Pencarian

Podcast Kelupas

BPDP Dukung Program Biodiesel Sawit untuk Ketahanan Energi Nasional

Kamis, 26 Februari 2026 • 15:08:00 WIB
BPDP Dukung Program Biodiesel Sawit untuk Ketahanan Energi Nasional
Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026 yang digelar di Depok, 5-6 Februari 2026.

DEPOK (RA) - Program biodiesel berbasis kelapa sawit terus menunjukkan kontribusi nyata bagi ketahanan energi nasional dan perekonomian Indonesia.

Sejak dijalankan bertahap lebih dari dua dekade terakhir, konsumsi biodiesel melonjak signifikan, menghasilkan penghematan devisa ratusan triliun rupiah serta menekan emisi karbon.

Hal itu mengemuka dalam Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026 bertajuk 'Dukungan Program Biodiesel Bagi Kemandirian Energi dan Perekonomian Indonesia' yang digelar di Depok, 5-6 Februari 2026.

Kegiatan ini didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai bagian dari upaya peningkatan literasi publik terkait program biodiesel nasional.

Pemimpin Redaksi Majalah Sawit Indonesia, Qayuum Amri, menjelaskan riset biodiesel sawit telah dimulai sejak 1990-an dan diperkuat melalui kebijakan mandatori pemerintah sejak 2009.

"Hari ini hasilnya sangat terasa. Konsumsi biodiesel yang pada 2009 baru sekitar 1 juta kiloliter, kini sudah mencapai sekitar 15 juta kiloliter. Artinya naik lebih dari 1.100 persen," ujarnya.

Sepanjang 2015-2025, program biodiesel disebut telah menghemat devisa negara hingga Rp720 triliun dan menurunkan emisi sekitar 228 juta ton CO?.

Menurutnya, capaian tersebut menegaskan bahwa sawit tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga memberi manfaat lingkungan.

Untuk meningkatkan literasi publik, panitia juga menggelar kunjungan lapangan ke SBRC IPB University guna memperkenalkan pengembangan riset produk biofuel kepada para jurnalis.

Perwakilan BPDP, Ahmad Zuhdi, mengatakan lembaganya tidak hanya mendukung insentif biodiesel, tetapi juga pendidikan, riset, dan peremajaan kebun rakyat.

Pada 2025, BPDP menyalurkan sekitar 4.000 beasiswa bagi mahasiswa di seluruh Indonesia serta membiayai penelitian produktivitas sawit dan program peremajaan perkebunan.

Untuk program biodiesel, BPDP menanggung selisih harga antara solar dan biodiesel sebagai insentif. Hingga akhir 2025, dukungan sektor PSO mencapai 6,9 juta kiloliter dengan nilai sekitar Rp35,5 triliun.

"Dana ini berasal dari pungutan ekspor sawit dan dikelola kembali untuk mendukung keberlanjutan industri," jelasnya.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Fadhil Hasan, menegaskan biodiesel kini menjadi bagian penting kebijakan energi lintas sektor.

Pemerintah telah menerbitkan Kebijakan Energi Nasional terbaru melalui PP No. 40 Tahun 2025 untuk menjawab tantangan turunnya produksi minyak dan meningkatnya impor energi.

"Biodiesel berperan strategis dalam swasembada energi. Sawit dan turunannya menjadi sumber energi terbarukan sekaligus mendukung ketahanan pangan," ujarnya.

Sepanjang tahun lalu, realisasi biodiesel tercatat 14,2 juta kiloliter dan mampu mengurangi impor solar sekitar 3,3 juta kiloliter.

Dari sisi teknis, Subkoordinator Pengawasan Usaha Bioenergi Direktorat Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Herbert Wibert Victor, menjelaskan biodiesel didistribusikan melalui skema blending wajib di terminal sebelum disalurkan ke SPBU dan industri.

Untuk 2026, kapasitas terpasang industri biodiesel mencapai 22 juta kiloliter dengan alokasi penyaluran sekitar 16,5 juta kiloliter. Realisasi 2025 telah mencapai hampir 15 juta kiloliter atau sekitar 96 persen dari target.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal APROBI, Ernest Gunawan, menyebut Indonesia kini menjadi salah satu pelaksana program biodiesel terbesar di dunia dan kerap dijadikan rujukan oleh negara lain.

"Kita sering disebut ‘big brother’ biodiesel. Skala kita paling besar di dunia," ujarnya.

Ia menambahkan, implementasi B40 telah melibatkan sekitar 1,9 juta tenaga kerja dari hulu hingga hilir serta menghasilkan penghematan devisa sekitar Rp140 triliun pada 2025.

Industri pun siap menuju B50, meski implementasinya perlu dilakukan hati-hati agar tidak mengganggu pasokan bahan baku dan kebutuhan pangan.

"B40 saat ini sudah ideal dan berkelanjutan. Ke depan kita tetap optimistis, selama kebijakan disiapkan matang bersama sektor hulu," katanya.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks