Yuan Makin Menguat, Disebut Jadi Masa Depan Pembiayaan Global Saingi Dolar AS

Ahad, 05 April 2026 | 07:48:03 WIB
Ilustrasi. (Istockphoto/honglouwawa).

JAKARTA (RA) – Mata uang China, yuan, semakin menunjukkan peran strategis dalam sistem keuangan global. Bank Pembangunan BRICS atau New Development Bank (NDB) bahkan menyebut yuan sebagai masa depan pembiayaan berbasis mata uang lokal.

Pernyataan ini muncul di tengah tren negara-negara berkembang yang mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Direktur Jenderal Treasury dan Manajemen Portofolio NDB, Zhongxia Jin, mengatakan pihaknya tidak hanya melihat pasar obligasi China sebagai sumber pembiayaan murah, tetapi juga sebagai arah baru sistem keuangan global.

"Kami melihat ini sebagai masa depan keuangan berbasis mata uang lokal," ujarnya dikutip dari The Hindu Business Line.

Penguatan yuan terlihat dari lonjakan transaksi lintas batas, khususnya antara China dan negara-negara ASEAN. Pada 2024, nilainya mencapai 8,9 triliun yuan atau sekitar USD1,3 triliun.

Angka tersebut meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan percepatan penggunaan yuan dalam perdagangan dan investasi internasional.

Dari total transaksi tersebut, sekitar 2,4 triliun yuan berasal dari perdagangan barang, sementara 900 miliar yuan berasal dari investasi langsung.

Selain itu, semakin banyak bank sentral di dunia mulai memasukkan yuan dalam cadangan devisa. Saat ini, tercatat sebanyak 23 negara telah melakukannya.

Data dari People's Bank of China juga menunjukkan pembayaran dan penerimaan lintas batas menggunakan yuan meningkat 21,1 persen dalam delapan bulan pertama 2024, mencapai 41,6 triliun yuan.

NDB sendiri terus mendorong penggunaan yuan melalui penerbitan obligasi. Sepanjang 2025, lembaga ini menerbitkan obligasi berdenominasi yuan senilai 25 miliar yuan, menjadi yang terbesar sejak 2016.

Sementara itu, tren pengurangan dominasi dolar juga terlihat di Brasil. Porsi aset dalam dolar AS di cadangan devisa negara tersebut turun menjadi 72 persen pada akhir 2025, dari sebelumnya 78,45 persen.

Meski sempat mendapat tekanan, termasuk ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump, tren dedolarisasi dinilai tetap berlanjut.

Sejumlah analis menilai pergeseran ini bersifat jangka panjang, seiring meningkatnya peran ekonomi negara berkembang dan munculnya alternatif sistem keuangan global.

 
 

Terkini

Terpopuler