Pencarian

Podcast Kelupas

Sawit Diserang Isu Negatif, CPOPC Bongkar Fakta: Paling Efisien dan Jadi Penopang Dunia

Sabtu, 25 April 2026 • 21:55:12 WIB
Sawit Diserang Isu Negatif, CPOPC Bongkar Fakta: Paling Efisien dan Jadi Penopang Dunia
Wakil Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries, Musdhalifah Machmud.

JAKARTA (RA) – Di tengah derasnya kritik terhadap industri kelapa sawit, fakta justru menunjukkan hal sebaliknya. Komoditas ini dinilai sebagai sumber minyak nabati paling efisien di dunia, bahkan menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan pangan global. 

Hal itu diungkapkan Wakil Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries, Musdhalifah Machmud, dalam forum internasional 1st International Environment Forum 2026. Ia membantah berbagai tudingan negatif terhadap sawit yang dinilai kerap tidak berbasis data. 

"Kelapa sawit memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan global. Sayangnya, banyak tuduhan yang tidak disertai pemahaman utuh," ujar Musdhalifah. 

Data dari World Wide Fund for Nature United Kingdom menunjukkan bahwa perkebunan sawit dunia hanya menggunakan sekitar 6 hingga 11% dari total lahan minyak nabati global. Namun kontribusinya sangat besar. 

Musdhalifah memaparkan, saat ini sawit hanya menggunakan sekitar 28,85 juta hektare lahan, tetapi mampu menghasilkan 80 juta ton minyak nabati. 

"Kontribusi sawit mencapai 34% kebutuhan minyak nabati dunia hanya dari sekitar 7% lahan," jelasnya. 

Sebaliknya, komoditas lain seperti kedelai membutuhkan lahan jauh lebih luas, yakni 100 hingga 200 juta hektare, tetapi hanya menyumbang sekitar 15 sampai 20% produksi global. 

Menurut Musdhalifah, jika produksi sawit digantikan oleh minyak nabati lain, dampaknya akan sangat besar terhadap kebutuhan lahan global. 

"Kalau 80 juta ton itu digantikan, kebutuhan lahannya akan melonjak drastis, bahkan bisa mencapai ratusan juta hektare tambahan," ujarnya. 

Dari sisi produktivitas, sawit juga unggul jauh. Tanaman ini mampu menghasilkan 3 hingga 5 ton minyak per hektare, sementara kedelai hanya sekitar 0,45 ton per hektare. 

Tak hanya untuk kebutuhan pangan, sawit juga berperan penting dalam sektor energi dan industri. Sekitar 50% pemanfaatannya kini mengarah pada energi terbarukan. 

Mulai dari biofuel, bioavtur, hingga limbah sawit seperti POME (Palm Oil Mill Effluent) yang bisa diolah menjadi pupuk alternatif. 

"Kalau dunia masih bergantung pada minyak fosil, Indonesia justru punya kekuatan besar dari sawit," ujarnya. 

Sebagai organisasi yang berdiri sejak 21 November 2015, Council of Palm Oil Producing Countries atau CPOPC, kini beranggotakan negara-negara produsen seperti Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Honduras, hingga Republik Demokratik Kongo. 

CPOPC juga telah menyusun kerangka global keberlanjutan melalui Global Framework of Principles for Sustainable Palm Oil (GFP-SPO), untuk menyelaraskan standar seperti ISPO dan MSPO. 

Selain itu, isu petani kecil (smallholder) menjadi perhatian serius, terutama terkait produktivitas, praktik budidaya, hingga peremajaan tanaman. 

"Kita tidak bisa bergerak sendiri. Kolaborasi antarnegara produsen sangat penting agar sawit tetap menjadi bagian utama sistem pangan dan energi dunia," kata Musdhalifah. 

Meski menghadapi tekanan global, CPOPC optimistis masa depan sawit tetap cerah. Kuncinya adalah pengelolaan berbasis keberlanjutan, kolaborasi internasional, dan penggunaan data yang akurat. 

Dengan segala keunggulannya, sawit dinilai bukan hanya efisien, tetapi juga solusi nyata bagi tantangan pangan dan energi dunia.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks