PEKANBARU (RA) - Pernahkah kita tahu, bahwa Kota Pekanbaru di Provinsi Riau pernah memiliki jalur kereta api.
Namun sejarah itu bukanlah kisah kejayaan transportasi seperti di Pulau Jawa, melainkan cerita kelam tentang perang, kerja paksa, dan ribuan nyawa yang hilang di tengah hutan Sumatera.
Di balik hiruk-pikuk Kota Pekanbaru yang modern, tersimpan jejak kelam sejarah rel kereta api yang pernah dibangun Jepang pada masa Perang Dunia II. Jalur itu dikenal sebagai Pekanbaru Death Railway atau Rel Kereta Api Maut Pekanbaru.
Awal Mula Jalur Kereta Api di Pekanbaru
Pada tahun 1943, Jepang mulai membangun jalur kereta api sepanjang sekitar 220 kilometer yang menghubungkan Muaro Sijunjung di Sumatera Barat menuju Pekanbaru di Riau.
Jalur ini dibuat untuk kepentingan perang Jepang, terutama mengangkut batu bara dan logistik militer menuju pesisir timur Sumatra.
Namun proyek besar itu dibangun dengan cara yang sangat kejam. Jepang memaksa puluhan ribu pekerja romusha Indonesia serta tawanan perang Sekutu bekerja di tengah hutan belantara, rawa gambut, dan perbukitan Sumatera tanpa makanan dan fasilitas memadai.
Foto istimewa.
Banyak pekerja meninggal akibat kelaparan, malaria, disentri, hingga penyiksaan. Karena tingginya angka kematian itulah jalur ini kemudian dikenal sebagai jalur kereta api maut.
Menembus Hutan dan Rawa Gambut Riau
Pembangunan rel kereta api menuju Pekanbaru menjadi salah satu proyek tersulit Jepang di Asia Tenggara.
Jalur rel harus melewati hutan lebat, sungai besar, dan rawa gambut yang labil.
Di kawasan rawa dekat Pekanbaru, Jepang menggunakan teknik ‘corduroy’, yakni menyusun ribuan batang kayu di atas lumpur gambut agar rel dapat berdiri. Banyak pekerja romusha dikabarkan tertimbun hidup-hidup di area rawa selama pembangunan berlangsung.
Rel ini membentang dari Muaro, Logas, Lipat Kain, hingga mencapai Pekanbaru di tepian Sungai Jantan. Jalur tersebut selesai tepat menjelang Jepang menyerah kepada Sekutu pada tahun 1945.
Ironisnya, rel yang dibangun dengan pengorbanan ribuan nyawa itu hampir tidak pernah digunakan secara maksimal untuk kepentingan perang Jepang.
Simpang Tiga Adalah Titik Penting Jalur Kereta Api
Kawasan Simpang Tiga di Pekanbaru menjadi salah satu pusat penting pembangunan jalur ini. Di daerah tersebut dahulu berdiri kamp pekerja romusha dan pusat logistik Jepang.
Kini di kawasan itu masih terdapat monumen lokomotif tua sebagai pengingat sejarah kelam pembangunan rel kereta api di Pekanbaru.
Foto istimewa.
Selain monumen lokomotif, terdapat pula Makam Pahlawan Kerja yang menjadi simbol penghormatan bagi para romusha dan korban pembangunan rel maut tersebut.
Jejak Rel yang Perlahan Hilang
Setelah perang berakhir, jalur kereta api Muaro-Pekanbaru perlahan ditinggalkan. Banyak rel besi dibongkar masyarakat untuk kebutuhan pembangunan, sementara sebagian lainnya hilang ditelan hutan dan rawa.
Kini sebagian besar generasi muda di Pekanbaru bahkan tidak mengetahui bahwa kota mereka pernah memiliki sejarah perkeretaapian.
Di berbagai forum dan komunitas sejarah Indonesia, banyak masyarakat menilai jalur Muaro-Pekanbaru sebagai salah satu sejarah paling tragis namun paling terlupakan di Sumatera.
Warisan Sejarah yang Tidak Boleh Hilang
Hari ini, Pekanbaru tumbuh menjadi kota modern. Namun sejarah rel kereta api maut tetap menjadi bagian penting dari identitas kota yang tidak boleh dilupakan.
Rel itu bukan sekadar jalur transportasi lama, melainkan simbol penderitaan ribuan romusha Indonesia yang dipaksa bekerja demi ambisi perang Jepang.
Jejak sejarah tersebut mengingatkan bahwa di balik pembangunan dan kemajuan sebuah kota, pernah ada pengorbanan manusia yang luar biasa besar.
Karena itu, monumen lokomotif, Makam Pahlawan Kerja, dan sisa-sisa jalur rel tua di Riau seharusnya dijaga sebagai pengingat sejarah bagi generasi mendatang, agar tragedi kemanusiaan seperti itu tidak pernah terulang Kembali.