JAKARTA (RA) - Pemerintah Indonesia mulai memperkuat pijakan dagang di pasar Rusia sebagai langkah menjaga posisi komoditas nasional, terutama minyak kelapa sawit, di tengah ketidakpastian perdagangan global.
Upaya itu dilakukan melalui penguatan hubungan bilateral dan percepatan kerja sama ekonomi dengan kawasan Eurasia. Rusia dinilai menjadi salah satu pasar potensial bagi produk unggulan Indonesia, mulai dari sawit, kopi, hingga kakao.
Dilansir dari haisawit.co.id, Jumat (22/5/2026), nilai perdagangan Indonesia dengan Rusia sepanjang 2025 mencapai US$4,8 miliar atau tumbuh 21,7 persen dibanding tahun sebelumnya.
Tak hanya itu, Rusia juga tercatat sebagai mitra dagang terbesar Indonesia di kawasan Eurasian Economic Union (EAEU) dengan kontribusi mencapai 90,6 persen dari total perdagangan Indonesia di kawasan tersebut.
Hubungan dagang kedua negara selama ini berjalan saling melengkapi. Rusia memasok batu bara, pupuk, hingga baja untuk kebutuhan industri dan pembangunan Indonesia. Sementara Indonesia mengandalkan ekspor minyak sawit, kopi, produk kelapa, serta kakao ke pasar Rusia.
Wakil Menteri Perdagangan RI, Roro Esti Widya Putri, mengatakan pemerintah menyambut positif meningkatnya permintaan pasar Rusia terhadap produk nasional.
“Indonesia menyambut baik meningkatnya kepercayaan pasar Rusia terhadap berbagai produk unggulan nasional. Kami berkomitmen menjaga kualitas, daya saing, dan keberlanjutan produk ekspor Indonesia di pasar Rusia,” ujar Roro Esti.
Di sisi lain, pemerintah juga tengah mendorong percepatan ratifikasi Indonesia-EAEU Free Trade Agreement (FTA). Perjanjian dagang bebas tersebut ditargetkan mulai berlaku efektif pada kuartal III atau IV tahun 2026.
Pemerintah berharap implementasi FTA mampu membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia di kawasan Eurasia.
Untuk mendukung implementasi kerja sama tersebut, muncul rencana pembentukan Indonesia-EAEU Business Council (IEBC) yang akan melibatkan Kamar Dagang dan Industri Indonesia atau Kadin Indonesia.
Menurut Roro Esti, pembentukan dewan bisnis itu diharapkan menjadi jembatan baru bagi pelaku usaha kedua negara.
“Pembentukan Indonesia-EAEU Business Council diharapkan dapat menjadi katalis dalam memperkuat hubungan antarpelaku usaha, memperluas peluang investasi, serta mendorong peningkatan perdagangan kedua negara,” katanya.
Tak hanya fokus pada perdagangan komoditas, Indonesia dan Rusia juga mulai menjajaki peluang kerja sama di sektor jasa dan teknologi. Beberapa sektor yang mulai dibidik antara lain teknologi informasi, konstruksi, pariwisata, perhotelan, hingga pengembangan teknologi digital.
Pemerintah Indonesia pun mengundang pelaku usaha Rusia untuk ikut berpartisipasi dalam agenda Trade Expo Indonesia 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 14-18 Oktober 2026 di Provinsi Banten.
“Trade Expo Indonesia menjadi momentum penting untuk mempertemukan pelaku usaha kedua negara dan membuka peluang kerja sama baru di bidang perdagangan maupun investasi,” tutup Roro Esti