Pencarian

Podcast Kelupas

Makan Jamur Shiitake, Punggung Wanita Ini Dipenuhi Ruam Mirip Bekas Cambukan

Rabu, 03 Juni 2026 • 05:57:34 WIB
Makan Jamur Shiitake, Punggung Wanita Ini Dipenuhi Ruam Mirip Bekas Cambukan
Jamur shitake.

RIAUAKTUAL (RA) - Sebuah kasus medis langka menimpa seorang wanita berusia 23 tahun di Florida, Amerika Serikat. Wanita yang sedang dalam masa menyusui ini dilarikan ke ruang gawat darurat setelah punggungnya dipenuhi ruam merah dengan pola garis-garis aneh yang menyerupai bekas cambukan parah.

Dikutip dari Live Science, kasus yang tercatat pada Oktober 2021 yang dipublikasikan dalam laporan medis Journal of Education & Teaching Emergency Medicine ini sempat membingungkan tim dokter, sebelum akhirnya terungkap bahwa penyebabnya adalah makanan yang dikonsumsi sehari sebelum gejala muncul, yaitu jamur shiitake.

Awalnya, ruam tersebut hanya berupa bercak meradang kecil di punggung atasnya. Pasien sempat berobat ke klinik darurat dan diberi obat steroid serta antihistamin. Namun, bukannya membaik, ruam itu justru menyebar ke punggung bawah dan membentuk pola garis panjang yang tidak beraturan, persis seperti luka akibat sabetan pecut atau cambuk.

Dokter sempat memeriksa kemungkinan adanya tanda-tanda alergi parah, sesak napas, hingga riwayat penyakit meningitis. Namun, seluruh tanda vital pasien menunjukkan angka normal, kecuali suhu tubuhnya yang sedikit meningkat di angka 37,3°C.

Ketika dokter mulai mengulik riwayat makanannya, wanita tersebut mengaku bahwa ia sempat menyantap hidangan mengandung jamur shiitake sehari sebelum punggungnya mulai terasa gatal.

Berdasarkan pengakuan tersebut, dokter mendiagnosis pasien mengalami Shiitake Dermatitis. Dalam dunia medis, kondisi ini juga dikenal dengan istilah Flagellate Dermatitis (Dermatitis Bendera).

Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh peneliti asal Jepang, Takehiko Nakamura, pada tahun 1977. Nama tersebut diambil dari kaum Flagel pada abad pertengahan, sebuah sekte keagamaan yang anggotanya kerap mencambuk diri sendiri sebagai bentuk demonstrasi iman.

Secara ilmiah, reaksi alergi ini dipicu oleh senyawa di dalam jamur bernama lentinan. Pada sebagian orang yang sensitif, lentinan memicu pelepasan protein peradangan tubuh (interleukin-1 dan sitokin) secara berlebihan hingga memanifestasikan ruam berbentuk cambukan di kulit. Fenomena ini biasanya terjadi jika jamur shiitake dikonsumsi dalam keadaan mentah atau kurang matang.

Tim dokter memastikan bahwa kondisi ini tidak berbahaya bagi bayi pasien, sehingga aktivitas menyusui tetap diizinkan secara aman. Pasien diminta melanjutkan pengobatan menggunakan krim hidrokortison topikal, klotrimasol, serta mengonsumsi antihistamin oral.

Setelah tiga minggu, ruam mirip cambukan tersebut dilaporkan hilang sepenuhnya tanpa bekas. Meskipun jamur shiitake sangat populer di seluruh dunia, kasus Shiitake Dermatitis tergolong sangat langka secara global. Hanya ada sekitar 100 kasus yang pernah tercatat resmi dalam literatur ilmiah, dengan mayoritas kasus terjadi di wilayah Asia.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks