Pencarian

Podcast Kelupas

Rupiah Dekati Rekor Terlemah, BI Ungkap Sejumlah Pemicunya

Kamis, 29 Oktober 2026 • 06:00:36 WIB
Rupiah Dekati Rekor Terlemah, BI Ungkap Sejumlah Pemicunya
Foto : Ilustrasi (Istimewa)

JAKARTA (RA) - Bank Indonesia (BI) mengungkap sejumlah faktor yang menekan nilai tukar rupiah hingga mendekati level terlemahnya sepanjang masa. Tekanan berasal dari ketidakpastian konflik Timur Tengah, arus keluar modal asing, hingga kekhawatiran terhadap status pasar saham Indonesia dalam indeks global MSCI.

Rupiah ditutup melemah 0,17% ke level Rp 18.183 per dolar AS pada perdagangan Rabu (28/10/2026) kemarin. Posisi ini mendekati level terlemah rupiah sepanjang masa di kisaran Rp 18.900 per dolar AS yang tercatat pada Juni 2026.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah masih memengaruhi pergerakan rupiah dan mata uang negara-negara kawasan.

"Pergerakan rupiah dan mata uang kawasan hari ini masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah," ujar Erwin dalam keterangan yang dilansir dari Beritasatu.com.

Menurut Erwin, konflik tersebut turut menjaga harga minyak di atas US$ 115 per barel dan meningkatkan risiko fiskal. Pada saat yang sama, ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) meningkat menjelang pengumuman kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Tekanan juga datang dari penguatan dolar AS akibat meningkatnya sentimen risk-off, yang mendorong investor menarik modal dari pasar negara berkembang. Kenaikan imbal hasil obligasi turut menambah tekanan terhadap rupiah.

Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI serta meningkatnya kebutuhan valuta asing menjelang akhir bulan ikut memengaruhi aliran dana.

Meski demikian, Erwin menilai pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Secara bulanan, rupiah tercatat melemah 1,15%.

BI, lanjut Erwin, terus melakukan stabilisasi nilai tukar agar rupiah bergerak sesuai dengan fundamental ekonomi. Langkah tersebut dilakukan melalui transaksi non-deliverable forward (NDF), domestic non-deliverable forward (DNDF), dan pasar spot.

BI juga membeli surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder serta berkoordinasi dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya.

Di tengah tekanan terhadap rupiah, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$ 146,3 miliar pada akhir September 2026.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks