Riauaktual.com - Kesan awal sebuah baju hazmat atau alat pelindung diri (APD) selalu berwarna putih polos dan kedodoran saat dikenakan oleh pemakainya. Tetapi tidak demikian dengan baju hazmat custom Dokter Nina Agustin, seorang dokter gigi di Kota Malang.
Pemilik praktik Esthetic Dental Clinik (EDC) itu memakai baju hazmat sesuai standar keamanan (safety) dan fashionable yang kaya warna dan slim (langsing). Sehingga saat mengenakan hazmat, sosoknya sebagai dokter gigi tidak lagi ditakuti pasiennya, apalagi di masa pademi Covid-19.
"Saya kan dulu waktu awal pandemi pakai hazmat biasa yang standar, polos dan modelnya agak besar. Kemudian lama-lama merasa tidak nyaman pakai itu," kata Nina Agustin mengawali kisah di kliniknya, Jalan Raya Telaga Golf 1, Perumahan Araya Kota Malang, Selasa (21/7).
"Selain itu, pasien saya juga segala usia, dari anak-anak sampai orang tua, terutama pasien anak-anak itu merasa takut ketika melihat dokternya yang pakai hazmat seperti itu," sambungnya.
Nina selalu mengenakan hazmat custom selama melayani para pasien, begitu pun perawat pendampingnya. Tetapi bedanya untuk hazmat perawat dipilih warna polos perpaduan biru dan hijau.
Warna dan corak hazmat Nina memang terbilang unik dengan motif terang dan berani, serta beberapa koleksi yang lain bergambar wajah, termasuk wajah selebritis dunia Marilyn Monroe. Motif-motifnya dipengaruhi gaya pop art yang memanfaatkan wajah, simbol dan lain-lain.
Model jahitannya pun dibuat langsing, sehingga sekilas menampilkan lekuk tubuh seksi pemakainya. Namun semua itu tidak menganggu gerak dan aktivitas selama bekerja merawat pasien.
"Saya ingin mengombinasikan antara fashion dan safety, tetapi kita tidak mengesampingkan faktor keamanan. Apalagi dokter gigi ini pengamanannya level 3," tegasnya.
Nina saat bekerja melengkapi diri dengan penutup kepala yang kemudian ditutup dengan hoodie hazmatnya. Selain itu juga mengenakan googgles (kacamata), respirator (masker khusus), face shield, sarung tangan serta sebuah sepatu boots.
"Tapi bagaimana membuat pasien-pasien tidak takut itu, saya combine dengan sedikit modifikasi, lebih ke arah fashionable," tegas Alumnus Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu.
Ruang kerja pratik pun didominasi dengan warna pink, yang terpadu apik dengan peralatan yang serba putih, khas dokter. Papan nama warna pink pun tertempel di tempok yang menjadi latar peralatan praktik.
Namun ditegaskan, fashionable sebagai sesuatu yang sangat penting namun tidak boleh mengabaikan faktor keamanan. Secara prosedur, kliniknya juga sudah melalui hal itu, yakni dengan menerapkan protokol kesehatan.
Pasien yang datang wajib mencuci tangan di tempat yang disediakan, memakai masker, menerapkan physical distance. Bahkan pasien juga mengenakan penutup kepala dan baju khusus selama mendapat perawatan.
Sejak pandemi Covid-19, kata Nina, peralatan kliniknya juga dilengkapi airosol air suction yang terintegrasi dengan peralatan pemeriksaan lain. Alat tersebut mendukung keamanan antara dokter dan pasien, sehingga keduanya aman dan nyaman.
"Karena sebagai dokter gigi itu kita kalau menghadapi pasien tidak hanya satu jam dua jam, itu bisa beberapa jam dalam sehari. Itu bener-bener harus bikin lingkungan kerja yang nyaman dan aman buat dokternya," jelasnya.