Pencarian

Podcast Kelupas

Sawit Dicap Rakus Air? Petani di Riau Ini Buktikan Justru Sebaliknya

Ahad, 05 April 2026 • 18:02:00 WIB
Sawit Dicap Rakus Air? Petani di Riau Ini Buktikan Justru Sebaliknya
Lobang galian berisi air yang dibuat oleh petani sawit di Riau, Hendri Cen di dalam perkebunan sawitnya.(Istimewa)

PEKANBARU (RA) – Isu kelapa sawit sebagai tanaman "rakus air" kembali dipertanyakan. Di tengah tudingan dari berbagai pihak, pengalaman langsung petani di lapangan justru menunjukkan fakta yang berbeda. 

Adalah Hendri Cen, petani sawit asal Pulau Birandang, Kecamatan Kampar Timur, Kabupaten Kampar, Riau, yang angkat bicara. Ia mengaku geram dengan anggapan bahwa sawit membuat lahan jadi kering dan tandus. 

"Di kebun saya malah airnya melimpah," kata Bendahara DPP Asosiasi Sawitku Masa Depanku (SAMADE) ini kepada riauaktual.com, Minggu (5/4/2026). 

Cerita ini bukan sekadar klaim. Hendri membuktikannya saat melakukan peremajaan tanaman sawit beberapa waktu lalu. Saat itu, ia menggali lahan untuk mencari sumber air guna menyiram bibit baru. 

Awalnya, ia memperkirakan butuh beberapa kali galian karena lokasi kebunnya berada di dataran yang agak tinggi. Namun hasilnya di luar dugaan. 

"Baru sekali gali, kedalaman sekitar 6 sampai 7 meter, air sudah keluar," ujarnya. 

Yang lebih mengejutkan, volume air terus bertambah. Bahkan keesokan harinya, ketinggian air di lubang galian itu meningkat hingga sekitar tiga meter. 

"Kalau benar sawit itu rakus air, harusnya kebun saya sudah kering. Tapi ini malah airnya nambah terus," tambahnya. 

Temuan Hendri sejalan dengan hasil penelitian ilmiah. Studi yang dilakukan oleh Winnie Gerbens-Leenes dari University of Groningen, Belanda, mengkaji kebutuhan air berbagai tanaman penghasil bioenergi. 

Studi ini juga dipublikasikan oleh Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) melalui Palm Journal berjudul Kebun Kelapa Sawit; Hemat Air dan Lestarikan Cadangan Air Tanah. 

Hasil studi itu menunjukkan, kelapa sawit termasuk yang relatif hemat air. Untuk menghasilkan satu gigajoule energi, sawit hanya membutuhkan sekitar 75 m³ air. 

Angka itu lebih rendah dibandingkan beberapa tanaman lain seperti kanola 184 m³, kelapa 126 m³, ubi kayu 118 m³, jagung 105 m³ dan kedelai 100 m³. 

Bahkan dalam konteks tanaman hutan, kebutuhan air sawit juga tergolong moderat. Sawit membutuhkan sekitar 1.104 mm air per tahun, lebih rendah dibanding bambu sekitar 3.000 mm per tahun, akasia 2.400 mm per tahun, hingga sengon 2.300 mm per tahun. 

"Sebenarnya kebutuhan air untuk berbagai tanaman sudah lama diteliti oleh para ahli. Salah satunya adalah Coster (1938). Dia memakai indikator evapotranspirasi tanaman," ujar Direktur Eksekutif PASPI, Dr Tungkot Sipayung, dalam jurnal itu. 

Data global juga menunjukkan bahwa luas perkebunan sawit masih lebih kecil dibanding beberapa komoditas lain. Berdasarkan data USDA dan Oil World 2021, luas kebun kedelai dunia mencapai 127 juta hektare dan kanola 35,5 juta hektare. 

Sementara itu, kebun kelapa sawit tercatat hanya sekitar 24 juta hektare. 

Kasus yang dialami Hendri menunjukkan bahwa tidak semua isu tentang sawit sesuai fakta di lapangan. Ia berharap masyarakat lebih kritis dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum tentu benar. 

"Yang penting kita lihat fakta di lapangan dan data ilmiah, jangan langsung percaya isu," tutup Hendri.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks