Pencarian

Podcast Kelupas

Pejabat Negara yang Rela Melarat sampai Akhir Hayat

Senin, 09 Oktober 2017 • 12:36:43 WIB
Pejabat Negara yang Rela Melarat sampai Akhir Hayat
KH Agus Salim (Ilustrasi: Edy Wahyono)

Riauaktual.com - Prof William Schermerhorn, salah seorang pemimpin delegasi Belanda dalam perundingan Linggarjati memiliki penilaian khusus tentang sosok Kiai Haji Agus Salim. Kebetulan saat itu Agus Salim menjadi delegasi perwakilan Indonesia bersama Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo.

Menurut dia, Agus Salim adalah sosok orang yang sangat pandai, jenius dan menguasai sembilan bahasa. Tapi dia punya satu kelemahan, "yaitu selama hidupnya melarat," tulis Prof Schermerhorn dalam catatan hariannya, Senin malam 1 Oktober 1946.

Mohammad Roem dalam buku Manusa dalam Kemelut Sejarah terbitan LP3ES, Februari 1978 melukiskan kesederhanaan seorang Agus Salim. Saat itu di suatu hari di tahun 1925, Roem diajak Kasman dan Soeparno ke rumah Haji Agus Salim di Gang Tanah Tinggi, Jakarta.

Kasman dan Soeparno adalah pelajar Stovia kelas dua bagian persiapan. Adapun Roem pelajar kelas satu. Ketika itu Agus Salim menjadi penasihat Jong Islamieten Bond yang didirikan oleh Samsuridjal. Kasman dan Soeparno, anggota pengurus cabang Jakarta.

Maksud kedatangan mereka adalah ingin tahu kapan Haji Agus Salim mulai memberikan kursus agama Islam. Roem menggambarkan hari itu dari Asrama Stovia di Gang Kwini ke Tanah Tinggi ditempuh selama 10 menit dengan mengayuh sepeda.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks