Pencarian

Podcast Kelupas

Model Ekonomi Sirkular Sawit Tumbuh di Riau, Limbah Berubah Jadi Sumber Cuan

Rabu, 06 Mei 2026 • 21:02:14 WIB
Model Ekonomi Sirkular Sawit Tumbuh di Riau, Limbah Berubah Jadi Sumber Cuan
Limbah sawit diubah menjadi pakan ternak.

PEKANBARU (RA) - Di tengah dominasi industri kelapa sawit di Riau, sekelompok warga justru menemukan 'harta karun' dari sesuatu yang selama ini dianggap tak bernilai, yakni limbah sawit. 

Melalui inovasi sederhana namun berdampak besar, limbah itu kini menjelma menjadi sumber pakan ikan hingga pupuk organik yang menggerakkan ekonomi desa.

Ini merupakan salah satu bentuk nyata bahwa ekonomi sirkular berjalan di tengah perkebunan kelapa sawit. 

Adalah Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Bangko Jaya Sejahtera yang menjadi motor perubahan tersebut. Dipimpin Suparman Amir (48), kelompok ini sukses memanfaatkan limbah sawit seperti solid, abu boiler, hingga limbah peternakan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

"Kita hidup dikelilingi raksasa industri sawit, pantang rasanya bila kita cuma diam tanpa berproses. Dengan akal dan tekad, limbah yang dulunya terbuang sia-sia kini menjadi kunci untuk memutus rantai ketergantungan," ujar Suparman, Rabu (6/5/2026).

Sebelumnya, budidaya ikan dan pertanian di Desa Bangko Jaya menghadapi tekanan berat. Harga pakan pabrikan dan pupuk kimia terus meroket, membuat keuntungan petani dan pembudidaya nyaris habis untuk biaya operasional.

Di sisi lain, limbah sawit dan kotoran ternak melimpah, namun belum tersentuh karena keterbatasan pengetahuan dan teknologi.

Berangkat dari kondisi itu, warga mulai bereksperimen memanfaatkan potensi lokal. Titik balik terjadi saat PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) masuk melalui program Desa Energi Berdikari (DEB), memberikan pendampingan intensif.

Melalui program tersebut, warga dibekali pelatihan produksi pakan mandiri, pengelolaan keuangan, hingga pembuatan probiotik. Fasilitas seperti mesin pencacah, alat penepung, dan Solar Dryer House turut mempercepat produksi.

Hasilnya signifikan. Limbah sawit kini menjadi bahan utama pakan ikan dengan formulasi teruji.

"Biaya pakan berhasil ditekan hingga 40 persen, dari Rp15 ribu sampai Rp16 ribu per kilogram menjadi sekitar Rp8 ribu hingga Rp9 ribu per kilogram," tambahnya. 

Produksi pun meningkat. Dari 10 kolam bioflok aktif, panen lele mencapai sekitar 537 kilogram per siklus. Total keuntungan tercatat mencapai Rp64,4 juta, dengan rata-rata pendapatan anggota naik hingga Rp6,4 juta per siklus.

Tak berhenti di perikanan, inovasi ini merambah sektor pertanian. Limbah Sawit yang diolah melalui reaktor biogas menghasilkan bio slurry yang kemudian diubah menjadi pupuk organik.

Dampaknya, petani mampu mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia hingga 50 persen. Selain lebih hemat, kualitas tanah dan hasil panen juga meningkat.

Manager CID PHR Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menyebut keberhasilan ini sebagai bukti kekuatan inisiatif masyarakat yang didukung kolaborasi tepat.

"PHR percaya kekuatan pembangunan desa terletak pada inisiatif masyarakatnya. Kami hadir memfasilitasi inovasi berbasis potensi lokal yang meningkatkan nilai ekonomi sekaligus memperkuat kemandirian dan ketahanan lingkungan," ujarnya.

Kini, Pokdakan Bangko Jaya Sejahtera tak hanya fokus produksi, tetapi juga mulai membidik peluang komersialisasi pakan dan pupuk mandiri yang dibuat dari limbah sawit. 

Transformasi ini menjadi contoh nyata bahwa limbah sawit bukan lagi masalah, melainkan solusi. Dari desa kecil di Riau, lahir model ekonomi sirkular yang mampu menekan biaya, meningkatkan pendapatan, sekaligus menjaga lingkungan.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks