Pencarian

Podcast Kelupas

Studi Ungkap Baby Walker Tak Bikin Bayi Cepat Jalan dan Risiko Cedera

Rabu, 22 Juli 2026 • 05:15:07 WIB
Studi Ungkap Baby Walker Tak Bikin Bayi Cepat Jalan dan Risiko Cedera
baby walker.

RIAUAKTUAL (RA) - Banyak orang tua menganggap baby walker bisa membantu bayi belajar berjalan lebih cepat. Tak sedikit pula yang menggunakannya agar si kecil lebih aktif bergerak atau memberi waktu bagi orang tua untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.

Faktanya, alat ini justru menyimpan sejumlah risiko yang sudah lama menjadi perhatian para ahli kesehatan anak. Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan baby walker tidak terbukti membuat bayi lebih cepat berjalan dan justru dapat meningkatkan risiko cedera.

Melansir American Academy of Pediatrics (AAP), baby walker adalah alat beroda yang memungkinkan bayi bergerak sendiri dengan duduk di dalamnya. Alat ini biasanya dilengkapi rangka dan meja kecil di sekeliling bayi, sehingga bayi dapat berpindah tempat dengan mendorong lantai menggunakan kakinya.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga tidak menyarankan penggunaan baby walker atau yang sering disebut 'apolo'. Penggunaan alat ini dikhawatirkan membentuk pola berjalan yang kurang tepat, seperti kebiasaan berjalan jinjit.

Kekhawatiran terbesar para ahli terhadap baby walker adalah tingginya risiko cedera. Studi yang dimuat dalam jurnal Pediatrics bahkan mencatat sekitar 8.800 anak di bawah usia 15 bulan dirawat di unit gawat darurat di Amerika Serikat akibat cedera terkait baby walker.

Sebagian besar cedera terjadi akibat bayi terjatuh dari tangga dan banyak di antaranya berupa cedera kepala.

Baby walker sendiri membuat bayi bergerak jauh lebih cepat dibanding kemampuan normalnya, bahkan dapat melaju lebih dari 90 sentimeter dalam satu detik.

Akibatnya, bayi bisa menjangkau tempat atau benda yang sebenarnya belum dapat mereka capai jika bergerak sendiri. Terdapat beberapa risiko yang mengancam, mulai dari:

- jatuh dari tangga,
- terkena benda panas hingga menyebabkan luka bakar,
- keracunan karena meraih bahan berbahaya, hingga
- tenggelam.

Ini menunjukkan bahwa baby walker memberikan 'mobilitas semu' pada bayi yang sebenarnya belum memiliki kemampuan mengendalikan tubuh dan memahami bahaya di sekitarnya.

Salah satu alasan utama orang tua membeli baby walker adalah harapan agar anak bisa berjalan lebih cepat.

Sayangnya, harapan tersebut tidak didukung bukti ilmiah, sebaliknya justru berpotensi menunda perkembangan motorik dan mental. Hal ini karena bayi belajar berjalan melalui serangkaian tahapan penting, seperti:

- tengkurap dan berguling,
- merangkak,
- menarik tubuh untuk berdiri,
- belajar menjaga keseimbangan,
- hingga melatih koordinasi otot dan saraf.

Ketika bayi terlalu sering berada di dalam baby walker, kesempatan untuk melatih kemampuan-kemampuan tersebut bisa berkurang. Padahal, proses itulah yang menjadi fondasi kemampuan berjalan secara alami.

Hingga kini belum ada bukti kuat yang menunjukkan baby walker dapat mempercepat kemampuan berjalan atau mendukung perkembangan motorik bayi.

Sebagai gantinya, para ahli justru merekomendasikan aktivitas yang lebih aman dan bermanfaat bagi perkembangan si kecil, seperti:

- tummy time atau melatih bayi tengkurap,
- bermain di lantai dengan pengawasan orang tua,
- menggunakan stationary activity center yang tidak beroda,
- atau push walker, yakni alat yang didorong ketika bayi sudah mulai berdiri dan belajar berjalan.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks