Pencarian

Podcast Kelupas

Bukan Sekadar FOMO, Dokter Ungkap Manfaat Lari untuk Tubuh

Sabtu, 20 Juni 2026 • 06:15:11 WIB
Bukan Sekadar FOMO, Dokter Ungkap Manfaat Lari untuk Tubuh
Ilustrasi lari.

RIAUAKTUAL (RA) - Fenomena lari belakangan semakin mudah ditemui di berbagai kota di Indonesia. Dari kawasan car free day hingga taman kota, semakin banyak orang yang menyempatkan diri mengenakan sepatu lari dan berolahraga bersama komunitas.

Bagi sebagian orang, tren ini mungkin terlihat sebagai bagian dari fenomena fear of missing out (FOMO) atau keinginan untuk ikut-ikutan tren yang sedang populer. Namun di balik itu, para ahli menilai meningkatnya minat masyarakat terhadap lari justru membawa dampak positif bagi kesehatan.

Data terbaru menunjukkan bahwa 7 dari 10 masyarakat Indonesia kini menjadikan lari dan aktivitas luar ruang sebagai bagian dari keseharian mereka. Pertumbuhan ini juga mendorong berkembangnya komunitas lari, dengan jumlah klub lari yang meningkat hingga 3,5 kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Dokter Ikhsanuddi Qothi yang aktif membagikan edukasi di media sosial, tren olahraga yang sedang berkembang saat ini patut diapresiasi karena dapat membantu masyarakat menjalani hidup yang lebih sehat.

"Kalau kita bicara olahraga, sebenarnya tidak bisa memisahkan antara tubuh dan pikiran. Keduanya saling berkorelasi. Saat pikiran sehat, tubuh juga cenderung lebih sehat. Sebaliknya, tubuh yang sehat akan membantu menjaga kesehatan mental," ujar Ikhsanuddi dikutip dari CNN Indonesia.

Ia menegaskan bahwa olahraga, termasuk lari, seharusnya tidak lagi dipandang sebagai aktivitas rekreasional semata.

"Menurut saya, olahraga bukan hanya kegiatan rekreasi, tetapi sudah menjadi kebutuhan agar kualitas hidup seseorang menjadi lebih baik," katanya.

Lari dikenal sebagai salah satu olahraga yang mudah dilakukan dan tidak membutuhkan banyak peralatan. Meski terlihat sederhana, manfaatnya sangat luas.

Secara fisik, lari membantu meningkatkan kesehatan jantung dan paru-paru, memperkuat otot, menjaga berat badan ideal, serta meningkatkan daya tahan tubuh. Aktivitas ini juga membantu memperlancar sirkulasi darah sehingga berbagai organ tubuh dapat bekerja lebih optimal.

Tak hanya itu, manfaat lari juga dirasakan pada kesehatan mental. Saat berlari, tubuh melepaskan hormon endorfin yang dapat memunculkan perasaan senang dan membantu mengurangi stres. Karena itu, banyak orang merasa suasana hati menjadi lebih baik setelah berolahraga.

Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan aktivitas fisik rutin dapat membantu menurunkan risiko gangguan kecemasan dan depresi, sekaligus meningkatkan kualitas tidur. Ikhsanuddi menilai inilah alasan mengapa olahraga tidak boleh hanya dipandang dari aspek fisik semata.

"Kita tidak bisa memisahkan kesehatan tubuh dan pikiran. Keduanya saling mendukung," ujarnya.

Meski tren lari sedang berkembang pesat, menjaga konsistensi tetap menjadi tantangan terbesar bagi banyak orang. Menurut Ikhsanuddi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki pola pikir atau mindset mengenai tujuan berolahraga.

"Mindset-nya harus dibenarkan terlebih dahulu, yaitu olahraga karena ingin sehat," kata dia.

Ia mengingatkan bahwa tujuan utama lari bukanlah mengejar jarak terjauh atau kecepatan tertinggi.

"Lari itu bukan soal seberapa cepat atau seberapa jauh, tetapi seberapa sehat yang bisa kita dapatkan dari aktivitas tersebut," jelasnya.

Selain itu, aspek nutrisi juga tidak boleh diabaikan. Tubuh memerlukan asupan gizi yang cukup untuk mendukung performa sekaligus mempercepat pemulihan setelah berolahraga.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks