PEKANBARU (RA) - Aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur Riau, Pekanbaru, memanas pada Senin (26/10/2026). Massa dari PW KAMMI Riau, BEM Universitas Islam Riau (UIR), dan BEM Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) menolak menemui perwakilan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau dan bersikeras meminta Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, hadir temui pendemo.
Ketegangan terjadi ketika perwakilan Pemprov Riau mendatangi massa untuk menerima aspirasi. Mahasiswa menolak pertemuan tersebut karena ingin menyampaikan tuntutan langsung kepada SF Hariyanto.
Situasi semakin memanas setelah seorang mahasiswa dilaporkan nyaris meludahi perwakilan Pemprov Riau. Dalam orasinya, massa menegaskan tidak bersedia menemui pihak lain selain Plt Gubernur Riau.
"Selain Plt Gubernur, maka akan kami ludahi. Kami tidak terima perwakilan mana pun atau siapa pun selain orang nomor satu di Provinsi Riau, yaitu SF Hariyanto. Kami tidak membutuhkan yang lain," tegas M Rivaldo, selaku koordinator lapangan KAMMI.
Penolakan terhadap perwakilan Pemprov Riau juga dipicu kekecewaan mahasiswa yang menagih janji Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, yang disebut akan mempertemukan mereka dengan SF Hariyanto.
Koordinator lapangan BEM UIR, M. Rahamdhanu Hasibuan, sebelumnya mempertanyakan komitmen pemerintah daerah dalam menanggapi aspirasi mahasiswa.
Dalam aksi tersebut, Ridho yang disebut sebagai koordinator lapangan BEM UIR juga menyampaikan kekecewaan terhadap sulitnya mahasiswa bertemu langsung dengan Plt Gubernur Riau. Ia turut menyinggung latar belakang SF Hariyanto yang merupakan alumni Universitas Islam Riau.
Mahasiswa menilai pemerintah daerah perlu memberikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.
Dalam demonstrasi tersebut, mahasiswa dari KAMMI, BEM UIR, dan BEM UMRI menyuarakan sejumlah tuntutan terkait persoalan lingkungan dan kehutanan.
Tuntutan itu meliputi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), penyelesaian persoalan kabut asap lintas provinsi, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan, hingga desakan pencopotan Menteri Kehutanan.
Hingga aksi berlangsung, mahasiswa tetap mendesak agar SF Hariyanto hadir menemui mereka secara langsung untuk mendengarkan aspirasi yang disampaikan.
Ketegangan di depan Kantor Gubernur Riau melibatkan massa aksi dan perwakilan pemerintah. Mahasiswa tetap bertahan menyuarakan tuntutan mereka agar mendapat tanggapan langsung dari pimpinan Pemprov Riau. Hingga akhirnya mahasiswa mulai membubarkan diri secara teratur.