Dituduh Picu Emisi, Sawit Justru Jadi Penyerap Karbon di Lahan Gambut

Kamis, 07 Mei 2026 | 07:46:00 WIB
Perkebunan sawit di lahan gambut

PEKANBARU (RA) - Perkebunan kelapa sawit di lahan gambut kembali menjadi sorotan di tengah isu perubahan iklim dan emisi gas rumah kaca (GRK). Selama ini, kelompok pegiat lingkungan dan NGO anti sawit menilai pembukaan lahan gambut untuk budidaya sawit menjadi penyumbang besar emisi karbon.

Namun, kajian yang dikutip dari laman Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) menyebut anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Dengan tata kelola yang baik, perkebunan sawit di lahan gambut justru disebut mampu menekan emisi sekaligus menjadi penyerap karbon atau net carbon sink.

PASPI menjelaskan, emisi karbon pada lahan gambut sangat dipengaruhi oleh pengelolaan air. Gambut terbentuk dalam kondisi anaerob atau minim oksigen. Ketika lahan dibuka dan dibuat saluran drainase, lapisan atas gambut berubah menjadi aerob sehingga lebih mudah terdekomposisi dan melepaskan CO2 ke atmosfer.

Meski demikian, emisi tersebut dapat ditekan dengan menjaga kelembapan lapisan atas gambut melalui pengelolaan tata air yang berkelanjutan.

“Pemanfaatan lahan gambut sangat tergantung pada pengelolaan air. Jika kelembapan gambut tetap terjaga, maka emisi CO2 dapat ditekan,” tulis PASPI mengutip hasil penelitian Marwanto dkk.

Dalam kajian itu dijelaskan, emisi CO2 dari permukaan tanah berasal dari respirasi akar tanaman dan respirasi mikroorganisme tanah. Namun sebagian besar karbon tersebut kembali diserap oleh tanaman sawit selama proses fotosintesis.

Penelitian Dariah dkk (2014) menyebut tanaman sawit berumur enam tahun menghasilkan sekitar 30 persen respirasi akar dari total respirasi tanah. Sementara penelitian Sabiham dkk (2014) menunjukkan pada tanaman sawit berumur 14-15 tahun, kontribusi respirasi akar meningkat hingga 74 persen.

Di sisi lain, volume biomassa dan stok karbon sawit di lahan gambut juga meningkat seiring bertambahnya umur tanaman. Studi Chan (2002) serta Sabiham (2013) mencatat stok karbon pada perkebunan sawit umur 14-15 tahun mencapai 73 ton per hektare, lebih tinggi dibanding hutan gambut sekunder yang berada di kisaran 57,3 ton per hektare.

Tak hanya itu, sejumlah penelitian juga menunjukkan emisi GRK dari lahan gambut justru menurun setelah dimanfaatkan menjadi perkebunan sawit dengan pengelolaan yang baik.

Emisi GRK dari hutan gambut sekunder atau degraded peat land disebut mencapai sekitar 127 ton CO2 per hektare per tahun. Setelah ditanami kelapa sawit, emisi turun menjadi sekitar 31-58 ton CO2 per hektare per tahun.

Kajian lebih rinci dilakukan IPB University melalui penelitian Sabiham dkk (2021). Hasilnya, pada musim kemarau, emisi CO2 dari perkebunan sawit di lahan gambut tercatat sebesar 16,1 ton CO2 per hektare per tahun. Namun, jumlah CO2 yang diserap tanaman mencapai 60,6 ton CO2 per hektare per tahun.

Dengan kondisi tersebut, perkebunan sawit di lahan gambut menghasilkan Net Carbon Sink sebesar 54,6 ton CO2 per hektare per tahun pada musim kemarau.

Sementara pada musim hujan, emisi CO2 tercatat sebesar 20,4 ton CO2 per hektare per tahun, sedangkan penyerapan karbon mencapai 23,7 ton CO2 per hektare per tahun. Artinya, tetap terjadi Net Carbon Sink sebesar 3,3 ton CO2 per hektare per tahun.

PASPI menilai berbagai hasil penelitian tersebut membantah kampanye negatif yang menyebut sawit di lahan gambut selalu meningkatkan emisi GRK.

“Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit dengan tata kelola yang baik justru dapat menurunkan emisi lahan gambut,” tulis PASPI.

Tags

Terkini

Terpopuler