Pencarian

Podcast Kelupas

Traktor Otonom Pemupuk Sawit Lahir dari GRS 2024, Efisiensi Tembus 60 Persen

Selasa, 05 Mei 2026 • 14:37:49 WIB
Traktor Otonom Pemupuk Sawit Lahir dari GRS 2024, Efisiensi Tembus 60 Persen
Traktor Otonom Pemupuk Sawit.

JAKARTA (RA) - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus mendorong lahirnya inovasi di sektor sawit nasional. Lewat program Grant Riset Sawit (GRS) 2024, kolaborasi Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) bersama PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA) berhasil mengembangkan teknologi traktor otonom untuk pemupukan kelapa sawit.

Inovasi bertajuk autonomous intermittent fertilizer spreader ini dirancang khusus untuk meningkatkan efisiensi sekaligus presisi dalam aplikasi pupuk di perkebunan. 

Teknologi tersebut menjadi salah satu jawaban atas tantangan klasik di sektor budidaya sawit, terutama terkait tenaga kerja dan ketepatan distribusi pupuk.

Dalam peluncuran hasil riset, Rahmat Widiana menegaskan pentingnya riset aplikatif bagi industri.

"BPDP melalui program grant riset mendorong lahirnya inovasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga bisa langsung diterapkan di lapangan dan memberi dampak nyata," ujar dalam keterangan resminya yang diterima riauaktual.com, Selasa (5/5/2026).

Berdasarkan uji coba, penggunaan traktor otonom ini mampu meningkatkan efisiensi pemupukan hingga 60 persen dibandingkan metode konvensional. Alat ini bekerja dengan sistem otomatis yang mengatur dosis dan pola sebar pupuk secara presisi.

Tak hanya itu, kapasitas kerja alat juga melonjak signifikan. Jika metode manual hanya mampu menjangkau sekitar 2,8 hektare per hari, teknologi ini mampu menggarap hingga 30 hektare per hari.

Dari sisi biaya, efisiensi juga terlihat jelas. Biaya pemupukan turun dari Rp96.053 menjadi Rp39.500 per hektare. Artinya, ada penghematan sekitar Rp56 ribu per hektare atau setara 60 persen. 

Dalam skala besar, potensi penghematan bahkan bisa mencapai Rp374 juta per tahun, dengan periode balik modal sekitar 1,6 tahun.

Ketua tim riset sekaligus dosen Fakultas Teknologi Pertanian INSTIPER, Rengga, menjelaskan bahwa teknologi ini mengusung sistem intermittent atau pemupukan berselang.

"Pupuk hanya disebarkan di titik tanaman, bukan sepanjang jalur seperti metode konvensional. Ini mengurangi kehilangan pupuk dan membuat penggunaannya lebih tepat sasaran," jelasnya.

Traktor ini mampu beroperasi secara mandiri mengikuti jalur yang telah diprogram. Dengan kapasitas hopper 300 kilogram dan jangkauan sebar 5 hingga 15 meter, alat ini juga kompatibel dengan berbagai jenis pupuk seperti NPK, dolomit, kieserite, hingga rock phosphate.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri menjadi kunci dalam pengembangan teknologi ini. Skema Grant Riset BPDP memungkinkan riset lebih adaptif terhadap kebutuhan di lapangan sekaligus mempercepat hilirisasi inovasi.

Selain meningkatkan efisiensi, penggunaan teknologi ini juga mendukung praktik perkebunan berkelanjutan. Penggunaan pupuk menjadi lebih terukur dan minim pemborosan, sehingga berdampak positif bagi lingkungan.

Ke depan, BPDP berharap semakin banyak inovasi serupa yang lahir dari program riset dan dapat diimplementasikan secara luas di industri sawit nasional.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks