Pencarian

Podcast Kelupas

Kesaksian Perempuan Yazidi Yang Dijadikan Budak Seks ISIS

Sabtu, 04 Agustus 2018 • 08:11:42 WIB
Kesaksian Perempuan Yazidi Yang Dijadikan Budak Seks ISIS
Berivan Halo. ABC News: Meghna Bali

Riauaktual.com - Ketika Berivan Halo mengingat kembali hari pernikahannya, ia tidak ingat gaunnya, perayaan atau bahkan makanannya. Ia hanya mengingat nasib malang yang menimpanya.

Poin utama:
  • Empat tahun lalu kehidupan Berivan Halo berubah selamanya ketika kelompok Negara Islam (ISIS) menculiknya dan keluarganya
  • Ia akhirnya melarikan diri setelah dijadikan sebagai budak seks selama 25 bulan
  • Kelompok Yazidi memperkirakan keberadaan sekitar 3.000 perempuan, anak perempuan dan anak-anak masih belum diketahui

Ia berpikir tentang bagaimana hal itu hampir tidak terjadi.

Sebagai anggota minoritas etnis Yazidi Irak dan berusia 16 tahun pada saat itu, pernikahannya kala itu begitu rumit.

Berivan dan tunangannya saat itu, Ameen Shakeer Faris, telah berpacaran selama dua tahun, tetapi membutuhkan restu keluarga mereka untuk menikah.

Negosiasi berlangsung selama seminggu. Akhirnya, hari bahagia mereka dirayakan dengan pesta besar.

Empat tahun lalu, kehidupan Berivan berubah selamanya di tangan kelompok Negara Islam (ISIS) ketika ia dan keluarganya diculik.

Mereka tetap bersama di dalam penahanan selama sembilan bulan, sebelum para militan memisahkan laki-laki dan perempuan.

Sejak saat itu, Ia tak lagi melihat suaminya.

"Yang saya pikirkan adalah bagaimana ia tak bersama saya lagi, yang bisa saya lakukan untuknya adalah merawat anak-anaknya sebaik mungkin," kata Berivan.

"Ada lubang yang sangat besar dalam hidup kami ... tapi saya berusaha melakukan yang terbaik untuk menjadi ayah dan ibu pada saat yang bersamaan."

Berivan berusia 24 tahun dan hamil pada saat ia diculik.

Ia akhirnya melarikan diri, setelah dijadikan sebagai budak seks selama 25 bulan -dipukuli dan diperkosa berulang kali bersama sekitar 10.000 warga Yazidi lainnya.

Meski mengalami pelecehan seksual yang mengerikan, Berivan menganggap dirinya sebagai salah satu yang beruntung.

Militan ISIS membunuh paman dan saudara iparnya, dan menahan 22 dari anggota keluarganya di tempat penahanan.

Sel teroris itu bertanggung jawab atas genosida di tanah leluhur Yazidi, Sinjar, Irak utara, di mana ribuan perempuan dan anak perempuan diculik, dijual menjadi budak dan berulang kali disiksa.

Beberapa diiklankan pada aplikasi pengiriman pesan terenkripsi layaknya komoditas.

Dalam enam bulan terakhir dari penahanannya, Berivan dipisahkan dari dua dari empat anaknya, seorang bocah laki-laki dan perempuan, yang akan dijual ke pasar budak ISIS.

"Semuanya berubah sejak saat itu," katanya.

"Hidup kami sejak saat itu hanyalah kesedihan dan tangisan."

Berivan menunjukkan sebuah foto di hari pernikahannya.
Berivan menunjukkan sebuah foto di hari pernikahannya. ABC News: Meghna Bali

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks