Kenali Ciri Air Minum yang Aman dari Cemaran Berbahaya

Kenali Ciri Air Minum yang Aman dari Cemaran Berbahaya
Kenali ciri air minum yang aman dikonsumsi bebas dari cemaran (Foto: Timesofindia)

Riauaktual.com - KONTROVERSI kebijakan pelabelan BPA pada galon guna ulang, yang diupayakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) masih berlanjut. Menurut pakar, ada yang lebih penting dari isu tersebut tentang kualitas air.

Ya, ada sejumlah fakta lain yang harus diwaspadai. Menurut data UNICEF, hampir 70% sumber air minum bagi rumah tangga Indonesia tercemar limbah feses.

Begitu juga hasil studi Kementerian Kesehatan, Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) yang dilakukan pada 2020, menyatakan bahwa 7 dari 10 rumah tangga Indonesia mengonsumsi air terkontaminasi bakteri E. coli.

Seminar Air Minum

“Kemenkes merekomendasikan kebutuhan air dalam sehari yaitu sekitar 8 gelas per hari. Betapa air memang sangat penting," ujar Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaeman, MS., Guru Besar Bidang Keamanan Pangan & Gizi di Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam keterangannya.

Prof Ahmad menjelaskan, air yang aman dikonsumsi syaratnya jernih, tidak berbau, dan tidak berasa. Air minum juga harus bebas dari cemaran dan mikroba berbahaya.

Sementara itu, Ahli Polimer dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc., Ph.D menilai, Kemasan galon guna ulang polikarbonat diketahui sudah digunakan lebih dari 38 tahun di Indonesia. Sampai hari ini, belum pernah mendengar ada orang yang meninggal atau sakit akibat keracunan air minum dari galon polikarbonat.

“Polikarbonat itu adalah plastik yang aman, dan terkategori sebagai food grade. BPA sendiri sudah lolos dari uji 34 macam bahan yang dikategorikan berbahaya untuk makanan,” terang Ir. Akhmad Zainal yang sebagaimana dikutip dari Okezone.com.

Ir Akhmad Zainal juga menegaskan, regulator perlu mengambil keputusan berdasarkan fakta-fakta ilmiah. Butuh waktu panjang untuk meluruskan semua isu ini.

“Jangan mengambil kebijakan berdasarkan isu yang belum terbukti secara ilmiah. Kita perlu menjadi negara yang betul-betul teredukasi,” tegasnya.

 

 

Berita Lainnya

index