Pencarian

Podcast Kelupas

Penyesalan Masa Lalu Bisa Membebani Pikiran saat Usia Bertambah, Ini Sebabnya

Jumat, 06 November 2026 • 06:47:53 WIB
Penyesalan Masa Lalu Bisa Membebani Pikiran saat Usia Bertambah, Ini Sebabnya
Ilustrasi menyesal.

RIAUAKTUAL (RA) - Seiring bertambahnya usia, seseorang mungkin semakin sering mengingat berbagai peristiwa yang pernah terjadi dalam hidupnya. Kenangan tentang hubungan yang tidak berjalan baik, keputusan yang disesali, hingga kesempatan yang terlewat terkadang kembali muncul dan menimbulkan beban emosional.

Bagi sebagian orang, ingatan tersebut bukan sekadar nostalgia. Ada perasaan bersalah, kecewa, atau luka lama yang belum sepenuhnya terselesaikan. Bahkan, pengalaman yang sudah berlangsung puluhan tahun sebelumnya dapat terasa kembali menyakitkan ketika seseorang memasuki usia lanjut.

Fenomena ini berkaitan dengan konsep biographical pain atau rasa sakit biografis yang diperkenalkan oleh gerontolog asal Inggris, Profesor Malcolm Johnson.

Konsep tersebut menggambarkan penderitaan psikologis dan spiritual yang muncul ketika seseorang mengenang kembali pengalaman hidupnya, terutama kesalahan, janji yang tidak terpenuhi, hubungan yang retak, dan penyesalan menjelang akhir kehidupan.

Dikutip dari Psychology Today, psikolog Sam Carr, Ph.D menyebut pengalaman psikologis orang lanjut usia menjelaskan bahwa kesadaran tentang keterbatasan waktu dapat membuat persoalan masa lalu terasa semakin mendesak.

Ketika masih muda, seseorang mungkin merasa memiliki banyak waktu untuk memperbaiki hubungan, meminta maaf, atau menyelesaikan konflik yang belum tuntas. Namun, ketika memasuki usia lanjut, kesadaran bahwa waktu hidup semakin terbatas dapat mengubah cara seseorang memandang pengalaman tersebut.

Persoalan yang sebelumnya dianggap masih bisa diselesaikan suatu hari nanti justru dapat menjadi sumber kecemasan dan penyesalan. Dalam konsep biographical pain yang dikembangkan Malcolm Johnson, kondisi ini berkaitan dengan kenangan tentang perlakuan buruk yang pernah diterima, janji yang tidak ditepati, keputusan yang disesali, hingga hubungan yang tidak sempat diperbaiki.

Sebagai contoh, seseorang mungkin masih menyimpan luka karena hubungan dengan orangtuanya tidak pernah membaik. Ketika orangtua tersebut sudah meninggal dunia, kesempatan untuk membicarakan masalah atau memperoleh penjelasan menjadi semakin terbatas.

Situasi serupa juga dapat terjadi pada seseorang yang menyesali keputusan hidup tertentu atau merasa belum mencapai hal-hal yang dahulu diimpikan.

Salah satu hal yang membuat biographical pain sulit dikenali adalah sifatnya yang sering kali tidak terlihat.

Sam Carr juga mengutip pandangan Malcolm Johnson bahwa penderitaan psikologis dan spiritual ini dapat luput dari perhatian apabila tidak muncul melalui gejala kesehatan fisik maupun mental.

Akibatnya, seseorang bisa saja terlihat menjalani kehidupan seperti biasa, tetapi sebenarnya menyimpan berbagai penyesalan dan persoalan emosional yang belum terselesaikan.

Beban tersebut juga dapat terasa semakin berat ketika seseorang tidak memiliki ruang aman untuk menceritakan pengalaman hidupnya. Sam Carr menggambarkan pengalaman seorang perempuan lanjut usia bernama Janet.

Ia mengungkapkan bahwa dirinya ingin memiliki seseorang yang bersedia mendengarkan ceritanya tanpa harus memberikan nasihat. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa orang yang sedang menghadapi penyesalan masa lalu tidak selalu membutuhkan solusi langsung.

Terkadang, mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk didengarkan dan dipahami.

Salah satu pendekatan yang dibahas dalam artikel tersebut untuk membantu meringankan biographical pain adalah biographical listening. Istilah ini merujuk pada proses mendengarkan perjalanan hidup seseorang secara terbuka dan tanpa menghakimi.

Orang yang mendengarkan memberikan waktu dan ruang bagi pencerita untuk mengungkapkan pengalaman, penyesalan, serta perasaan yang selama ini dipendam. Pendekatan ini tidak bertujuan mengubah kejadian yang sudah berlalu.

Sebaliknya, seseorang diberi kesempatan untuk menceritakan kembali pengalaman hidupnya dan merasa bahwa kisah tersebut didengar serta diterima.

Dengan demikian, meskipun masa lalu tidak dapat diubah, cara seseorang membawa dan memaknai pengalaman tersebut dapat mengalami perubahan. Keluarga dan orang-orang terdekat dapat berperan dengan menyediakan ruang percakapan yang nyaman bagi lansia.

Mendengarkan tanpa menyela, tidak meremehkan perasaan, serta menghindari sikap menghakimi dapat membantu mereka merasa lebih dihargai. Jika penyesalan atau luka emosional mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan tenaga profesional kesehatan mental juga dapat menjadi langkah yang dipertimbangkan.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks