RIAUAKTUAL (RA) - Thalasemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius di Indonesia. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan bahwa penyakit ini merupakan kelainan genetik yang dapat diturunkan dari orangtua kepada anak.
Karena bersifat herediter, upaya pencegahan melalui edukasi, deteksi dini, dan skrining kesehatan menjadi langkah penting. Hal ini perlu dilakukan untuk menekan angka kasus thalasemia di masa mendatang.
Mungkin sebagian besar orang sudah tidak asing lagi dengan penyakit bernama thalasemia. Namun, tahukah kamu bahwasanya thalasemia bisa muncul akibat bawaan dari orang tua?
Dante dalam unggahan di akun Instagramnya mengatakan, thalasemia merupakan satu kondisi dimana sel darah merah dalam tubuh seseorang cenderung memiliki umur yang lebih pendek dibandingkan dengan orang normal pada umumnya.
Hal tersebut bisa menyebabkan penderitanya mengalami penyakit kekurangan darah atau biasa disebut anemia. Sehingga, penderita thalasemia seringkali membutuhkan pasokan darah baru dari luar agar tidak mengalami kekurangan darah.
“Jadi thalasemia itu adalah penyakit dimana usia sel darah merahnya itu lebih pendek daripada umur sel darah merah orang normal. Kemudian dia mengalami anemia atau kekurangan sel darah merah,” kata Dante, dikutip dari Okezone.
Selain itu, Dante juga mengungkapkan sebuah fakta yang cukup mengejutkan dan belum banyak diketahui orang-orang. Thalasemia sendiri ternyata merupakan salah satu penyakit genetik dan bisa muncul dari keturunan atau riwayat orang tua.
Jika orang tua membawa sifat (carier) thalasemia, bisa jadi anak yang dilahirkan juga mengidap thalasemia. Karena itu, orang tua perlu waspada.
“Thalasemia ini adalah penyakit genetik. Kalau orang tuanya membawa sifat thalasemia atau carier thalasemia, ibunya membawa sifat thalasemia minor, kawin dengan bapaknya yang memiliki thalasemia minor, anaknya itu bisa menjadi thalasemia mayor,” jelas dia.
Lebih lanjut, Dante memaparkan bahwa thalasemia sendiri terdapat tiga jenis. Ada thalasemia minor, intermediate, dan thalasemia mayor.
Thalassemia minor sendiri merupakan kondisi thalassemia dimana hanya membawa sifat dalam genetiknya. Sementara itu, thalasemia intermediate merupakan kondisi thalasemia dengan gejala-gejala ringan.
Di sisi lain, thalasemia mayor sendiri merupakan thalasemia berat. Penderita harus melakukan transfusi darah agar metabolisme tubuh tetap berjalan optimal.
“Thalasemia mayor atau talasemia berat. Nah, thalasemia berat ini dia harus transfusi sel darah merahnya supaya dia tetap bisa menjalankan fungsi metabolisme di dalam badan untuk menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh,” papar Dante.