PEKANBARU (RA) – Keterlambatan pencairan uang bulanan beasiswa pengembangan SDM sawit kembali menjadi perhatian.
Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat ME Manurung, menyampaikan harapan agar ke depan proses penyaluran dana dapat semakin baik dan tepat waktu, demi mendukung kelancaran studi para mahasiswa penerima.
Gulat mengungkapkan, sebagian mahasiswa penerima beasiswa saat ini mulai merasa cemas karena dana biaya hidup belum diterima. Padahal, mayoritas penerima berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.
"Anak-anak penerima beasiswa ini sebagian besar dari keluarga kurang mampu, sekitar 85 persen. Dana bulanan tersebut sangat membantu untuk kebutuhan sehari-hari seperti kos, makan, dan transportasi," ujarnya, Senin (27/4/2026).
Ia menilai, keterlambatan pencairan tentu dapat berdampak pada aktivitas harian mahasiswa. Meski demikian, Apkasindo lebih menekankan pentingnya pembenahan sistem agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang.
"Kami memahami ini mungkin bagian dari proses administratif. Namun harapannya ke depan bisa lebih lancar, sehingga anak-anak bisa fokus belajar tanpa terganggu hal-hal teknis," tambahnya.
Program beasiswa sawit sendiri merupakan inisiatif Direktorat Jenderal Perkebunan di bawah Kementerian Pertanian, yang didukung pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Program ini bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor kelapa sawit.
Selain pembiayaan kuliah, para penerima juga mendapatkan bantuan biaya hidup sebesar Rp 2,3 juta per bulan hingga lulus. Bantuan ini menjadi penopang utama bagi mahasiswa dalam menjalani pendidikan mereka.
Melalui kondisi yang terjadi saat ini, Apkasindo berharap adanya evaluasi dan penyempurnaan mekanisme penyaluran dana, sehingga manfaat program beasiswa sawit dapat dirasakan secara optimal dan berkelanjutan oleh para mahasiswa penerima.