KAMPAR (RA) – Inovasi membanggakan datang dari mahasiswa Politeknik Kampar. Melalui kegiatan praktikum, mahasiswa berhasil memproduksi biodiesel B100 dengan bahan baku 100 persen Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata penguatan hilirisasi sawit berbasis pendidikan vokasi.
Dosen Program Studi Teknik Pengolahan Sawit sekaligus Wakil Direktur II Politeknik Kampar, Nur Asma Deli, ST., MSi, menjelaskan bahwa praktik pembuatan biodiesel ini telah menjadi bagian penting dalam kurikulum, khususnya bagi mahasiswa tingkat dua.
"Praktikum biodiesel ini memang diberikan kepada mahasiswa tingkat dua. Bahkan sejak Politeknik Kampar berdiri pada tahun 2008, kegiatan ini sudah rutin dilakukan sebagai bagian dari pembelajaran," ujar Asma kepada riauaktual.com, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, seluruh proses dilakukan dalam skala laboratorium dengan bahan baku utama minyak sawit mentah (CPO). Tidak hanya memproduksi, mahasiswa juga dibekali kemampuan untuk menguji kualitas biodiesel yang dihasilkan sesuai standar yang berlaku.
"Setelah biodiesel terbentuk, mahasiswa tidak berhenti sampai di situ. Mereka juga melakukan pengujian kualitas seperti densitas, viskositas, bilangan asam, hingga kadar air di laboratorium sesuai prosedur SNI," jelasnya.
Nur Asma menambahkan, metode yang digunakan dalam praktikum masih menggunakan proses konvensional, yakni kombinasi katalis asam dan basa. Meski sederhana, metode ini dinilai efektif untuk memberikan pemahaman dasar yang kuat kepada mahasiswa.
Dia juga menjelaskan bagiamana proses pembuatan biodiesel itu. Dalam praktikum tersebut, mahasiswa mengikuti serangkaian tahapan ilmiah yang sistematis.
Dimulai dari persiapan bahan baku, di mana CPO terlebih dahulu disaring untuk menghilangkan kotoran. Jika kadar asam lemak bebas (FFA) tinggi, dilakukan proses esterifikasi awal menggunakan katalis asam seperti H?SO?.
Selanjutnya, pada tahap esterifikasi, minyak direaksikan dengan metanol untuk menurunkan kadar FFA. Setelah itu, masuk ke tahap inti yakni transesterifikasi, di mana trigliserida dalam minyak diubah menjadi biodiesel (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) dan gliserol sebagai produk samping menggunakan katalis basa seperti NaOH atau KOH.
Hasil reaksi kemudian didiamkan hingga terbentuk dua lapisan, yaitu biodiesel di bagian atas dan gliserol di bagian bawah. Setelah dipisahkan, biodiesel dicuci menggunakan air hangat untuk menghilangkan sisa katalis, metanol, dan sabun.
"Tahap akhir adalah pengeringan, yakni pemanasan ringan untuk menghilangkan sisa air hingga diperoleh biodiesel B100 yang siap diuji kualitasnya," jelasnya.
Nur Asma menegaskan, praktikum ini bukan sekadar kegiatan akademik, tetapi juga menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk terjun ke industri pengolahan sawit.
"Mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi benar-benar praktik langsung dari hulu ke hilir. Ini penting agar mereka siap masuk ke dunia industri, khususnya di sektor energi terbarukan berbasis sawit," katanya.
Ia berharap, melalui kegiatan ini, lulusan Politeknik Kampar mampu menjadi tenaga terampil yang mendukung pengembangan biodiesel untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia.