PEKANBARU (RA) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Riau, mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap bagi kesehatan masyarakat.
Ahli kebakaran hutan dan lahan, Bambang Hero Suharjo, mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan asap yang ditimbulkan dari karhutla, khususnya kebakaran di lahan gambut.
Menurutnya, asap gambut mengandung berbagai zat berbahaya yang dapat mengancam kesehatan hingga berisiko menimbulkan dampak serius bagi kelompok rentan.
Hal itu disampaikan Bambang saat meninjau lokasi karhutla bersama Menteri Lingkungan Hidup di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, Sabtu (22/8/2026) kemarin.
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) itu mengatakan, dalam beberapa hari terakhir terjadi peningkatan titik api di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Sumatera, tetapi juga mulai terlihat di Kalimantan.
Menurut Bambang, peningkatan karhutla perlu mendapat perhatian serius karena selain menghasilkan asap berbahaya, kebakaran hutan dan lahan juga berpotensi meningkatkan emisi gas rumah kaca yang berdampak terhadap perubahan iklim.
"Jadi jangan sekali-kali melihat asap yang keluar dari lahan gambut itu seperti asap orang bakar sampah. Asap gambut ini 50 persen mengandung racun," ujar Bambang.
Ia menjelaskan, asap hasil pembakaran lahan gambut mengandung berbagai gas dan partikel berbahaya yang dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui sistem pernapasan. Dampaknya dapat semakin serius apabila paparan terjadi dalam waktu lama dan mengenai kelompok rentan.
Salah satu zat berbahaya yang disebut Bambang adalah hidrogen sianida yang dapat menyebabkan keracunan hingga berujung pada kematian dalam paparan tertentu.
Selain itu, terdapat pula senyawa seperti furan yang menurutnya dapat mengganggu pertumbuhan anak dan berpotensi berkontribusi terhadap stunting.
Karena itu, Bambang secara khusus mengingatkan ibu hamil agar menghindari paparan kabut asap karhutla. Ia meminta masyarakat mengambil langkah pencegahan ketika kualitas udara mulai terganggu akibat asap.
"Jadi jangan coba-coba bawa ibu muda sedang hamil keluar rumah dalam kondisi berasap. Kalau bisa dijauhkan atau pakai masker dan sebagainya. Itu adalah upaya pencegahan," katanya.
Bambang mengaku telah beberapa kali turun langsung ke lokasi karhutla di Riau. Kehadirannya tidak hanya untuk melihat kondisi lapangan, tetapi juga membantu aparat kepolisian melakukan investigasi dan mengungkap kasus karhutla berdasarkan kajian ilmiah.
Salah satu lokasi yang pernah diinvestigasi adalah lahan PT Teguh Karsa Wana Lestari (TKWL) di Kabupaten Bengkalis. Investigasi tersebut dilakukan bersama tim Subdit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Ditreskrimsus Polda Riau dalam rangka mengungkap penyebab dan pihak yang bertanggung jawab atas kebakaran.
Menurutnya, penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan upaya pemadaman. Pencegahan, investigasi, edukasi masyarakat, serta penegakan hukum harus berjalan secara bersamaan agar kebakaran tidak terus berulang.
"Hal ini menegaskan kembali kepada dunia luar bahwa Pemerintah Indonesia tidak pernah meninggalkan hal yang seperti ini. Maka itu, penegakan hukum dilakukan. Tentu saja semua itu butuh bantuan dari berbagai pihak," tuturnya.
Ia pun mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama ketika kondisi cuaca kering dan faktor lain mendukung muncul serta meluasnya titik api.
"Jangan anggap remeh asap karhutla. Dampaknya bukan hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga dapat mengancam kesehatan masyarakat dalam jangka pendek maupun panjang," pungkasnya.