RIAUAKTUAL (RA) - Kesadaran masyarakat terhadap penyakit autoimun pada saat ini masih tergolong rendah, sebab gejalanya yang bervariasi dan menyerupai beragam penyakit lainnya, sehingga diperlukan edukasi untuk menanamkan pemahaman yang baik tentang penyakit ini.
Sebelum menyelami mitos dan fakta seputar autoimun, perlu dipahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan autoimun.
Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI, Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Alergi Immunologi Klinik dan Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (Peralmuni) menjelaskan, bahwa autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sendiri akibat kegagalan mekanisme toleransi imun.
“Jadi imun sistem kita atau antibodi itu melawan benda asing yang masuk ke tubuh, tapi karena sistem imun kita error, antibodi itu atau sistem kekebalan, dia menyerang tubuh kita sendiri. Kan bahaya, jadi kayak musuh di dalam selimut,” tutur dr. Iris dalam acara talkshow bertemakan "Tetap Survive dan Happy Dengan Autoimun" yang diselenggarakan di Prodia Health Care Jakarta, seperti melansi Kompas.
Penyakit autoimun bukan satu jenis penyakit dengan gejala yang seragam. Dalam kesempatan yang sama, dr. Iris menjelaskan, terdapat lebih dari 100 jenis penyakit autoimun yang telah dikenali dan gangguannya dapat mengenai berbagai organ, mulai dari otak, tiroid, kulit, otot, saraf, jantung, darah, hingga sistem pencernaan.
Secara umum, penyakit autoimun terbagi menjadi dua kelompok, yakni organ spesifik dan sistemik. Pada jenis organ spesifik, sistem imun terutama menyerang satu organ tertentu, sedangkan penyakit sistemik seperti lupus dapat memengaruhi banyak organ sekaligus.
Misalnya, kalau yang diserang di bagian kulit namanya Psoriasis. Kalau di syaraf namanya Mystenia Grafis. Kalau yang sistemik ada Lupus, Sjogren Syndrom.
Selain itu, masih ada banyak jenis penyakit autoimun. Namun, perlu dipahami bahwa penyakit ini bukan penyakit menular.
Karena organ yang terdampak bisa berbeda, gejala autoimun pun tidak selalu sama pada setiap orang.
Dr. Iris menyebut demam yang tidak jelas penyebabnya, nyeri atau masalah pada sendi, kelelahan, gangguan kulit, gangguan pencernaan, hingga kecemasan dan depresi sebagai sejumlah keluhan yang dapat muncul.
Pada lupus, misalnya, gejala dapat berupa nyeri sendi, kelelahan, demam yang tidak jelas, hingga ruam berbentuk seperti kupu-kupu di wajah.
“Lupus adalah penyakit autoimun sistemik yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang berbagai organ, sendi, ginjal, kulit, rambut rontok, dan kemudian nyeri sendi, vatigue,” sebut dr. Iris.
Di sinilah anggapan yang perlu diluruskan. Menurut dr. Iris, sampai saat ini penyakit autoimun tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu penyebab.
Autoimun merupakan hasil interaksi faktor genetik, regulasi sistem imun, dan pencetus dari lingkungan. Stres berkepanjangan memang termasuk faktor yang dapat memicu gangguan regulasi imun, terutama pada orang yang sudah memiliki kerentanan tertentu.
Selain stres, dr. Iris menyebut gangguan regulasi imun, pola makan yang buruk, kelelahan kronik, kurang olahraga, polusi, paparan bahan kimia, serta infeksi tertentu sebagai faktor lingkungan yang juga dapat berperan. Lalu, dr. Iris juga menyebut bahwa faktor genetik membuat seseorang lebih rentan.
“Faktor genetik membuat seseorang lebih rentan 30%. Jadi, kalau ada genetik, ada keturunan, 30% anaknya atau cucunya akan lebih cepat terkena autoimun,” ungkap dr. Iris.
Artinya, mengatakan seseorang terkena autoimun hanya karena terlalu sering stres atau memendam emosi tentu terlalu menyederhanakan persoalan. Namun, mengelola stres tetap penting karena kondisi emosional yang buruk dapat menjadi salah satu pencetus yang membuat penyakit lebih mudah kambuh atau kerap disebut sebagai flare.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah penyakit autoimun dapat benar-benar hilang. Dr. Iris menjelaskan bahwa pada umumnya autoimun ditujukan untuk dikontrol hingga mencapai kondisi remisi, bukan dinyatakan sembuh begitu saja.
“Apakah autoimun dapat sembuh? Pada umumnya penyakit autoimun dapat dikontrol, dikendalikan dengan baik,” jelas dr. Iris.
Pasien tetap perlu menjalani pengobatan dan menjaga pola hidup, termasuk cukup beristirahat, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga, serta mengenali faktor pencetus yang perlu dihindari.
Dukungan keluarga juga tidak kalah penting untuk membantu pasien menjalani pengobatan dan menjaga kondisi emosional. Dr. Iris menekankan bahwa penyintas autoimun tidak perlu merasa menjalani semuanya sendirian.
"Penyintas autoimun harus menjaga pola hidup sehat, cukup istirahat, makan makanan sehat dan gizi seimbang, olahraga rutin, dan minum obat sesuai dengan anjuran dokter," pesan dr. Iris.