PEKANBARU (RA) - Kasus penyerangan terhadap puluhan warga di Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, memasuki babak baru. Polisi telah menangkap dua orang yang diduga terlibat dalam aksi pengeroyokan tersebut.
Total 25 warga menjadi korban dalam peristiwa yang terjadi di kawasan perkebunan sawit pada Jumat (14/8/2026). Para korban mengalami berbagai luka setelah diserang sekelompok orang.
Kanit Reskrim Polsek Tambusai Utara, IPDA Rezi, mengatakan penangkapan dilakukan setelah polisi menerima laporan dari para korban dan melakukan penyelidikan.
"Belum semua pelaku ditangkap. Saat ini sudah dua pelaku yang berhasil kita tangkap," kata Rezi kepada riauaktual.com, Kamis (20/8/2026).
Menurut Rezi, polisi masih memburu pelaku lainnya yang diduga terlibat dalam penyerangan tersebut. Penyidik juga masih mendalami peran masing-masing pelaku.
"Korban seluruhnya ada 25 orang," ujarnya.
Sebelumnya, sejumlah korban mendatangi Polsek Tambusai Utara untuk melaporkan penyerangan tersebut. Kondisi mereka cukup memprihatinkan. Ada korban yang mengalami luka pada kepala, tangan, kaki, rusuk hingga mata.
Salah seorang korban, Gunawan (31), mengaku diserang saat sedang beristirahat di mess bersama rekan-rekannya setelah bekerja membersihkan kebun.
Menurut Gunawan, sekelompok orang tiba-tiba datang menggunakan tiga truk Colt Diesel dan dua mobil double cabin. Para pelaku kemudian berteriak dan menyerang para pekerja.
"Waktu itu kami sedang duduk-duduk di mess habis bekerja bersihkan kebun, tiba-tiba datang gerombolan orang tak dikenal dengan 3 truk Colt Diesel dan 2 mobil double cabin. Mereka berteriak 'serang', jadi kami langsung diserang," ujar Gunawan.
Gunawan mengaku dipukul menggunakan kayu dan besi. Ia mengalami luka pada hidung dan tangan hingga harus mendapat perawatan.
Ia juga mengaku diancam menggunakan senjata api dan kehilangan dua telepon selulernya.
Korban lainnya, Rizaldi (44), mengalami luka di sejumlah bagian tubuh. Kepalanya mengalami luka terbuka, sementara kedua matanya merah dan bengkak setelah ditendang.
"Kepala saya bocor dan tangan dihantam pakai balok kayu, mata saya ditendang, saya diseret-seret," ungkap Rizaldi.
Rizaldi mengatakan para korban tidak mampu melawan karena para penyerang membawa senjata. Setelah diserang, para korban disebut dikumpulkan dan dibawa keluar dari kawasan kebun menggunakan truk.
Penyerangan tersebut diduga berkaitan dengan persoalan lahan perkebunan sawit yang diklaim masyarakat.
Juru bicara masyarakat, Abdul Aziz, sebelumnya menyebut lahan yang dipersoalkan berada di Afdeling 19 dan 21 dengan luas sekitar 2.000 hektare. Menurutnya, sekitar 1.015 warga menggantungkan hidup dari lahan tersebut.
Aziz mengatakan lahan tersebut sebelumnya dipercayakan masyarakat untuk dikelola PT Torganda dengan pola "Bapak Angkat". Kemudian Koperasi Karya Bakti ditunjuk sebagai mitra.
Pada 2025, Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) melakukan penyitaan terhadap lahan tersebut karena disebut masuk kawasan hutan. Pengelolaan lahan kemudian diserahkan kepada PT Agrinas Palma Nusantara.
Masyarakat yang mengklaim sebagai pemilik lahan kemudian berupaya mendapatkan kembali pengelolaan lahan tersebut.
Aziz juga sebelumnya menyampaikan dugaan masyarakat mengenai keterlibatan PT Agrinas Palma Nusantara dalam penyerangan. Namun, dugaan tersebut belum terbukti dan masih dalam proses penyelidikan aparat.
IPDA Rezi mengatakan penanganan perkara kini telah diambil alih Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau.
Seluruh berkas perkara dan dua tersangka yang telah diamankan juga telah diserahkan kepada Polda Riau untuk proses hukum lebih lanjut.
"Saat ini kasus tersebut telah diambil alih oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Riau. Seluruh berkas perkara dan juga tersangka telah diserahkan ke Polda Riau," jelas Rezi.
Polisi masih melakukan pengembangan untuk menangkap pelaku lainnya sekaligus mengungkap secara utuh kronologi penyerangan tersebut.
Termasuk motif di balik aksi pengeroyokan yang menyebabkan 25 warga mengalami luka-luka.
"Motif masih dalam penyelidikan," pungkas Rezi.