BAGAN BATU (RA) — Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Kabupaten Rokan Hilir mendorong petani sawit menerapkan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan kualitas pengelolaan kebun sekaligus mendongkrak nilai ekonomi hasil panen.
Ketua DPD APKASINDO Rokan Hilir, Tommy Efo Sihombing, mengatakan penerapan ISPO bukan sekadar memenuhi ketentuan yang berlaku. Lebih dari itu, sertifikasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperbaiki tata kelola perkebunan dan kualitas tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan petani.
Hal itu disampaikan Tommy dalam kegiatan Implementasi Sertifikasi ISPO bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Rokan Hilir serta kelompok tani dampingan APKASINDO di Hotel Suzuya, Bagan Batu, Selasa (22/9/2026).
Tommy menegaskan, peningkatan kualitas menjadi salah satu kunci untuk mendorong harga TBS petani.
“Untuk apa ini kita laksanakan? Pertama, kita harus naikkan harga. Untuk menaikkan harga, kita harus memperbaiki apa yang kita kerjakan. Itu kuncinya,” ujar Tommy.
Menurutnya, penerapan ISPO mencakup sejumlah prinsip penting, di antaranya keberlanjutan, ramah lingkungan, serta kepatuhan terhadap aturan. Petani juga didorong memastikan tanaman yang dibudidayakan memiliki kualitas baik dan pengelolaan kebun dilakukan sesuai ketentuan.
Ia menekankan pentingnya praktik perkebunan yang tidak merusak lingkungan, termasuk tidak melakukan pembakaran hutan. Aspek keselamatan dan kesehatan pekerja juga menjadi bagian dari tata kelola kebun yang baik.
Tommy mencontohkan penggunaan alat pelindung diri saat bekerja di kebun sebagai salah satu bentuk penerapan praktik kerja yang aman.
Ia menilai perbaikan kualitas tanaman dan tata kelola kebun pada akhirnya dapat memperkuat posisi tawar petani dalam rantai pasok sawit.
Dengan kualitas buah yang semakin baik, petani dinilai memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pembeli.
“Dengan ISPO, bukan lagi Bapak mencari pabrik. Nanti pabrik yang akan mencari Bapak,” katanya.
Tommy juga mencontohkan perubahan kualitas buah sawit yang dihasilkan petani di wilayah Bagan Sinembah. Menurutnya, perbaikan kualitas tanaman membuat hasil kebun petani semakin dikenal karena menghasilkan buah dengan kualitas yang lebih baik.
Di sisi lain, APKASINDO Rokan Hilir masih menghadapi persoalan kebun plasma yang berada dalam kawasan. Tommy menyebut terdapat sekitar 4.800 hektare kebun plasma yang masih membutuhkan penyelesaian.
“Kita masih punya pekerjaan untuk menyelesaikan sekitar 4.800 plasma yang masih dalam kawasan,” ujarnya.
Menurut Tommy, pihaknya tengah membahas sejumlah opsi penyelesaian bersama pemerintah dan pihak terkait. Salah satunya kemungkinan penggunaan surat keterangan dari penghulu bagi petani yang telah memiliki sertifikat, namun lahannya berada dalam kawasan.
“Kita akan coba bicara dengan Pak Gulat. Kemarin sudah bincang-bincang. Akan kita coba untuk urutan selanjutnya,” katanya.
Tommy berharap persoalan tersebut dapat segera menemukan solusi. Dengan demikian, program peremajaan sawit rakyat (PSR) dan pengembangan perkebunan petani di Rokan Hilir dapat berjalan lebih optimal.
“Jangan berkecil hati. Mari kita sama-sama berdoa untuk proses ini cepat selesai,” ujar Tommy.