Pencarian

Podcast Kelupas

Dokter Eka Hospital Pekanbaru Ungkap Waktu Ideal Operasi Jantung

Jumat, 06 Maret 2026 • 19:47:57 WIB
Dokter Eka Hospital Pekanbaru Ungkap Waktu Ideal Operasi Jantung
Dokter Spesialis Toraks, Kardiak dan Vaskular Eka Hospital Pekanbaru, dr. Brilliant Sp.BTKV.

PEKANBARU (RA) - Waktu atau timing operasi jantung menjadi faktor penting yang sangat menentukan keberhasilan penanganan pasien dengan penyakit jantung.

Jika dilakukan terlalu cepat ataupun terlambat, tindakan operasi justru dapat meningkatkan risiko komplikasi.

Hal itu diungkapkan Dokter Spesialis Toraks, Kardiak dan Vaskular Eka Hospital Pekanbaru, dr. Brilliant Sp.BTKV, menjelaskan bahwa operasi jantung secara medis memiliki klasifikasi waktu tindakan yang berbeda sesuai kondisi pasien.

Menurutnya, secara umum tindakan bedah jantung dibagi menjadi tiga kategori, yakni elektif, urgensi, dan emergensi.

"Penentuan waktu operasi sangat tergantung pada stabilitas kondisi pasien, termasuk kondisi hemodinamik dan tingkat risiko klinis," jelas dr Brilliant, Jumat (6/3/2026).

Tiga Kategori Operasi Jantung

Ia menerangkan bahwa bedah elektif merupakan operasi yang dilakukan secara terencana pada pasien dengan kondisi stabil.

Pada kategori ini, dokter masih memiliki waktu untuk melakukan persiapan medis secara optimal guna menekan risiko komplikasi saat operasi.

"Pasien dalam kondisi stabil sehingga operasi bisa direncanakan dengan matang, termasuk persiapan pra-operasi untuk meminimalkan risiko," ujarnya.

Sementara itu, bedah urgensi merupakan operasi yang harus dilakukan dalam waktu relatif cepat, biasanya dalam rentang 24 hingga 72 jam.

Tindakan ini dilakukan karena kondisi pasien berisiko mengalami penurunan fungsi organ atau gagal jantung jika tidak segera ditangani.

Adapun kategori paling kritis adalah operasi emergensi, yaitu tindakan yang harus dilakukan segera untuk menyelamatkan nyawa pasien.

"Operasi emergensi dilakukan pada kondisi yang mengancam nyawa, misalnya pada kasus syok kardiogenik, ruptur jantung, atau gangguan aliran darah yang sangat berat," jelasnya.

Pentingnya Window of Opportunity

Selain klasifikasi waktu operasi, dr Brilliant juga menekankan pentingnya menentukan “window of opportunity” atau jendela waktu terbaik untuk melakukan tindakan bedah.

Ia menjelaskan bahwa operasi yang dilakukan terlalu cepat (prematur) bisa meningkatkan risiko peradangan, perdarahan, serta ketidakstabilan kondisi jantung.

Sebaliknya, jika operasi dilakukan terlalu lama setelah diagnosis, pasien berisiko mengalami kerusakan jantung permanen.

"Keterlambatan operasi dapat meningkatkan risiko kematian akibat perubahan struktur otot jantung atau fibrosis miokardium," terangnya.

Karena itu, dokter menilai waktu operasi yang optimal adalah ketika indikasi tindakan sudah jelas, namun kondisi jantung pasien belum mengalami kerusakan permanen.

Penyakit Jantung Masih Jadi Penyebab Kematian

dr Brilliant juga mengingatkan bahwa penyakit jantung hingga saat ini masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia.

Banyak pasien yang sebenarnya sudah direkomendasikan untuk menjalani operasi, namun memilih menunda karena merasa kondisi tubuh sudah membaik setelah terapi awal.

Padahal, penundaan tersebut dapat membuat kondisi penyakit berkembang menjadi lebih berat.

"Timing operasi sangat menentukan hasil terapi. Semakin tepat waktunya, peluang kesembuhan pasien juga semakin baik," katanya.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala penyakit jantung seperti nyeri dada, sesak napas, atau mudah lelah, serta segera melakukan pemeriksaan medis agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Operasi Jantung di Riau Sudah Bisa Dilakukan di Eka Hospital Pekanbaru

Rumah Sakit Eka Hospital Pekanbaru memberikan layanan operasi bedah jantung di Provinsi Riau yang terus mengalami perkembangan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Masyarakat kini tidak perlu lagi selalu dirujuk ke luar daerah untuk mendapatkan tindakan medis tersebut.

Dokter Spesialis Bedah Jantung Eka Hospital Pekanbaru, dr Brilliant menjelaskan, bahwa kemampuan operasi jantung di Riau sudah mulai berkembang sejak sekitar tahun 2015 dan semakin diperkuat sejak 2018.

"Perjalanan pelayanan operasi jantung ini dimulai sejak beberapa tahun lalu. Sekarang masyarakat Riau sebenarnya sudah memiliki harapan karena tindakan bedah jantung sudah bisa dilakukan di Eka Hospital Pekanbaru," ujarnya.

Ia mengatakan, perkembangan teknologi medis serta ketersediaan peralatan yang lebih modern membuat layanan operasi jantung semakin aman dan efektif.

Saat ini fasilitas kesehatan di Riau sudah memiliki sejumlah peralatan penting yang mendukung tindakan operasi jantung.

"Namun untuk kasus-kasus komplikasi gagal jantung berat, masih diperlukan alat khusus yang belum sepenuhnya tersedia di semua rumah sakit," ungkapnya.

Salah satu alat yang dimaksud adalah CARP, yang digunakan sebagai terapi tambahan pada pasien dengan komplikasi gagal jantung setelah operasi.

"Untuk beberapa kasus komplikasi berat memang masih membutuhkan alat tambahan seperti CARP. Alat ini sudah tersedia di rumah sakit yang lebih besar, tetapi belum semua fasilitas memilikinya," jelasnya.

Selain perkembangan teknologi medis, dokter juga menyoroti meningkatnya jumlah kasus penyakit jantung dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, pola hidup masyarakat menjadi salah satu faktor yang memicu peningkatan kasus penyumbatan pembuluh darah jantung.

"Jantung memiliki tiga pembuluh darah utama yang berfungsi menyuplai darah. Dalam banyak kasus yang kami temui, penyumbatan tidak hanya terjadi pada satu pembuluh, tetapi bisa dua bahkan tiga sekaligus," katanya.

Dalam kondisi penyumbatan lebih dari satu pembuluh darah, tindakan operasi bedah jantung sering kali menjadi pilihan terapi terbaik dibandingkan pemasangan ring atau stent.

Ia juga menekankan bahwa waktu atau timing operasi sangat menentukan keberhasilan tindakan bedah jantung.

"Banyak pasien sebenarnya sudah terindikasi operasi, tetapi menunda terlalu lama karena merasa sudah membaik setelah tindakan awal atau minum obat," ujarnya.

Padahal, kata dia, kondisi tersebut bisa membuat pasien terlambat mendapatkan tindakan yang tepat.

Dokter juga menilai masih banyak masyarakat yang memiliki ketakutan berlebihan terhadap operasi jantung.

Menurutnya, anggapan bahwa operasi jantung memiliki risiko kematian tinggi sebenarnya merupakan persepsi lama yang sudah banyak berubah.

Pada era awal perkembangan bedah jantung sekitar tahun 2000-an, angka komplikasi memang sempat berada pada kisaran 5 hingga 20 persen.

Namun dengan kemajuan teknologi, metode operasi, serta peningkatan kualitas perawatan pasien, angka risiko tersebut kini jauh menurun.

"Sekarang angka risiko operasi jantung rata-rata sekitar 5 persen, bahkan bisa lebih rendah tergantung kondisi pasien dan waktu penanganannya," jelasnya.

Ia menegaskan bahwa penyakit jantung hingga saat ini masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia, sehingga kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dan penanganan sejak dini sangat penting.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga medis apabila mengalami gejala seperti nyeri dada, sesak napas, atau keluhan lain yang berkaitan dengan jantung.

"Semakin cepat ditangani, peluang kesembuhan pasien akan jauh lebih baik," pungkasnya.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks