PEKANBARU (RA) - Pelantikan Supriadi sebagai Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau pada 26 Januari 2026 bukan sekadar rotasi jabatan struktural.
Bagi birokrat berusia 55 tahun ini, amanah tersebut merupakan penanda perjalanan panjang pengabdian, yang dimulai dari rimbun hutan Kalimantan hingga ruang-ruang strategis perencanaan pembangunan daerah di Riau.
Dengan latar belakang kehutanan dan pengalaman lintas sektor selama lebih dari 30 tahun, Supriadi kini dipercaya memimpin sektor perkebunan, bidang yang oleh banyak pihak dinilai sebagai urat nadi ekonomi Riau di masa depan.
Akar Kehidupan: Sentajo dan Nilai Kesederhanaan
Supriadi lahir di Sentajo, Kabupaten Kuantan Singingi, pada Agustus 1971. Ia tumbuh di lingkungan yang membentuk kedekatannya dengan alam sekaligus menanamkan nilai kerja keras dan kesederhanaan, nilai yang masih ia pegang hingga kini.
Di luar perannya sebagai pejabat publik, Supriadi adalah kepala keluarga dengan dua orang anak. Anak pertamanya kini menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya, sementara anak keduanya masih bersekolah di tingkat SMA.
Sang istri, yang memilih berperan sebagai ibu rumah tangga, disebut Supriadi sebagai penopang utama dalam menjalani dinamika karier birokrasi.
Meski kini memimpin Dinas Perkebunan, dunia kehutanan adalah titik awal perjalanan profesional Supriadi. Ia menamatkan pendidikan di Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA) dan lulus pada 1991.
Setahun berselang, 1992, ia diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil dan langsung ditugaskan di Kantor Wilayah Kehutanan Kalimantan Barat.
Lima tahun bertugas di luar daerah menjadi pengalaman awal yang membentuk kedisiplinan dan ketangguhannya sebagai aparatur negara.
Pada 1997, ia kembali ke Riau, bergabung di Kanwil Kehutanan Riau. Di tahun yang sama, Supriadi mengambil langkah penting dengan melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Kehutanan, Bogor, yang diselesaikannya pada 2001.
Namun, perubahan struktur kelembagaan nasional membuat Kanwil Kehutanan dibubarkan. Supriadi pun dipindahtugaskan ke Bappeda Provinsi Riau, sebuah fase baru yang memperluas perspektifnya dari sektor teknis ke perencanaan pembangunan makro.
Hampir 19 tahun Supriadi mengabdi di Bappeda Riau. Kariernya tumbuh secara bertahap. Dari staf, kepala seksi, hingga dipercaya menjabat Kepala Bidang Infrastruktur dan Lingkungan Hidup Bappeda Riau pada 2015.
Pada akhir 2017, ia diangkat sebagai Sekretaris Bappeda Provinsi Riau, posisi strategis yang menempatkannya di pusat pengambilan keputusan perencanaan pembangunan. Kepercayaan pimpinan semakin terlihat ketika pada 2019, Supriadi ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Kepala Bappeda Riau.
Meski sempat menjalani penugasan singkat di Biro Tata Pemerintahan (Tapem) serta UPT Latkesling Dinas Kesehatan, ia kembali ke Bappeda untuk melanjutkan perannya hingga tahun 2020.
Tahun 2020 menjadi titik transisi berikutnya. Supriadi dipindahkan ke Dinas Perkebunan Provinsi Riau dan langsung dipercaya sebagai Sekretaris Dinas. Dengan pengalamannya di perencanaan dan lingkungan, ia dinilai memiliki bekal kuat untuk memperbaiki tata kelola perkebunan.
Beberapa kali ia ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Kepala Dinas, hingga akhirnya pada 26 Januari 2026, ia resmi dilantik sebagai Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau.
"Di akhir masa pengabdian ini, saya bersyukur masih diberi kepercayaan untuk mengabdi," ungkapnya.
Bagi Supriadi, jabatan bukan tujuan akhir. Ia memegang prinsip bahwa kerja maksimal adalah kewajiban, sementara penilaian diserahkan kepada pimpinan.
"Kerja itu seharusnya menjadi bagian dari ibadah," katanya.
Ia menekankan pentingnya kerja tim, koordinasi lintas sektor, dan pelayanan publik yang optimal sebagai fondasi birokrasi yang sehat.
Dalam pandangan Supriadi, sektor perkebunan memiliki peran strategis karena merupakan ruang pemanfaatan lahan terluas di luar kawasan hutan. Tidak hanya menjadi sumber penghidupan petani, perkebunan juga berpotensi besar mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
"Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di Riau hampir semuanya ditopang oleh sektor perkebunan," jelasnya.
Namun, ia juga menyadari tantangan serius berupa isu lingkungan yang kerap melekat pada sektor ini. Oleh karena itu, Supriadi menegaskan bahwa ke depan, orientasi perkebunan harus selaras dengan keberlanjutan dan kelestarian lingkungan.
Dalam kepemimpinannya, Supriadi menetapkan tiga fokus utama. Pertama, pembenahan tata kelola perkebunan sesuai arahan Gubernur Riau.
Kedua, optimalisasi pendanaan non-APBD untuk meningkatkan kesejahteraan pekebun di Riau. Dan ketiga, peningkatan kontribusi sektor perkebunan terhadap pembangunan daerah.
Menurutnya, keberhasilan agenda tersebut tidak mungkin dicapai tanpa kolaborasi seluruh pemangku kepentingan—pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, akademisi, serta masyarakat.
"Kalau perkebunan adalah penopang utama ekonomi Riau, maka sudah seharusnya kita rawat bersama," tegas Supriadi.
Dengan bekal pengalaman lintas sektor dan prinsip kerja yang membumi, Supriadi menatap kepemimpinannya di Dinas Perkebunan sebagai ruang pengabdian terakhir yang bermakna.
Dia berharap sektor perkebunan Riau tidak lagi sekadar dilihat sebagai mesin ekonomi, tetapi juga sebagai sektor yang adil, berkelanjutan, dan memberi manfaat luas bagi daerah dan masyarakat.
Podcast Kelupas
YouTube
Jejak Pengabdian Supriadi: Dari Rimba Kehutanan ke Nakhoda Perkebunan Riau
Selasa, 10 Februari 2026 • 07:04:00 WIB
Bagikan
Berita Lainnya
IndeksVideo
IndeksBerita Terkini
Indeks