Ketua Umum PSI Grace Natalie saat menyampaikan pidatonya dalam 'Festival 11' di Medan (pojoksatu)

PSI Jadi Parpol Paling Ditolak Masyarakat

Kamis,21 Maret 2019 - 17:47:15 WIB Di Baca : 534 Kali

Riauaktual.com - Hasil survei terbaru Litbang Kompas bukan hanya menunjukkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Subianto.

Dikutip dari survei Kompas, Kamis (21/3/2019), survei itu juga menunjukkan bahwa tak satu pun partai pendatang baru di Pemilu 2019 lolos ambang batas parlemen (PT) empat persen.

Tetapi juga resistansi (penolakan) masyarakat terhadap partai-partai tersebut. Uniknya, angka resistansi tersebut justru lebih tinggi dari elektabilitas mereka yang rata-rata cuma berkisar nol koma.

Loading...

Dibeberkan, PSI menjadi partai baru yang paling tinggi resistansinya atau dengan kata lain paling ditolak masyarakat.

Dengan elektabiltas 0,9 persen, resistansi masyarakat terhadap partai baru pimpinan Grace Natalie ini ditolak oleh 5,6 persen masyarakat.

Disusul selanjutnya oleh Perindo dengan elektabilitas 1,5 persen dengan resistensi 1,9 persen.

Kemudian Partai Berkarya dengan elektabilitas 0,5 persen dan resistensi sebesar 1,3 persen.

Selanjutnya, Partai Garuda yang mengantongi elektabilitas sebesar 0,2 persen dengan resistensi 0,9 persen.

Pengamat Komunikasi Politik Ari Junaedi menjelaskan, rendahnya elektabilitas partai-partai baru seperti PSI, Partai Garuda, Berkarya dan Perindo adalah wajar dan normal.

Menurutnya, selain sebagai pendatang baru, positioning dan strategi branding mereka pun terbilang tidak tepat.

“Hal ini terlihat dari tingginya resistensi mayarakat terhadap partai-partai baru, termasuk PSI yang dibesut anak-anak milenial,” ujar Ari di Jakarta, Kamis (21/3/2019).

Ari mengaku dirinya sejatinya adalah salah satu orang yang menaruh harapan besar terhadap PSI di saat-saat awal berdiri.

Namun menurutnya, di tengah-tengah perjalanannya, partai pimpinan Grace Natalie tersebut kerap mengeluarkan blunder-blunder yang tidak perlu, serta mengganggu soliditas di koalisi partai-partai pendukung Jokowi.

Dalam hematnya, seharusnya, pernyataan perda syariah dan poligami yang masuk dalam ranah filosofis keagamaan, sebaiknya tidak disentuh PSI di awal kampanye.

“Dengan cara seperti itu, PSI mengobarkan perang dengan kaum mayoritas,” ujar pengajar di Univesitas Indonesia (UI) ini.

Demikian juga soal pernyataan PSI yang menyinggung kiprah partai-partai lama soal pendampingan terhadap gender.

“Toh, nyatanya sudah digarap oleh partai-partai yang jauh lebih senior,” kata Ari.

Semestinya, saran dia, PSI lincah bermanuver di pusaran-pusaran isu-isu nasional tanpa membuat permusuhan dengan partai-partai lain.

PSI, kata dia, harusnya percaya diri bermain di isu-isu milenial mengingat captive marketnya di kalangan milenial atau pemilih pemula.

“Ini kan tidak. PSI membuka front ‘pertempuran’ dengan partai-partai ‘senior’, tidak peduli yang ada di dalam koalisi atau tidak serta tidak menggarap intens pasar potensialnya,” papar Ari.

Lebih lanjut, Ari menambahkan, PSI masih tidak bisa menempatkan dirinya sebagai partai baru yang sejajar dengan partai-partai mapan seperti PDIP, Gerindra, Golkar dan PKB.

“PSI kurang santun dalam berpolitik serta tidak bisa melepaskan diri dari gaya anak muda yang temperamental,” tutupnya.

 

Sumber : pojoksatu.id


Share Tweet Google + Cetak

Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @riauaktual dan LIKE Halaman Facebook: RiauAktual.com



Loading...