Pencarian

Podcast Kelupas

Benarkah Minuman Panas Justru Bisa Mendinginkan Tubuh saat Cuaca Terik?

Ahad, 31 Mei 2026 • 06:02:45 WIB
Benarkah Minuman Panas Justru Bisa Mendinginkan Tubuh saat Cuaca Terik?
Ilustrasi air panas.

RIAUAKTUAL (RA) - Cuaca panas biasanya membuat banyak orang langsung mencari minuman dingin untuk menyegarkan tubuh. Namun, di berbagai negara seperti Indonesia, India, Jepang, hingga Arab Saudi, teh panas justru tetap menjadi pilihan favorit meski suhu sedang terik.

Banyak orang merasa teh panas tetap menyegarkan saat cuaca panas. Bahkan, dalam pengobatan tradisional Tiongkok, beberapa jenis teh bahkan dipercaya memiliki sifat menyejukkan meski diminum dalam keadaan panas. Lalu, benarkah minuman panas dapat membantu mendinginkan tubuh saat cuaca panas?

Dilansir dari Live Science, minuman panas memang dapat membantu mendinginkan tubuh, tetapi efek tersebut bergantung pada kondisi lingkungan dan situasi tertentu.

Menurut Peter McNaughton, profesor farmakologi di King's College London yang meneliti pengaturan suhu tubuh, minuman panas memang benar-benar dapat membantu menurunkan suhu tubuh.

“Hal ini memang terdengar sangat bertentangan dengan logika,” kata McNaughton, seperti dikutip dari laman Live Science. Namun, menurutnya, “meminum minuman panas memang dapat menurunkan suhu tubuh” selama kondisi udara tidak terlalu lembap.

Jika suhu minuman lebih panas daripada tubuh, pada awalnya “jelas minuman itu akan membuat tubuh menjadi lebih panas,” kata McNaughton. Namun manusia, seperti semua hewan berdarah panas, terus-menerus menyesuaikan diri untuk mempertahankan suhu internal yang stabil.

McNaughton menemukan bahwa minuman panas dan cabai pedas mengaktifkan reseptor pada saraf yang disebut TRPV1, yang memberi sinyal kepada tubuh bahwa tubuh perlu mendinginkan diri. Sebagai respons, manusia mulai berkeringat.

Keringat yang menumpuk di kulit memang terasa tidak nyaman, tetapi ketika ada angin atau kipas, udara yang bergerak membantu menguapkan keringat dan membawa panas keluar dari tubuh. Secara umum, McNaughton mengatakan bahwa “hidup manusia bergantung pada keringat.”

Berkeringat dapat membantu manusia bertahan pada beberapa suhu tertinggi yang pernah tercatat di Bumi, setidaknya pada kondisi panas kering. Namun, keringat menjadi kurang efektif pada kelembapan tinggi karena udara sudah dipenuhi uap air dan tidak dapat lagi menyerap banyak cairan dari kulit. Karena itu, suhu yang masih dapat ditoleransi tubuh menjadi jauh lebih rendah ketika kelembapan tinggi.

Sebuah penelitian tahun 2012 menemukan bahwa ketika keringat dapat menguap sepenuhnya, minuman panas dapat membantu mendinginkan tubuh secara keseluruhan, setidaknya untuk sementara waktu.

Penelitian tersebut berjudul "Body heat storage during physical activity is lower with hot fluid ingestion under conditions that permit full evaporation" yang terbit di Acta Physiologica. Penelitian dilakukan pada pesepeda yang bergerak cukup cepat sehingga menciptakan angin sendiri di lingkungan tanpa kelembapan, kondisi yang ideal untuk penguapan keringat.

Sebaliknya, minuman dingin menurunkan suhu tubuh lalu memberi sinyal kepada otak untuk mengurangi produksi keringat agar suhu tubuh kembali ke kondisi normal. Sebuah studi tahun 2018 berjudul "Does Cold Water or Ice Slurry Ingestion During Exercise Elicit a Net Body Cooling Effect in the Heat?" yang terbit di Sports Medicine, meneliti efek minuman dingin terhadap pendinginan tubuh saat cuaca panas.

Hasilnya menunjukkan bahwa mengonsumsi es serut mungkin lebih efektif untuk mendinginkan tubuh ketika angin minim, kelembapan tinggi, atau terdapat hambatan terhadap penguapan keringat, seperti pakaian tebal yang dikenakan petugas pemadam kebakaran.

McNaughton menjelaskan bahwa air dingin memang dapat membuat tubuh terasa lebih dingin. Namun, menurutnya, minuman dingin juga cenderung menekan produksi keringat sehingga bagi orang yang tubuhnya sudah dipenuhi keringat, efek tersebut mungkin justru terasa menyenangkan.

Ada cara penting lain bagaimana minuman panas dapat membantu menjaga tubuh tetap sejuk, yakni dengan menjaga tubuh tetap terhidrasi sehingga tubuh tetap bisa berkeringat. Dalam kondisi normal, tubuh dapat dengan cepat menyesuaikan diri terhadap chai panas maupun milkshake dingin, tetapi tubuh tidak dapat mengatasi kekurangan cairan. McNaughton menekankan bahwa prioritas utama adalah tetap minum, tanpa terlalu mempersoalkan apakah minuman tersebut panas, dingin, atau bersuhu ruang.

Cini Bhanu, peneliti klinis di University College London, meneliti hidrasi pada orang lanjut usia di Inggris yang sering memilih teh panas berkafein sebagai minuman utama mereka. Bhanu mengatakan bahwa banyak orang lanjut usia minum teh sambil merasa seharusnya mereka lebih banyak minum air putih. Namun menurutnya, seseorang yang tidak minum air putih tetapi mengonsumsi 10 cangkir teh tetap dapat memiliki hidrasi tubuh yang baik.

Karena kemampuan merasakan haus menurun seiring bertambahnya usia, Bhanu menyarankan agar lansia tetap minum sepanjang hari meskipun tidak merasa haus. Peminum teh yang menambahkan krim, gula, atau garam juga mendapatkan manfaat tambahan karena mereka mengganti sebagian elektrolit yang hilang melalui keringat, mirip seperti minuman olahraga.

Matt Brearley, yang bekerja sebagai konsultan terkait panas di lingkungan kerja, juga melihat banyak kesalahpahaman mengenai suhu minuman dan hidrasi, tetapi dalam arah yang berbeda. Dalam studi tahun 2017 berjudul "Should Workers Avoid Consumption of Chilled Fluids in a Hot and" yang terbit di Safety and Health at Work, ia menemukan bahwa banyak pekerja luar ruangan sebenarnya lebih menyukai air dingin, tetapi menghindarinya karena takut suhu dingin akan “mengagetkan” tubuh mereka.

Akibat keyakinan itu, mereka justru minum lebih sedikit dan menjadi kurang terhidrasi. Seperti Bhanu, Brearley menyarankan agar orang tetap percaya diri memilih suhu minuman yang mereka sukai demi menjaga hidrasi tubuh. Namun, ia juga menekankan bahwa hidrasi saja tidak cukup untuk menjaga pekerja luar ruangan tetap sejuk pada hari yang sangat panas. Mereka juga membutuhkan dukungan lain seperti waktu istirahat yang lebih lama dan akses ke pendingin udara.

Brearley bekerja di wilayah Australia yang panas dan lembap, kondisi yang membuat keringat lebih sulit menguap sehingga tubuh pekerja tidak dapat mendinginkan diri secara efektif hanya dengan berkeringat lebih banyak. Ia menyarankan agar orang menghindari minuman panas ketika mengalami stres panas, yaitu kondisi ketika tubuh tidak mampu membuang panas berlebih.

Namun, menurutnya, kondisi ini sebenarnya tidak terlalu umum. Ketika pekerja diberi kebebasan memilih suhu minuman yang mereka sukai, para pekerja di wilayah tropis cenderung lebih memilih minuman sejuk atau dingin.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks