Pencarian

Podcast Kelupas

Permigastara Soroti Ketimpangan Energi di Riau, Usulkan Pembentukan Dewan Energi EBT Lancang Kuning

Sabtu, 14 Februari 2026 • 11:48:00 WIB
Permigastara Soroti Ketimpangan Energi di Riau, Usulkan Pembentukan Dewan Energi EBT Lancang Kuning
Ketua Umum DPN Permigastara, Peri Akri.

PEKANBARU (RA) - Ketua Umum DPN Perkumpulan Pengusaha Minyak, Gas, Energi Baru dan Terbarukan Nusantara (Pemigastara), Peri Akri, menyuarakan keresahannya terhadap kondisi Provinsi Riau yang dinilainya belum sepenuhnya menikmati hasil kekayaan alamnya sendiri, khususnya di sektor energi dan perkebunan. 

Sebagai putra asli Bumi Lancang Kuning, Peri Akri menilai Riau memiliki sejarah panjang dalam menopang keuangan negara, mulai dari kontribusi minyak dan gas bumi hingga perkebunan kelapa sawit. 

Namun, menurutnya, kesejahteraan masyarakat belum sebanding dengan besarnya sumber daya yang telah dihasilkan. 

"Riau dikenal sebagai negeri minyak, dari atas hingga ke bawah. Bertahun-tahun minyak diambil dari bumi Riau, tetapi masyarakat masih banyak yang belum merasakan manfaat optimalnya. Riau dapat apa?" ujarnya, Sabtu (14/2/2026). 

Dia memaparkan, sejak awal berdirinya Republik Indonesia, Riau telah memberikan kontribusi signifikan. Ia menyinggung hibah dari Kerajaan Siak pada masa awal kemerdekaan, Bahasa Melayu Riau sebagai cikal bakal Bahasa Indonesia, hingga kualitas minyak Riau yang dikenal memiliki kadar belerang rendah dan pernah menjadi salah satu yang terbesar di dunia. 

Selain itu, Riau juga memiliki luas perkebunan sawit terluas di Indonesia, serta menjadi lokasi beroperasinya dua pabrik pulp dan kertas terbesar di dunia. 

"Begitu banyak keberlimpahan negeri Melayu Lancang Kuning ini. Dalam perspektif kami, belum ada daerah lain yang bisa menyamai keberlimpahan tersebut," tegasnya. 

Ia juga menyebut, sebelum pandemi Covid-19, pertumbuhan ekonomi Riau secara konsisten berada di atas rata-rata nasional, menunjukkan potensi besar sebagai lokomotif ekonomi kawasan barat Indonesia bahkan Asia Tenggara. 

Terkait sektor energi, Peri Akri menyoroti temuan cadangan minyak baru di Rokan Hulu sekitar 7,49 juta barel serta di wilayah Selatpanjang, Kepulauan Meranti. 

Dengan temuan tersebut, estimasi cadangan minyak Riau disebut mencapai sekitar 3,4 miliar barel, yang diperkirakan cukup untuk sekitar 25 tahun produksi, kecuali ditemukan teknologi perminyakan baru yang mampu memperpanjang masa eksploitasi. 

Namun, ia mengingatkan bahwa cadangan minyak fosil tetap akan menipis. Di sisi lain, Riau masih memiliki potensi besar di sektor perkebunan dan energi baru terbarukan (EBT). 

Sebagai langkah strategis, Peri Akri mengusulkan pembentukan Dewan Energi, EBT Lancang Kuning yang beranggotakan unsur lintas disiplin ilmu, tokoh masyarakat, ahli energi, serta perwakilan dari 12 kabupaten/kota di Riau. 

Menurutnya, dewan tersebut cukup dibentuk melalui Peraturan Gubernur (Pergub) dan bertanggung jawab langsung kepada Gubernur Riau. Tugas utamanya adalah mensupervisi dan mengoordinasikan seluruh BUMD di Riau, tidak hanya di sektor migas tetapi juga jasa penunjangnya. 

"Dewan Energi EBT Lancang Kuning harus memastikan tata kelola profesional dan berorientasi profit untuk memperkuat ekonomi daerah. Kita harus mengoptimalkan sisa waktu energi fosil sebelum berakhir, baik karena faktor cadangan, isu lingkungan, maupun keekonomian," jelasnya. 

Ia juga menyinggung Kota Duri yang pernah disebut dalam literatur migas sebagai tanah air baru Amerika karena besarnya potensi energi yang dimiliki. 

Peri Akri juga menekankan pentingnya political will untuk mengubah peta jalan ekonomi Riau, baik secara makro maupun mikro. Ia menilai sudah saatnya Riau memiliki blueprint pembangunan energi yang terarah dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat. 

"Semoga langkah kecil ini berdampak besar bagi perekonomian Riau dan kesejahteraan masyarakat Bumi Melayu Lancang Kuning. Riau wajib mengubah peta jalan ekonominya," tutupnya.
 

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks