Pencarian

Podcast Kelupas

Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan Makanan Korea Cepat Digemari di Indonesia

Kamis, 07 Mei 2026 • 06:31:57 WIB
Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan Makanan Korea Cepat Digemari di Indonesia
Makanan viral korea.

RIAUAKTUAL (RA) - Tren kuliner Korea memang enggak pernah ada habisnya. Selalu ada saja makanan baru yang mencuri perhatian publik. Belakangan, salah satu yang ramai diperbincangkan adalah dubai chewy, dessert asal Korea Selatan yang unik karena memadukan tekstur kenyal seperti mochi dengan isian pasta pistachio dan kunafa yang renyah.

Belum juga hype dubai chewy mereda, muncul butter teok yang ikut meramaikan jagat kuliner. Kue berbahan dasar tepung ketan, susu, dan butter ini dikenal dengan teksturnya yang renyah di luar namun tetap kenyal di dalam.

Tak hanya populer di Korea Selatan, butter teok juga dengan cepat mencuri perhatian pecinta kuliner di Indonesia. Bahkan, tak sedikit toko yang mulai menghadirkan versi mereka sendiri, salah satunya adalah Paris Baguette Indonesia.

Mereka mencoba inovasi dengan menambahkan wijsman agar aromanya lebih harum dan buttery, sekaligus menyesuaikan dengan selera lokal yang cenderung menyukai rasa yang lebih kaya.

“Kalau di negara asalnya butter tteok hanya dinikmati dengan kental manis atau condensed Milk, di sini kami mengembangkan menjadi beberapa varian semisal isi matcha, double cheese, dan Nutella. Kemudian untuk saus cocolannya ada cokelat dan caramel yang dibuat secara homemade,” kata chef Indra Dewa, Field Trainer Baker Paris Baguette Indonesia, dilansir melalui Kumparan.

Indra mengaku, alasan turut menghadirkan menu butter teok karena melihat tren kuliner Korea sangat diminati di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya minat masyarakat terhadap budaya Korea, termasuk kulinernya, masih menjadi peluang besar bagi pelaku usaha untuk terus berinovasi dan menghadirkan menu yang relevan dengan selera pasar.

“Kami juga percaya makanan Korea masih bisa mendominasi pasar di sini. Untuk menu butter tteok sendiri saat ini masih limited time, tapi kalau tinggi peminat tidak menutup kemungkinan akan menjadi menu reguler,” katanya.

Butter tteok sendiri merupakan kue yang terbuat dari bahan utama butter dan tepung ketan. Menariknya, meskipun banyak yang mengira butter teok berasal dari Korea, kue ini sebenarnya berasal dari Shanghai atau yang dikenal dengan nama Shanghai butter rice cake. Nama “butter teok” sendiri diambil dari kata “tteok” dalam bahasa Korea yang berarti kue beras.

Nah, di balik fenomena ini, pernah enggak sih kalian bertanya-tanya, kok bisa makanan-makanan Korea begitu cepat viral di Indonesia?

Ternyata, popularitas kuliner Korea tidak terjadi secara instan. Dosen Antropologi Gastronomi Universitas Padjadjaran, Hardian Eko Nurseto, menjelaskan bahwa di balik viralnya makanan Korea, mulai dari tteokbokki, kimchi, hingga butter tteok, terdapat strategi yang telah dirancang sejak lama.

Korea secara serius menjalankan strategi gastrodiplomasi, yakni menjadikan kuliner sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan budaya mereka ke dunia. Dengan cara ini makanan Korea tidak hanya dikenal, tetapi juga memiliki nilai budaya yang kuat.

Menurut Seto, proses ini biasanya dimulai dari meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap drama atau musik Korea. Dari situ, rasa penasaran muncul dan mendorong mereka untuk mencoba berbagai makanan yang kerap tampil di layar.

“Ketika awareness masyarakat global terhadap Korea meningkat, mereka sebenarnya sudah menyiapkan ‘peluru’ yang siap dilempar ke berbagai negara untuk dipasarkan,” kata Seto.

Selain itu, faktor kedekatan rasa juga menjadi alasan mengapa kuliner Korea mudah diterima di Indonesia. Sebagai sesama negara Asia, profil rasanya dinilai tidak terlalu jauh berbeda dengan lidah masyarakat lokal.

"Jadi tidak terlalu lebar perbedaan preferensi rasanya sama seperti preferensi makanan yang disukai oleh orang Indonesia,” ujar dia.

Senada dengan Seto, Guru Besar Ilmu Perilaku Konsumen IPB University, Prof. Ujang Sumarwan, menilai bahwa dari sisi rasa, kuliner Korea relatif mudah diterima oleh lidah masyarakat Indonesia karena rasanya yang familiar.

"Banyak kesamaan dengan lidah kita. Jadi kan ada manis, gurih, pedas, itu kan sama dengan kita. Nah, beda dengan India yang sangat kuat spices-nya. Kari kan spices-nya sangat kuat itu bagi anak muda, kalau manis, gurih itu kan disukai anak muda," kata Prof Ujang.

Selain itu, bahan-bahan yang digunakan juga sudah akrab dalam keseharian masyarakat Indonesia. Hal ini membuat kuliner Korea terasa tidak terlalu asing dan lebih mudah diadaptasi.

Prof. Ujang menyebut popularitas kuliner Korea tak lepas dari efek spillover budaya pop, seperti K-Pop dan drama Korea. Menurutnya, penggemar kerap terdorong untuk meniru gaya hidup idol atau aktor favorit mereka, termasuk dalam hal makanan.

“Karena mereka punya idol orang Korea, dia akan semaksimal mungkin meniru, pakaiannya kan sudah, nah yang berikutnya itu makanannya,” jelasnya.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks