Pencarian

Podcast Kelupas

Sejarah yang Hilang di Pekanbaru dan Jejak Kota Tua di Tepian Sungai Jantan

Jumat, 15 Mei 2026 • 16:39:00 WIB
Sejarah yang Hilang di Pekanbaru dan Jejak Kota Tua di Tepian Sungai Jantan
Kota Pekanbaru tempo dulu. (foto istimewa)

PEKANBARU (RA) - Pekanbaru hari ini dikenal sebagai kota metropolitan, pusat bisnis dan industri di Provinsi Riau. Gedung-gedung tinggi, jalan raya padat, serta pusat perbelanjaan modern tumbuh cepat di berbagai sudut kota.

Namun di balik hiruk-pikuk modernisasi itu, ada sejarah panjang yang perlahan memudar, bahkan hampir hilang dari ingatan generasi muda.

Dahulu, Pekanbaru bukanlah kota besar seperti sekarang. Kota ini berawal dari sebuah kawasan kecil bernama Senapelan, yang tumbuh di tepian Sungai Jantan.

Sungai itu menjadi urat nadi perdagangan masyarakat Melayu dan jalur penting Kesultanan Siak Sri Indrapura. Dari sungai inilah identitas Pekanbaru lahir.

Senapelan, Awal Mula Pekanbaru

Pada abad ke-18, kawasan Senapelan berkembang menjadi pusat perdagangan. Pedagang dari Minangkabau membawa hasil bumi melalui Sungai Jantan menuju Selat Malaka.

Aktivitas pasar yang semakin ramai membuat wilayah itu dikenal sebagai 'Pekan Baru' atau pasar baru. Nama itulah yang kemudian menjadi identitas kota hingga sekarang.

Namun sejarah tentang Senapelan kini mulai tenggelam. Banyak warga Pekanbaru sendiri tidak lagi mengetahui bahwa kawasan tua di sekitar Kampung Bandar dan tepian Sungai Jantan merupakan titik awal lahirnya kota ini.

Sungai Jantan dan Kota yang Pernah Hidup di Atas Air

Sebelum jalan raya mendominasi transportasi, Sungai Jantan adalah jalur utama kehidupan masyarakat. Kapal dagang, perahu masyarakat, hingga rombongan Kesultanan Siak hilir mudik di sungai tersebut.

Di tepian sungai pernah berdiri dermaga-dermaga kayu dan rumah-rumah panggung Melayu. Kini sebagian besar jejak itu hilang akibat abrasi, pembangunan modern, dan minimnya pelestarian sejarah.

Bahkan beberapa bangunan tua yang dulu menjadi saksi perjalanan Kesultanan Siak telah lenyap tanpa dokumentasi memadai.

Rumah Singgah Tuan Kadi, Saksi Bisu yang Masih Bertahan

Salah satu jejak sejarah yang masih tersisa adalah Rumah Singgah Tuan Kadi. Bangunan Melayu tua ini berada di tepian Sungai Jantan, tepat di bawah kawasan Jembatan Siak III.

Rumah tersebut dipercaya menjadi tempat persinggahan Sultan Siak ketika datang ke Pekanbaru melalui jalur sungai.

Dahulu di belakang rumah ini terdapat dermaga tempat kapal kerajaan berlabuh. Namun dermaga itu hilang akibat abrasi Sungai Jantan dan perubahan kawasan kota.

Rumah Tuan Kadi kini menjadi simbol kecil dari sejarah Pekanbaru yang nyaris terlupakan. Di tengah modernisasi kota, rumah panggung Melayu itu berdiri seolah mengingatkan bahwa Pekanbaru pernah tumbuh dari budaya sungai dan peradaban Melayu.

Masjid Raya Senapelan dan Jejak Kesultanan Siak

Selain Rumah Tuan Kadi, Masjid Raya Senapelan juga menjadi bagian penting dari sejarah Pekanbaru lama. Masjid ini disebut sebagai salah satu peninggalan penting Kesultanan Siak di Kota Pekanbaru.

Dahulu kawasan sekitar masjid merupakan pusat pemerintahan dan aktivitas masyarakat Melayu. Namun perkembangan kota membuat kawasan bersejarah itu perlahan terdesak oleh bangunan modern dan kepadatan permukiman.

Kota yang Kehilangan Identitas Lama

Modernisasi memang membawa kemajuan bagi Pekanbaru. Tetapi banyak kawasan bersejarah berubah tanpa mempertahankan karakter aslinya.

Rumah-rumah kayu Melayu diganti bangunan beton, tepian sungai dipenuhi permukiman padat, sementara cerita tentang asal-usul kota semakin jarang diceritakan.

Penelitian tentang revitalisasi kawasan Sungai Jantan menyebut bahwa nilai sejarah kawasan tua Pekanbaru semakin memudar akibat urbanisasi cepat dan kurangnya kesadaran pelestarian budaya.

Di media sosial dan forum internet, banyak warga juga mengungkapkan nostalgia tentang 'Pekanbaru dulu' yang lebih kental nuansa Melayunya dibanding sekarang.

Menjaga Sejarah yang Tersisa

Sejarah yang hilang di Pekanbaru bukan hanya soal bangunan tua yang runtuh. Yang paling berbahaya adalah hilangnya ingatan kolektif masyarakat terhadap asal-usul kotanya sendiri.

Jika kawasan Senapelan, Rumah Tuan Kadi, dan tepian Sungai Siak terus dilupakan, maka generasi mendatang hanya akan mengenal Pekanbaru sebagai kota beton tanpa mengetahui akar budaya Melayu yang membentuknya sejak ratusan tahun lalu.

Karena itu, pelestarian sejarah bukan sekadar menjaga bangunan lama, tetapi menjaga identitas sebuah kota agar tidak hilang ditelan zaman.

Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho beberapa kali menegaskan pentingnya menjaga identitas Melayu dan sejarah Kota Pekanbaru di tengah pesatnya pembangunan kota.

Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho saat memberikan edukasi sejarah Pekanbaru kepada anak usia dini.

Menurut Agung Nugroho, pembangunan modern tidak boleh menghapus jati diri Pekanbaru sebagai kota berbudaya Melayu.

Ia menilai kawasan bersejarah seperti Senapelan, Kampung Bandar, dan tepian Sungai Jantan harus dipertahankan sebagai warisan sejarah sekaligus identitas masyarakat Pekanbaru.

"Kalau sejarah kota ini hilang, maka generasi mendatang hanya akan mengenal Pekanbaru sebagai kota beton tanpa akar budaya," demikian pesan Agung yang kerap disampaikan dalam berbagai agenda pelestarian budaya dan penataan kawasan heritage di Pekanbaru.

Agung juga menyoroti pentingnya revitalisasi kawasan tua agar tidak sekadar menjadi simbol, tetapi hidup sebagai pusat wisata sejarah dan budaya Melayu.

"Pemerintah Kota Pekanbaru mulai mendorong penataan kawasan heritage Senapelan agar nilai sejarah kota tetap terjaga di tengah arus urbanisasi," ungkapnya, belum lama ini.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks