RIAUAKTUAL (RA) - Pernahkah kamu melintas di jalan raya dan melihat bangkai tikus yang pipih akibat tergilas roda kendaraan? Bagi sebagian besar masyarakat, pemandangan tersebut mungkin hanya dianggap sebagai hal menjijikkan yang akan mengering dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Namun, di balik kotor dan mengganggunya pemandangan tersebut, ada ancaman kesehatan serius yang mengintai para pengguna jalan setiap harinya.
Bangkai tikus yang hancur di jalanan ternyata membawa penyakit berbahaya yang siap menyebar tanpa disadari. Praktisi Bisnis Lingkungan, Bang Sap, membagikan edukasi mengenai ancaman laten ini melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya.
"Tikus yang mati kelindes di jalan itu jauh lebih berbahaya dari kelihatannya loh. Buat kita, itu cuma pemandangan jijik, kan? Kelindes, banyak mobil yang nanti lewat juga bakal kering sendiri. Gitu, kan? Tapi ternyata, ada bakteri berbahaya yang ada di ginjalnya, dan pas dia kelindes, isinya keluar semua ke jalan yang kita lewati tiap hari," ujar Bang Sap, dikutip dari Okezone.
Ia menjelaskan bahwa sumber bahaya terbesar dari hewan pengerat ini bukanlah gigitannya, melainkan mikroorganisme yang menetap di dalam organ tubuhnya.
"Begini, yang bikin tikus berbahaya itu bukan gigitannya, tapi bakteri yang bernama Leptospira, yang hidup di ginjal tikus seumur hidupnya," ucapnya.
Pada kondisi normal, bakteri tersebut biasanya menyebar ke lingkungan melalui urine tikus. Namun, ketika tikus mati mengenaskan di jalan akibat terlindas kendaraan, proses penyebaran bakteri tersebut menjadi jauh lebih masif dan agresif.
"Biasanya, bakteri ini keluar lewat kencing tikus. Tapi begitu tikusnya kelindes ban, ginjal dan isi perutnya pecah dan bakterinya langsung tumpah ke aspal, lalu kena ban motor, muncrat ke celana, nempel ke sandal jepit, dan menyebar ke mana-mana," papar Bang Sap.
Ancaman ini makin nyata karena ketahanan hidup bakteri Leptospira di luar tubuh induknya terbilang cukup tangguh. Lingkungan tropis seperti jalanan basah atau genangan air menjadi media yang sangat mendukung bakteri ini untuk bertahan hidup dalam waktu lama.
"Dan bakteri ini bisa bertahan berminggu-minggu di tanah lembap atau genangan. Dan penyakitnya enggak main-main loh. Namanya leptospirosis. Dan dia masuk lewat luka kecil di kulit, kulit yang lecet, atau selaput lendir. Nggak perlu luka besar," ungkapnya.
Leptospirosis sendiri bukanlah sekadar infeksi ringan. Penyakit zoonosis ini memiliki rekam jejak yang cukup mengerikan di Indonesia dan patut diwaspadai oleh siapa saja yang kerap beraktivitas di luar rumah.
"Data Kemenkes di tahun 2020 nyatet ada 1.170 kasus di Indonesia dengan 106 kematian. Artinya, sekitar 1 dari 11 penderita enggak selamat," kata Bang Sap.
Tingginya angka fatalitas ini salah satunya dipicu oleh sulitnya mendeteksi penyakit sejak dini. Gejala awal leptospirosis kerap menipu karena sangat mirip dengan penyakit ringan yang lazim dialami masyarakat sehari-hari.
"Yang bikin makin repot, gejalanya nyamar demam, pusing, badan lemas, mirip flu biasa. Yang agak khas cuma satu: nyeri hebat di betis sampai susah jalan. Karena mirip flu, banyak yang salah ditangani. Dan kalau telat, dia bisa ngerusak ginjal dan hati," tuturnya.
Meski demikian, potensi penularan leptospirosis dari jalanan sebenarnya bisa ditekan dengan langkah-langkah pencegahan yang relatif sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
"Untungnya, pencegahannya sederhana. Jangan lewat genangan air di jalan pakai sandal terbuka, apalagi kalau kaki lecet. Cuci kaki dan tangan pakai sabun setelah dari jalan atau pasar," kata Bang Sap.
Selain perlindungan diri saat beraktivitas di jalan, kepedulian masyarakat dalam mengelola lingkungan sekitar terutama saat menangani bangkai tikus juga menjadi kunci penting agar saluran air tidak terkontaminasi.
"Dan buat yang nemu bangkai tikus, jangan pernah buang ke selokan atau got, karena bakterinya nyebar jauh lebih cepat lewat air. Bungkus rapat, buang ke tempat sampah, tutup, atau kubur," ucapnya.