Pencarian

Podcast Kelupas

Mengapa Perempuan Hidup Lebih Lama daripada Laki-Laki?

Rabu, 17 Juni 2026 • 06:14:33 WIB
Mengapa Perempuan Hidup Lebih Lama daripada Laki-Laki?
Ilustrasi.

RIAUAKTUAL (RA) - Jika Anda seorang perempuan, kemungkinan besar Anda akan hidup lebih lama daripada saudara laki-laki atau teman pria Anda—sekitar lima tahun, jika berdasarkan rata-rata global.

Alasan pasti di balik umur panjang perempuan ini belum sepenuhnya diketahui, namun para ilmuwan memiliki sejumlah penjelasan.

Temuan tersebut juga dapat membantu menjelaskan mengapa pada beberapa spesies, seperti jenis burung tertentu, justru jantan yang memiliki keunggulan dalam hal usia panjang.

"Di hampir setiap negara, perempuan hidup lebih lama dibandingkan laki-laki," kata Prof Sarah Harper, Direktur Oxford Institute of Population Ageing di Inggris, dikutip dari BBC News.

Namun, dia menekankan bahwa "perbedaannya sangat bervariasi antarnegara".

Di Rusia, Ukraina, dan Vietnam misalnya, perempuan hidup sekitar 10 tahun atau lebih lama, sementara di tempat seperti Nigeria, selisihnya sangat kecil, menurut publikasi riset Our World in Data. Para ilmuwan menilai sebagian variasi ini disebabkan oleh perbedaan sosial dan perilaku.

Ada bukti bahwa di Rusia, "faktor pendorong yang sangat besar pada dasarnya adalah kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol," jelas Harper, yang lebih umum ditemui di kalangan laki-laki di negara tersebut.

Di seluruh dunia, kaum pria juga cenderung lebih sering terlibat dalam perilaku lain yang dapat memperpendek usia.

"Pola makan mereka umumnya kurang sehat," kata Harper.

Dia juga menambahkan bahwa lelaki cenderung lebih jarang memeriksakan diri ke dokter, meskipun "laki-laki yang sudah menikah memiliki keuntungan… karena biasanya pasangan mereka akan mendorong mereka untuk berobat".

Menurutnya, di banyak masyarakat, pria lebih sering bekerja di sektor yang berisiko tinggi, dan maskulinitas kerap dikaitkan dengan kecenderungan mengambil risiko.

"Angka kematian laki-laki jauh lebih tinggi akibat kecelakaan lalu lintas, kekerasan, pembunuhan, hingga bunuh diri," ujarnya.

Namun, gambaran ini tidak bersifat tetap.

Di United Kingdom (UK), misalnya, kampanye anti-merokok pada 1960-an dan 1970-an menyebabkan penurunan angka kematian dini di kalangan laki-laki.

"Tiba-tiba kesenjangan itu menyusut secara drastis," kata Harper.

Namun, menurutnya, kesenjangan berdasarkan jenis kelamin tersebut tidak akan pernah sepenuhnya hilang seiring perubahan kebiasaan, karena "akan selalu ada perbedaan biologis" antara perempuan dan laki-laki.

Salah satu perbedaan tersebut adalah hormon.

"Estrogen melakukan banyak hal untuk melindungi perempuan," kata Prof Consuelo Borrás, fisiolog yang mengkhususkan diri pada masalah penuaan di Universitas Valencia, Spanyol.

Menurutnya, perlindungan itu mencakup pengendalian kadar kolesterol dan pengaturan sistem kekebalan tubuh, hingga pencegahan infeksi saluran kemih serta menjaga kesehatan otak dan tulang.

Salah satu cara hormon ini memberikan banyak manfaat adalah dengan bertindak sebagai antioksidan, yang melawan partikel berbahaya yang disebut radikal bebas—zat yang menumpuk di dalam sel dan berkontribusi pada proses penuaan.

"Banyak penelitian menunjukkan bahwa hilangnya perlindungan estrogen saat menopause akan memengaruhi berbagai fungsi dalam tubuh," jelas Borrás.

"Sebagai contoh, osteoporosis memang merupakan bagian dari proses penuaan, tetapi juga disebabkan oleh berkurangnya estrogen."

Dia menambahkan, ketika terapi penggantian hormon diberikan kepada perempuan yang tepat pada tahap awal menopause, sering kali sejumlah fungsi tersebut dapat kembali membaik.

Di sisi lain, hormon seks utama pada laki-laki adalah testosteron, yang dikaitkan dengan kecenderungan perilaku berisiko lebih tinggi.

Borrás menduga hormon ini juga dapat menimbulkan sejumlah dampak merugikan dalam tubuh, meskipun mekanismenya belum sepenuhnya dipahami.

Sebuah studi pada 2012 menemukan bahwa kelompok kasim Korea pada masa lalu—yang telah dikebiri sehingga tidak memproduksi testosteron—hidup 14 hingga 19 tahun lebih lama dibandingkan laki-laki yang tidak dikebiri.

Namun, data tersebut memiliki keterbatasan dan tentu tidak dapat direplikasi karena alasan yang jelas.

Meski demikian, bukti pada sejumlah hewan juga menunjukkan bahwa jantan cenderung hidup lebih lama setelah dikebiri.

Hormon mungkin merupakan salah satu bagian dari teka-teki panjang umur, tetapi bukan satu-satunya faktor.

"Ada banyak faktor yang terlibat dan kita mengetahui sebagian di antaranya, tetapi saya rasa ini merupakan proses yang sangat kompleks," kata Borrás.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks