Pencarian

Podcast Kelupas

APKASINDO: Dolar Naik Bukan Patokan Margin Petani Sawit

Selasa, 19 Mei 2026 • 11:47:02 WIB
APKASINDO: Dolar Naik Bukan Patokan Margin Petani Sawit
Ketua Umum DPP Apkasindo, Dr Gulat Medali Emas Manurung.

JAKARTA (RA) - Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai masih memberi dampak positif terhadap harga crude palm oil (CPO) dan pendapatan petani sawit. Meski begitu, fluktuasi kurs disebut tidak bisa dijadikan patokan utama dalam mengukur keuntungan petani.

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia, Gulat Medali Emas Manurung mengatakan beberapa pekan lalu rupiah memang sempat melemah cukup dalam terhadap dolar AS. Namun dalam dua hari terakhir, kurs rupiah kembali bergerak di kisaran Rp17.500 per dolar AS.

“Memang beberapa minggu lalu sempat terjadi penurunan rupiah terhadap dolar. Tetapi pada dua hari terakhir kan naik kembali ke angka kisaran Rp17.500 per dolar,” ujar Gulat kepada riauaktual.com, Selasa (19/5/2026).

Menurutnya, naik turunnya dolar AS tidak menjadi patokan utama bagi petani sawit dalam menghitung margin usaha. Sebab, kurs dolar lebih berpengaruh terhadap harga pokok produksi (HPP), terutama yang berkaitan dengan kebutuhan impor seperti pupuk.

“Saya pikir naik turunnya dolar ini tidak menjadi patokan bagi kami petani sawit untuk mengukur margin dari petani. Dolar itu menentukan HPP yang berkaitan dengan pembelian pupuk,” katanya.

Meski begitu, kondisi dolar yang masih berada di level tinggi dinilai tetap memberikan manfaat bagi petani sawit karena mendorong kenaikan harga CPO di pasar global.

“Dengan kondisi sekarang yang dolar berada di kisaran Rp17.500 seperti masih memberikan manfaat yang cukup berarti kepada petani sawit dengan terdongkraknya harga CPO,” jelasnya.

Gulat menuturkan, sawit saat ini telah menjadi komoditas global yang seluruh transaksi perdagangannya menggunakan mata uang dolar AS. Karena itu, perubahan nilai tukar rupiah akan ikut mempengaruhi harga jual sawit dunia.

“Karena memang minyak sawit sudah menjadi komoditi global, dan seluruh transaksinya di bursa juga menggunakan dolar,” ujarnya.

Ia mengaku bersyukur kenaikan dolar turut mendongkrak harga CPO. Namun demikian, pihaknya tetap mewaspadai dampak negatif dari pelemahan rupiah, terutama terhadap biaya produksi petani.

“Untuk itu kami sangat bersyukur atas naiknya harga CPO akibat melemahnya rupiah atau kenaikan dolar, tetapi kami tidak melupakan dampak negatif dari kenaikan dolar ini,” katanya.

Menurut Gulat, selama ini banyak pihak hanya memandang sawit sebagai komoditas pangan, energi, dan oleokimia. Padahal, peran sawit jauh lebih besar karena telah menjadi bagian penting dalam posisi tawar Indonesia di tingkat global.

“Banyak orang melihat sawit hanya sebatas komoditi food, energi dan oleo. Tetapi sebenarnya tidak demikian, bahwa sawit telah menjadi bagian bargaining bagi Indonesia di kancah global, baik itu dalam politik dagang, maupun bargaining dalam artian umum,” tegasnya.

Karena itu, Apkasindo menyatakan mendukung langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS demi menjaga ketahanan ekonomi nasional.

“Oleh karena itu kita tetap mendukung kebijakan bapak presiden untuk menormalisasi rupiah terhadap dolar,” pungkasnya.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks