Sementara itu, para petani mengaku sangat terbantu dengan program pemanfaatan tankos yang selama ini dijalankan PKS Sei Tapung.

Salah seorang petani, Idang, mengatakan bantuan tankos mampu menekan biaya perawatan kebun sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman.

“Kami sebagai petani sangat terbantu dengan program ini. Biaya pemupukan menjadi lebih ringan. Mudah-mudahan ke depan penyaluran tankos bisa kembali dilanjutkan setelah kebutuhan kebun inti terpenuhi,” ujarnya.

Tidak hanya mengelola limbah padat, PKS Sei Tapung juga telah mengembangkan pemanfaatan limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi energi baru terbarukan.

Sejak 2023, perusahaan mengoperasikan fasilitas Pembangkit Tenaga Biogas (PTBg) Co-Firing yang memanfaatkan gas metana hasil pengolahan limbah cair sebagai sumber energi ramah lingkungan.

PTBg Co-Firing Sei Tapung menggunakan teknologi Covered In-Ground Anaerobic Reactor (CIGAR) atau Covered Lagoon yang berfungsi menangkap gas metana dari proses pengolahan limbah cair pabrik.

Fasilitas tersebut memiliki kapasitas terpasang mencapai 20.000 meter kubik atau setara dengan 700 Nm³ biogas per jam.

Melalui teknologi tersebut, limbah yang sebelumnya berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca kini dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi yang mendukung operasional perusahaan sekaligus berkontribusi terhadap target pengurangan emisi nasional.

“Prinsip yang kami jalankan adalah bagaimana seluruh produk samping hasil pengolahan sawit dapat dimanfaatkan secara optimal. Tankos dan abu janjang digunakan untuk mendukung kesuburan lahan, sementara limbah cair diolah menjadi energi terbarukan melalui fasilitas biogas,” terang Devario.

Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi bagian dari transformasi industri sawit modern yang menempatkan aspek keberlanjutan sebagai salah satu prioritas utama.

Melalui optimalisasi pemanfaatan tankos, abu janjang, hingga pengolahan limbah cair menjadi energi baru terbarukan, PKS Sei Tapung menunjukkan bahwa industri sawit tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan, masyarakat, serta mendukung agenda pembangunan berkelanjutan nasional.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks