Pencarian

Podcast Kelupas

RI Hadapi Ancaman 'Silent Cognitive Burden', Seserius Ini Dampaknya ke Anak

Sabtu, 25 Juli 2026 • 05:43:16 WIB
RI Hadapi Ancaman 'Silent Cognitive Burden', Seserius Ini Dampaknya ke Anak
Ilustrasi

RIAUAKTUAL (RA) - Indonesia dinilai tengah menghadapi ancaman 'silent cognitive burden', yakni kondisi ketika kapasitas neurokognitif anak menurun secara perlahan tanpa disadari orang tua. Kondisi ini kerap luput dari perhatian karena gejalanya samar dan sulit dibedakan dengan keluhan kesehatan sehari-hari.

Indonesia Health Development Center (IHDC) mencatat sedikitnya empat faktor utama yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut.

"Kajian IHDC ini mengusulkan model Community Framework, yang menjelaskan bahwa perkembangan kapasitas kognitif merupakan hasil interaksi antara faktor biologis, kualitass ensorik, fungsi neurokognitif, perilaku, dan lingkungan sosial, dan sebaiknya mulai diukur sejaku sia anak, agar anak bisa belajar memetakan imajinasi dan trajektori masa depannya." ungkap Direktur Eksekutif IHDC Dr Ray Wagiu Basrowi, seperti melansir detikHealth.

Faktor pertama adalah gangguan penglihatan. IHDC memperkirakan lebih dari 8 juta anak usia 5 hingga 9 tahun atau setara usia sekolah dasar mengalami gangguan penglihatan. Dampaknya sangat besar karena sekitar 90 persen proses belajar anak bergantung pada input visual.

Anak dengan ketajaman penglihatan yang buruk diketahui memiliki risiko 1,68 kali lebih tinggi mengalami keterlambatan literasi. Temuan ini juga diperkuat oleh penelitian di Indonesia yang menunjukkan masalah penglihatan dapat menurunkan nilai akademik anak hingga 4,32 poin.

Faktor kedua adalah anemia defisiensi zat besi. Studi IHDC mengestimasi sekitar 7,5 juta balita di Indonesia mengalami kondisi tersebut.

Dalam analisis yang dilakukan pada anak sekolah dasar di wilayah perkotaan Jakarta, anak dengan defisiensi zat besi memiliki risiko dua hingga tiga kali lebih tinggi mengalami penurunan 'working memory'. Mereka juga cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas-tugas yang berkaitan dengan fungsi kognitif.

Faktor ketiga berkaitan dengan rendahnya asupan protein. IHDC melaporkan sekitar 58 persen anak Indonesia belum mendapatkan asupan protein yang cukup, padahal nutrisi ini berperan penting dalam perkembangan otak.

Protein dibutuhkan untuk pembentukan neuron, proses sinaptogenesis, mielinisasi, hingga neuroplastisitas. Namun, hanya sekitar 40 persen balita yang memperoleh asupan protein sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG).

Faktor terakhir adalah gangguan kesehatan mental dan perilaku anak.

Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 300 ribu anak yang mengalami gangguan kecemasan (anxiety), yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari dan proses belajar mereka. Sementara itu, data Program Cek Kesehatan Gratis mencatat sekitar 338 ribu anak mengalami kecemasan dan 363 ribu anak berpotensi mengalami depresi.

Ketua Dewan Pembina Indonesia Health Development Center (IHDC) sekaligus Menteri Kesehatan RI periode 2014-2019, Prof Nila Moeloek, mengingatkan bahwa berbagai masalah tersebut tidak boleh lagi dipandang sebagai persoalan kesehatan individu semata.

"Selama ini kita menganggap gangguan penglihatan, anemia, atau masalah perilaku sebagai persoalan kesehatan individual. Padahal bila terjadi pada jutaan anak Indonesia, dampaknya dapat memengaruhi kualitas modal manusia nasional. Yang hilang bukan hanya nilai rapor, tetapi juga potensi berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan," ujar Prof Nila Moeloek.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks