PEKANBARU (RA) – Kampanye negatif terhadap industri kelapa sawit Indonesia dinilai masih menjadi tantangan serius di tengah ketatnya persaingan dagang global. Untuk melawannya, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memilih memperkuat kampanye positif berbasis edukasi dan data.
Sekretaris GAPKI Riau, Marianto, mengatakan tudingan negatif terhadap sawit memang terus muncul, terutama dari luar negeri. Namun menurutnya, upaya melawan narasi tersebut tidak cukup hanya dengan bantahan, melainkan melalui penyampaian informasi yang benar kepada masyarakat.
"Kampanye negatif memang masih menjadi persoalan di industri sawit. Ya memang karena persaingan dagang. Tapi cara kita melawan kampanye negatif ini ya dengan melakukan kampanye positif," ujar Marianto kepada riauaktual.com, Senin (11/5/2026).
Ia menjelaskan, GAPKI selama ini aktif melakukan sosialisasi dan edukasi tentang sawit, tidak hanya melalui media massa, tetapi juga langsung ke kalangan mahasiswa dan masyarakat yang dinilai belum memahami industri kelapa sawit secara utuh.
Menurutnya, kelompok yang minim informasi lebih mudah terpengaruh oleh kampanye negatif yang berkembang di tingkat global.
"Selain di media, GAPKI juga banyak melakukan kampanye positif ini ke mahasiswa dan pihak-pihak yang tidak mengerti tentang sawit. Karena mereka yang mudah terpengaruh dengan kampanye negatif dari luar ini," katanya.
Marianto mengakui, bahkan sebagian masyarakat yang sudah mengenal industri sawit pun terkadang masih ikut terbawa opini negatif yang berkembang. Karena itu, edukasi dinilai harus dilakukan secara berkelanjutan.
"Tapi memang banyak juga orang yang sudah paham tentang sawit, terpengaruh juga dengan kampanye negatif. Makanya ini dilawan dengan kampanye positif," tambahnya.
Untuk memperkuat pemahaman publik, Marianto menyebut Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) telah menerbitkan buku berjudul Mitos atau Fakta yang membahas berbagai tudingan terhadap sawit secara berbasis data dan kajian ilmiah.
"Sebenarnya untuk mengetahui secara pasti sawit itu seperti apa, PASPI sudah menerbitkan buku yang berjudul Mitos Atau Fakta. Di situ terbantahkan semua apa-apa yang dituduhkan tentang sawit," jelasnya.
Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, juga mendorong pemerintah memperkuat diplomasi internasional untuk menghadapi kampanye negatif terhadap sawit Indonesia.
Menurut Firman, pemerintah perlu lebih tegas menyampaikan narasi berbasis data demi melindungi kepentingan petani sawit nasional dan industri strategis Indonesia di pasar global.
"Kita tidak boleh terus minta dimengerti. Kita harus bicara tegas, berbasis data, dan membela kepentingan petani serta bangsa kita sendiri," ujar Firman.
Ia menilai tudingan terhadap sawit sering kali tidak sepenuhnya murni berbasis isu lingkungan, melainkan juga berkaitan dengan persaingan ekonomi dan proteksionisme dagang negara maju.
Firman menegaskan pembahasan soal lingkungan global seharusnya dilakukan secara adil, termasuk dalam membandingkan kebutuhan lahan dan dampak ekologis berbagai komoditas minyak nabati dunia.
"Kalau bicara lingkungan, harus adil. Jangan hanya sawit yang disorot, sementara kedelai, bunga matahari, atau rapeseed yang butuh lahan jauh lebih luas justru tidak pernah dipersoalkan," tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa Indonesia terus memperbaiki tata kelola industri sawit melalui sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), moratorium izin baru, hingga penguatan transparansi perkebunan sawit nasional.
"Yang harus kita lawan bukan sawitnya, tapi praktik buruknya. Kalau dikelola dengan benar, sawit justru seharusnya bisa menjadi solusi, bukan masalah yang mesti kita khawatirkan," pungkas Firman.