RIAUAKTUAL (RA) - Kebanyakan orang cenderung mengabaikan luka kecil di kulit, dan membiarkannya sembuh dengan sendirinya hingga mengering. Padahal, kebiasaan ini justru menjadi pemicu utama munculnya bekas luka yang membandel dan sulit dihilangkan.
Spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika, dr Pipim Septiana Bayasari Yudho Purwono, SpDVE, mengungkapkan bahwa pasien yang datang ke kliniknya paling banyak mengeluhkan masalah bekas luka. Baik yang berupa hiperpigmentasi (noda hitam) maupun scar (jaringan parut).
"Dan ketika dia ingin menghilangkan bekas, entah itu hiperpigmentasi atau scar, itu jauh lebih sulit daripada mencegah di awal," ujar dr Pipim dikutip dari detikHealth.
Tak hanya sulit, perawatan untuk menghilangkan bekas luka yang sudah terlanjur terbentuk juga membutuhkan biaya (cost) yang jauh lebih besar, dibandingkan penanganan awal.
dr Pipim menegaskan bahwa penanganan luka yang tepat harus segera dilakukan sejak awal, agar proses penyembuhan berjalan optimal sekaligus meminimalisir risiko munculnya bekas. Langkah pertolongan pertama yang wajib dilakukan meliputi:
- Bersihkan luka: Gunakan produk pembersih yang lembut (gentle) agar tidak memicu iritasi tambahan.
- Gunakan pelembab (moisturizer): Menjaga kelembapan area luka sangat krusial untuk mempercepat regenerasi jaringan kulit.
Banyak orang salah kaprah dengan menghentikan perawatan begitu saja setelah permukaan luka menutup. Padahal, skin barrier atau fondasi kulit di area tersebut belum sepenuhnya pulih.
"Kulit itu secara superficial mungkin akan tertutup dengan baik. Tapi secara skin barrier, fondasinya belum tentu baik. Dan itu butuh 3 sampai 6 bulan untuk memperkuat fondasinya," terangnya.
Jika perawatan dihentikan terlalu cepat, area kulit yang pernah terluka akan rentan mengalami luka berulang saat terkena pemicu (trigger) baru. Menurut dr Pipim, merawat kelembapan dan skin barrier merupakan hal mendasar yang setidaknya harus konsisten dilakukan selama 3-6 bulan pasca-luka, atau bahkan dipertahankan seumur hidup.
Bagi individu yang memiliki faktor genetik mudah keloid atau jaringan parut tebal, dr Pipim menyarankan tindakan pencegahan ekstra setelah luka tertutup.
Penggunaan plester khusus (seperti plester gel silikon) sangat dianjurkan untuk menahan pertumbuhan jaringan parut agar tidak makin menimbul atau membesar.
"Setelah itu, kita tanya apabila ada genetiknya gampang scar, gampang keloid, sebaiknya menggunakan plester untuk mencegah terjadinya jaringan parut yang lebih tebal lagi," pungkasnya.