RIAUAKTUAL (RA) - Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak di zona merah hingga Kamis (19/2) sore.
Berdasarkan data perdagangan CoinMarketCap, harga BTC melemah 1,95% dalam 24 jam terakhir ke level US$ 66.834 atau sekitar Rp 1,12 miliar (asumsi kurs Rp 16.910).
Sebelumnya, BTC sempat menguat ke level US$ 68.332 atau sekitar Rp 1,15 miliar. Pelemahan ini disebut sebagai respons pasar terhadap risalah rapat Federal Reserve (The Fed) yang dinilai lebih agresif (hawkish) dari ekspektasi pelaku pasar.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengatakan nada risalah tersebut membuat investor kembali menghitung ulang peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
"Nada minutes yang hawkish membuat pelaku pasar kembali menghitung ulang peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Ketika ekspektasi pemangkasan mundur, aset berisiko seperti Bitcoin cenderung ikut tertekan," ujar Fyqieh dalam keterangan tertulis yang dilansir dari detik.com, Kamis (19/2/2026).
Dalam risalah rapat The Fed, sejumlah pejabat menilai belum ada urgensi untuk memangkas suku bunga.
Bahkan terdapat pandangan yang membuka kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi AS tetap bertahan di atas 2%. Saat ini, suku bunga acuan ditahan di kisaran 3,5%-3,75% berdasarkan keputusan Federal Open Market Committee (FOMC).
Selain sentimen kebijakan moneter, meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut membebani pergerakan harga BTC.
Lonjakan harga minyak lebih dari 4% akibat eskalasi tersebut membuat pasar cenderung masuk ke mode risk-off.
"Ketika risiko geopolitik naik dan harga minyak melonjak, pasar cenderung masuk mode risk-off. Itu biasanya membuat volatilitas kripto meningkat karena investor mengurangi eksposur," jelasnya.
Di sisi lain, kembalinya likuiditas pasar Asia usai libur Tahun Baru Imlek juga memicu pergerakan harga yang lebih tajam. Peningkatan volume perdagangan dinilai memperbesar tekanan jual dalam jangka pendek.
Secara teknikal, BTC masih berada dalam fase konsolidasi dengan zona support jangka pendek di kisaran US$ 66.200 hingga US$ 67.800.
Selama harga mampu bertahan di area tersebut, peluang penguatan dinilai masih terbuka.
"Jika mampu menembus level tersebut, harga berpotensi menguji area berikutnya di US$ 69.250 hingga US$ 70.800. Namun jika tekanan jual kembali meningkat dan support gagal dipertahankan, risiko koreksi lanjutan tetap ada," tutup Fyqieh.