Pencarian

Podcast Kelupas

Saat Target Besar Dikejar Oleh Tim Kecil, Apa Yang Harus Diubah Organisasi?

Senin, 06 Juli 2026 • 21:33:33 WIB
Saat Target Besar Dikejar Oleh Tim Kecil, Apa Yang Harus Diubah Organisasi?
Dariel Pelawi, Mahasiswa S2 Magister Manajemen, Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning.

OPINI (RA) - Dariel Pelawi, sebagai Mahasiswa S2 Magister Manajemen, Sekolah Pascasarjana Unilak, sekaligus Manajer Keuangan, IT, Risiko, dan Kinerja di PLN Batubara Niaga, melihat bahwa persoalan organisasi sebaiknya tidak hanya dibicarakan sebagai keluhan, tetapi juga sebagai bahan pembelajaran. Di bawah bimbingan Dr. Richa Afriana Munthe, S.E., M.M., Dariel Pelawi mencoba membaca pengalaman kerjanya dengan sudut pandang manajemen yang lebih tertata.

"Isu yang saya angkat berkaitan dengan perubahan organisasi, koordinasi antarbagian, dan kinerja karyawan. Dalam pengamatan saya, perusahaan menghadapi perubahan organisasi yang cepat, target penugasan yang hampir setiap tahun berubah, dan tuntutan tinggi karena perusahaan menjalankan peran security of supply pasokan batubara bagi PLTU milik PLN dan juga IPP. Sebagian besar pegawai merupakan pegawai tugas karya dengan masa penugasan relatif singkat, sehingga setiap pergantian pegawai menuntut proses penyesuaian baru. Jumlah pegawai juga terbatas, sementara volume pekerjaan yang dikelola cukup besar. Selain itu, proses kerja masih dominan manual, belum didukung sistem terintegrasi, dan perlunya koordinasi antara bagian karena masih berpotensi menimbulkan miskomunikasi," katanya.

Menurut Dariel Pelawi, akar masalahnya meliputi beberapa hal yaitu: (1) perubahan eksternal yang menuntut perusahaan terus menyesuaikan diri; (2) perlunya sistem knowledge management yang baik sehingga rotasi pegawai tidak menghambat proses kerja; (3) proses pekerjaan yang belum banyak didukung sistem terintegrasi; serta (4) media komunikasi antarbagian yang perlu difasilitasi dengan baik. Jadi, persoalan ini perlu dilihat sebagai rangkaian sebab-akibat di dalam organisasi.

Dampak yang muncul adalah: (1) target KPI perusahaan berisiko tidak tercapai; (2) beban pekerjaan menjadi tinggi; (3) silo antarbagian dapat menyebabkan keterlambatan pekerjaan; dan (4) pencarian historis data menjadi sulit karena proses masih manual.

Untuk memperkuat gagasannya, Dariel Pelawi mengaitkan persoalan tersebut dengan Structural Contingency Theory dan Dynamic Capabilities Theory. Structural Contingency Theory relevan karena struktur organisasi perlu menyesuaikan diri dengan perubahan target, keterbatasan jumlah pegawai, kompleksitas transaksi, dan ketidakpastian lingkungan. Dynamic Capabilities Theory juga relevan karena perusahaan perlu membangun kemampuan adaptasi melalui penguatan sistem, digitalisasi, manajemen pengetahuan, serta koordinasi agar tetap tangguh meskipun terjadi rotasi pegawai.

Mengenai solusi yang paling realistis, Dariel Pelawi menjawab bahwa perbaikan harus dilakukan secara bertahap. "Saya melihat solusinya adalah memperbaiki komunikasi, memperjelas SOP, memperkuat kompetensi SDM, membangun kolaborasi, dan melakukan evaluasi berbasis data. Yang penting, solusi itu dijalankan dengan komunikasi yang baik, tidak memojokkan siapa pun, dan bisa diterima oleh orang-orang yang terlibat di dalam organisasi," ungkapnya.

Dr. Chandra melihat gagasan Dariel Pelawi sebagai masukan yang kuat dari sudut pandang masyarakat, praktisi, dan peneliti ilmu manajemen. Menurutnya, isu organisasi kecil dengan beban transaksi besar memerlukan perhatian pada sistem kerja, digitalisasi, dan manajemen pengetahuan. Ia menyarankan agar gagasan ini diperkaya dengan data beban kerja, durasi rotasi pegawai, tingkat keterlambatan proses, serta kesiapan sistem terintegrasi. Dengan begitu, perbaikan dapat diarahkan pada organisasi yang lebih adaptif, terdokumentasi, dan tidak bergantung hanya pada individu tertentu.

Ditulis Oleh: Dariel Pelawi, Mahasiswa S2 Magister Manajemen, Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks